Senin, 25 September 2023

Prospek Ekonomi Global yang Memburuk, Dorong Emas dan Dolar Bergerak Searah

 Lagi-lagi harga emas dan dolar AS bergerak searah, sama-sama diuntungkan ditengah kekhawatiran global tentang perlambatan ekonomi global setelah serangkaian laporan Manufaktur PMI global dirilis melambat - bertahan dibawah level 50 dan merespon pelemahan Yen Jepang setelah Bank Sentral Jepang menetapakan suku bunga acuan bank sentral tetap pada suku bunga 'Negatif'.

Berikut adalah serangkaian laporang Manufaktur PMI global, diantaranya :

• JPY au Jibun Bank Japan Manufacturing PMI (Sep), 48.6 (A) vs. 49.9 (F) vs. 49.6 (P)
• JPY au Jibun Bank Japan Services PMI, 53.3 (A) vs. 54.3 (P)
• EU HCOB Eurozone Manufacturing PMI (Sep), 43.4 (A) vs. 44.0 (F) vs. 43.5 (P)
• EU HCOB Eurozone Services PMI (Sep), 48.4 (A) vs. 47.5 (F) vs. 47.9 (P)
• GBP S&P Global/CIPS UK Manufacturing PMI, 44.2 (A) vs. 43.0 (F) vs. 43.0 (P)
• GBP S&P Global/CIPS UK Services PMI, 47.2 (A) vs. 49.0 (F) vs. 49.5 (P)
• US S&P Global US Manufacturing PMI (Sep), 48.9 (A) vs. 47.9 (F) vs. 47.9 (P)
• US S&P Global Services PMI (Sep), 50.2 (A) vs. 50.3 (F) vs. 50.5 (P)

Harga emas menguat setelah mencatatkan kerugian selama tiga hari berturut-turut sejak pertemuan Federal Reserves AS dan Bank Sentral Inggris mempertahankan suku bunga tidak berubah untuk pertama kalinya sejak kenaikan beruntun dalam dua tahun terakhir.

Dipasar spot, harga emas naik sebanyak $5.31 atau 0.28% berakhir pada level $1,924.83 per ons, setelah capai tertinggi $1,928 dan terendah $1,919 dan mencatatkan kenaikan kurang dari 0.1% dalam seminggu terakhir. 

Emas berjangka kontrak Desember berakhir menguat sebanyak $6.0 atau 0.31% pada level $1,945.0 per ons, turun 0.02% dalam sejak seminggu lalu.

Dolar

Indeks Dolar AS diperdagangkan menguat selama sesi perdagangan Amerika setelah serangkaian data ekonomi global yang menggambarkan aktivitas bisnis global terkini, menekankan posisi ekonomi Amerika Serikat yang lebih kuat dibandingkan negara-negara besar lainnya.

Hingga akhir perdagangan JUmat (22/9), Dolar ditutup menguat sekitar 23 poin atau 0.22% pada level 105.61 - menandai penutupan tertinggi sejak 8 Maret, setelah capai tertinggi 105.79 dan terendah 105.32.

Pasangan GBP/USD terus mencatatkan kerugian tajam terlebih setelah BOE menghentikan siklus kenaikan suku bunganya, memperpanjang trend penurunan sejak Juli. GBP/USD berakhir melemah sebanyak 58 poin atau 0.47% pada level 1.22365, setelah capai tertinggi 1.22967 dan terendah 1.22300. Pound turun lebih dari 1% dalam seminggu terakhir terhadap Dolar.

EUR/USD berakhir melemah sebanyak 16 poin atau 0.15% pada level 1.06429 menyusul data ekonomi Eropa yang menunjukkan kontraksi dalam aktivitas bisnis negara-negara anggota. Data paling mencolok ditunjukkan oleh dua negara dengan perekonomian terbesar zona euro, yakni Perancis dan Jerman. 

Terlihat bahwa PMI Perancis untuk sektor jasa turun ke level terendah dalam 34 bulan pada bulan September, jauh di bawah perkiraan, sedangkan PMI Jerman naik menjadi 46,2 tetapi di bawah perkiraan para ekonom sebesar 47,2.

Sementara itu, Yen Jepang mencatatkan pelemahan terbesar terhadap Dolar AS menyusul pengumuman BoJ dan data ekonomi AS yang kuat diantara negara-negara lainnya. USD/JPY ditutup naik sebanyak 80 poin atau 0.54% pada level 148.353 - menandai penutupan tertinggi sejak akhir Oktober.

Saham & Obligasi

Pasar saham Eropa dan Amerika berakhir melemah ditengah kegelisahan Investor yang bergulat dengan antisipasi suku bunga global yang tetap tinggi untuk jangka waktu yang lama.

Di Eropa Indeks DAX 30 Jerman berakhir melemah sekitar 0.09% dan Indeks CAC 40 Prancis turun sebanyak 0.40%. Masing-masing turun sebanyak 2.12% dan 2.63% dalam seminggu terakhir.

Di Amerika, Indeks utama Dow Jones berakhir melemah sebanyak 106.58 poin atau 0.31%. Indeks S&P 500 turun sebanyak 0.23% pada level 4,320.06. Sementara Indeks Nasdaq turun 0.09% pada level 13,211.81.

Sentimen

Selama sesi perdagangan awal pekan ini, fokus utama pasar global akan tertuju pada pergerakkan Dolar sebagai tolak ukur pertukaran di Dunia karena tidak adanya data ekonomi dengan bobot yang cukup besar. Hingga sepekan kedepan, pasar akan memperhatikan laporan Inflasi inti dan GDP AS, dan laporan Inflasi Eropa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar