Kamis, 14 September 2023

Emas 'Selamat' dari Tekanan Inflasi, Bertahan di atas $1.900

 

Harga emas turun pada hari Rabu (13/09) tetapi bertahan di atas support kunci $1.900 setelah data menunjukkan inflasi AS tumbuh dua bulan berturut-turut. Ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi Federal Reserve tetapi analis mengatakan cukup untuk secara drastis mengubah pandangan bank sentral mengenai suku bunga.

Emas berjangka yang paling aktif di Comex New York, Desember, berakhir turun 0,22% di $1.930,90/oz di sesi Rabu (13/09).

Harga emas spot, yang lebih banyak diikuti daripada kontrak futures oleh sebagian traders, juga turun 0,22% di $1.909,06. Di awal sesi, emas spot turun ke titik terendah $1.905.88 - kurang $5 dari level $1.800.

"Bulls emas telah mencegah penurunan langsung ke harga di bawah $1.900," ungkap Sunil Kumar Dixit, seorang chartist emas spot di SKCharting.com. "Tantangan utama bagi bulls adalah merebut kembali Exponential Moving Average 50 hari di $1.928, yang merupakan titik balik momentum."

Emas turun saat harga konsumen AS, yang dipicu oleh naiknya harga bahan bakar, meningkat dua bulan berturut-turut untuk mencapai pertumbuhan year-on-year sebesar 3,7%, menurut data Departemen Tenaga Kerja hari Rabu yang memberikan tekanan baru bagi para pejuang inflasi di Federal Reserve.

"Perdagangan emas mencerna laporan inflasi ini dan mulai melihat adanya celah dalam perekonomian," Ed Moya, analis di platform perdagangan online OANDA, mengatakan.

"Paling banter, emas kemungkinan harus menghadapi satu kali lagi kenaikan suku bunga Fed di bulan November, tetapi jelas bahwa ekonomi akan terus melemah ke depannya. Berita ekonomi yang buruk akan menjadi berita baik lagi untuk emas. Wall Street semakin dekat untuk menempatkan puncaknya bagi Dolar."

Inflasi utama AS, yang diukur oleh Indeks Harga Konsumen, atau IHK, mencapai level tertinggi selama 40 tahun lebih dari 9% pada Juni 2022 lalu sebelum turun ke level terendah 3,0% pada Juni tahun lalu. Sejak itu, inflasi terus meningkat, menambahkan 0,7% selama dua bulan terakhir, lantaran harga minyak global yang tinggi meningkatkan biaya bahan bakar di dalam negeri.

"Selama 12 bulan terakhir, indeks semua item naik 3,7% sebelum penyesuaian musiman," Departemen Tenaga Kerja menyatakan dalam sebuah rilis berita. "Indeks untuk bensin merupakan kontributor terbesar untuk peningkatan semua item bulanan, terhitung lebih dari setengah kenaikan."

Fed kemungkinan tidak akan membuat perubahan dalam keputusan suku bunga minggu depan

Untuk memerangi inflasi, The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 5,25% dari basis 0,25% pada Maret 2022. The Fed dijadwalkan untuk memutuskan suku bunga dalam rapat kebijakan berikutnya pada 20 September.

Proyeksi ekonom setelah rilis data IHK terbaru menyarankan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah setelah kenaikan 25 basis poin di bulan Juli. Namun, para ekonom berpendapat bahwa bank sentral akan memilih setidaknya satu kali kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun, baik dalam rapat kebijakan bulan November atau pertemuan di bulan Desember.

Setelah rilis data IHK, "peluang kenaikan pada bulan September turun menjadi 5%, namun untuk bulan Desember tetap stabil di angka 53%," ujar ekonom Adam Button di forum ForexLive.

Tingginya harga minyak dunia, dan dampaknya pada biaya bensin di stasiun bensin AS, dapat mendorong the Fed untuk kembali bertindak agresif dengan kenaikan suku bunga, karena bank sentral tampaknya berniat untuk membiarkan kenaikan suku bunga yang telah dinaikkan selama 18 bulan terakhir untuk menurunkan inflasi.

Harga minyak global Brent mencapai level tertinggi dalam 10 bulan terakhir di $92,83 Dan $89,64 untuk minyak WTI AS pada hari Rabu, merespons pembatasan produksi oleh eksportir-eksportir minyak mentah utama, yaitu Arab Saudi dan Rusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar