Senin, 12 November 2018

SOLID GOLD | Pemerintah dan Investor Bahas Strategi Pembangunan Infrastruktur

Pemerintah dan Investor Bahas Strategi Pembangunan Infrastruktur
SOLID GOLD MAKASSAR - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan PT Bank HSBC Indonesia bekerja sama untuk menyelenggarakan Infrastructure Forum. Kerja sama kedua pihak ini bertujuan untuk mendorong pembangunan proyek infrastruktur di Indonesia.

Forum ini merupakan Parallel Events dari IMF-WB Annual Meetings (AM) 2018 yang digelar di Ayana Resorts, Jimbaran, Bali.Sekitar 400 peserta yang terdiri dari investor, corporate banking clients, private banking consumers dan fund management companies menghadiri forum ini.

Pembangunan infrastruktur yang menjadi fokus pembahasan pada forum ini merupakan upaya dalam merealisasikan visi Pemerintah Indonesia menjadi negara ekonomi terbesar ke-4 di dunia pada 2045.


Forum ini pun menjadi wadah untuk pemerintah dan para investor agar dapat berkomunikasi terkait berbagai peluang investasi infrastruktur di Indonesia.

"Infrastructure Forum ini merupakan forum komunikasi antara pemerintah dengan para investor dalam dan luar negeri, baik di sektor infrastruktur maupun keuangan dan lembaga perbankan, mengenai peluang pengembangan sektor infrastruktur di Indonesia serta perkembangan-perkembangan terkini dalam skema pendanaan infrastruktur," jelas Kepala BKPM Thomas Lembong dalam keterangan tertulis, Jumat (19/10/2018). 

BKPM-HSBC Infrastructure Forum terdiri dari dua panel. Panel pertama yang berjudul 'Towards Indonesia 2045' menghadirkan Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen, dan ekonom serta mantan Menteri Keuangan Chatib Basri.


Sementara panel kedua yang berjudul 'Realising Indonesia's Growth Ambition' menghadirkan Presiden Direktur Pelindo II Elvyn G. Masassya, Head of Infrastructure Advisory Global Transport and Logistic Industry Leader Price Waterhouse Coopers Indonesia Julian Smith, Direktur Pengembangan Proyek dan Jasa Konsultasi PT Sarana Multi Infrastruktur Darwin Trisna Djajawinata, serta Chief Financial Official Power China International Ltd. Tianfu Yang. 

Bukan hanya itu, forum ini juga diisi dengan High Tea Event pada Infrastructure Forum antara Kepala BKPM Thomas Lembong dengan lima perusahaan dari berbagai negara, seperti China, Hongkong, Belanda, dan Malaysia.

Kelima perusahaan tersebut memiliki nilai investasi mencapai USD 31,4 miliar untuk sektor infrastruktur yang meliputi bidang power plant, pelabuhan, konstruksi, dan logistik.

Lembong menjelaskan bahwa diperlukan konsolidasi dan koordinasi yang kuat antara moneter, fiskal, dan dunia usaha untuk mewujudkan pembangunan nasional sesuai arahan Presiden Joko Widodo.

Ia juga menyampaikan perlu adanya pembangunan infrastruktur yang mengedepankan aspek disaster preparedness. Sebab, Indonesia baru saja diterpa berbagai musibah bencana alam seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah.


Menurutnya, mayoritas infrastruktur vital di daerah-daerah tersebut seperti bandara, gardu listrik, pelabuhan, dan menara telekomunikasi, mengalami kerusakan yang cukup parah.

Lembong pun berharap forum tersebut dapat dimaksimalkan untuk mendiskusikan strategi dalam mewujudkan pembangunan infrastruktur yang jauh lebih baik.

"Kiranya forum ini dapat kita optimalkan untuk mendiskuksikan strategi mewujudkan pembangunan infrastruktur yang lebih baik dan tahan dari terpaan bencana. Selain itu, dari segi finansial, bagaimana penerapan manajemen risiko bencana dan inovasi-inovasi finansial lainnya yang dapat diterapkan untuk kesiapan menghadapi bencana," jelas Lembong. 

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia Sumit Dutta juga ikut berperan dalam menghubungkan nasabah global HSBC. Sehingga nasabah bisa ikut berperan dalam membangun infrastruktur Indonesia.


"Dalam rangka realisasi rancangan pembangunan infrastruktur Indonesia, pemerintah, dan pihak swasta membutuhkan skema pembiayaan yang baik dan solutif demi menunjang keberlanjutan pembangunan proyek infrastruktur di masa mendatang, salah satunya adalah melalui investasi di proyek pembangunan infrastruktur ini," jelas Sumit. 

Dalam kesempatan yang sama, Deputy Chairman and Chief Executive HSBC Asia Pacific Peter Wong menyampaikan berbagai potensi yang dimiliki Indonesia dan harapannya untuk memperkenalkan ke kancah dunia. Hal ini mengingat kebutuhan sektor swasta untuk berperan lebih dalam merealisasikan pembangunan proyek infrastruktur Indonesia.

"Tidak hanya besar di jumlah populasi penduduk, namun Indonesia juga memiliki banyak sekali potensi yang siap digali dan dimanfaatkan namun diperlukannya penghubung yang baik secara fisik, ekonomi, dan pembiayaannya. Dengan kata lain, infrastruktur adalah kuncinya," tutur Wong. 


Sebagai informasi, dari data Asian Development Bank mencatat estimasi kebutuhan investasi infrastruktur Asia dari tahun 2016-2030 adalah USD 22,6 triliun atau sekitar USD 1,5 triliun per tahun. Dengan memperhitungkan mitigasi bencana dan adaptasi kenaikan biaya investasi yang dibutuhkan meningkat menjadi USD 26,2 triliun atau USD 1,7 triliun per tahun.

Sedangkan dalam periode 2016-2030 tersebut, Asia Tenggara membutuhkan investasi infrastruktur sebesar USD 2,7 triliun dengan memperhitungkan mitigasi bencana dan adaptasi kenaikan bencana menjadi sebesar USD 3,1 triliun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar