Jumat, 04 Agustus 2017

PT SOLID GOLD BREJANGKA | Masihkah Buku Jadi Alternatif Hiburan?

PT SOLID GOLD BERJANGKA - Hari Buku Nasional yang diperingati setiap 17 Mei sejak 2002 digagas oleh Menteri Pendidikan kala itu, Abdul Malik Fadjar. Tanggal ini dipilih berdasarkan hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980. Sebelumnya, 23 April merupakan Hari Buku Sedunia.

Adanya dua peringatan terhadap buku mengindikasikan bahwa buku dipandang penting—baik secara nasional maupun internasional. Namun, saat ini, benarkah membaca buku itu (masih) penting?

Di Pontianak saya suka ngopi di warung-warung kopi (warkop) sederhana di tepi jalan. Selama hampir lima tahun tinggal di sini, saya akrab dengan tidak kurang dari sepuluh warkop. Warkop yang sering saya kunjungi syaratnya tidak terlalu ramai pengunjung dan tidak menyetel musik keras-keras. Dua syarat itu penting agar saya nyaman membaca.

Nah, seingat saya, selama ini baru dua kali bertemu orang yang ngopi sambil membaca buku di warkop.

Baiklah, kalau tempat-tempat umum seperti warkop dianggap kurang atau tidak lazim untuk membaca buku, saya akan menyebut tempat lain. Tempat ini penting, menjadi alasan ditetapkannya peringatan Hari Buku Nasional. Ya, perpustakaan.

Pengalaman Seorang Guru

Saya menjadi guru selama lebih dari dua tahun di sekolah yang berdekatan dengan Perpustakaan Daerah Kalimantan Barat. Jarak perpustakaan tidak sampai seratus meter dari sekolah. Beberapa kali saya berkunjung ke perpustakaan itu kalau tidak ada jam mengajar di sekolah.

Suatu ketika, saat berbincang dengan seorang pegawai perpustakaan itu, saya mendapat kabar, mayoritas pengunjung perpustakaan adalah siswa atau mahasiswa yang mencari referensi untuk mengerjakan tugas sekolah atau kuliah.

Pengalaman yang mirip terjadi beberapa tahun lalu, sekitar 2008 atau 2009, saat saya berada di Perpustakaan Kota Malang. Seorang adik tingkat di kampus saya tidak sengaja bertemu saya di perpustakaan.

Ia tahu, saya sudah menjadi guru saat itu, bukan mahasiswa lagi. Kami sama-sama kaget: saya kaget melihat dia yang tampak kaget bertanya kepada saya, "Lho, Mas kok ke perpus lagi?"

Buku tampaknya bukan suatu kebutuhan penting bagi banyak kalangan. Kalau sudah jadi guru atau bekerja, yang penting dapat duit, lupakan buku—tampaknya begitu pemikiran banyak orang tentang buku. Perpustakaan pun tampaknya kini bergeser menjadi tempat mengerjakan tugas, bukan tempat membaca. Mengapa begitu?

Saya menduga, salah satu alasannya, tentu karena orang tak lagi terhibur dengan buku. Tentu, dalam hal ini buku yang menghibur semacam sastra, komik, atau buku fiksi pada umumnya. Saya belum pernah mendengar ada orang yang mencari hiburan dengan membaca kamus atau ensiklopedia, misalnya.

Buku sebagai Hiburan

"Tidak peduli seberapa serius tema (yang berusaha kausampaikan), karyamu haruslah menghibur," kata novelis Eka Kurniawan dalam sebuah wawancara.

Dalam wawancara itu ia mengisahkan bahwa pada masa remajanya ia berjumpa dengan novel-novel picisan (pulp fiction) dan horor. Baru pada saat kuliah ia berjumpa dengan karya-karya sastra "berat" di kampus. Saya menangkap kesan, Eka Kurniawan menganggap bahwa karya yang ia tulis di kemudian hari adalah kombinasi antara yang menghibur (bacaannya saat remaja) dan yang sastrawi (bacaannya saat berkuliah).

Pengalaman saya agak mirip. Saya dibesarkan di Singkawang, kota kecil di Kalimantan Barat sejak SD hingga SMP. Waktu kecil saya suka membaca cerita silat. Buku-buku cerita itu hampir semuanya saya sewa di beberapa persewaan buku, tidak membeli. Beberapa di antaranya adalah novel serial Pendekar Rajawali Sakti, novel serial Wiro Sableng, komik Tinju Bintang Utara, juga komik Tapak Sakti.

Masih ada beberapa bacaan lain yang saya sukai waktu remaja, dan itu sangat berpengaruh pada cerita-cerita yang saya tulis ketika dewasa. Ada bacaan atau karya yang terus saya ingat, tapi ada juga yang terlupakan. Menariknya, bacaan yang saya lupakan ternyata tidak benar-benar saya lupakan. Saat menulis dongeng beberapa tahun lalu, saya menggunakan kata-kata "beberapa tombak" atau "sepelemparan batu" untuk menandai jarak.

Baru beberapa waktu kemudian, setelah dongeng itu ditulis, saya menyadari, kata-kata itu pernah muncul di novel-novel silat yang saya baca waktu kecil. Ada contoh lain dari bacaan yang terlupakan, tapi berpengaruh pada novel-novel detektif yang saya tulis. Di novel-novel itu saya menghadirkan tokoh Elang Bayu Angkasa, pelukis yang penuh rasa ingin tahu terhadap berbagai kasus kejahatan. Sampai novel-novel itu terbit dan beredar, saya tidak menyadari sesuatu sampai ada pembaca berkomentar:

"Tokoh Elang di novelmu mirip Nick Carter." Saya pun tertawa. Tentu, pembaca yang suka membaca novel-novel stensilan pada tahun 1990-an tahu, Nick Carter adalah detektif yang hampir selalu terlibat hubungan asmara yang intim dengan wanita saat beraksi.

Begitulah, proses kreatif pengarang mana pun tidak terlepas dari bacaan masa kecil atau remajanya. Waktu kecil dan remaja, saya suka membaca karena semata-mata mencari hiburan. Saya merasa bukan tipe kutu buku saat itu. Dan saya yakin, walaupun tak menjadi pengarang, banyak orang seusia saya yang pada masa lalu membaca buku karena perlu hiburan.

Bagi saya buku sama menghiburnya dengan berbagai game watch yang disewakan pria tua (biasanya dipanggil Mamang) di balik pagar sekolah SMP saya. Game watch itu diikat pakai tali, ditarik-tarik si Mamang kalau waktu beristirahat sekolah sudah mau selesai.

Saya paling suka memainkan game watch koboi yang lagunya sama dengan lagu tema film The Sting berjudul The Entertainer. Games-nya asyik, lagunya ceria, anak-anak menyukainya.

Pada akhirnya, catatan ini masih belum menjawab pertanyaan: ke depan, masihkah buku menjadi alternatif hiburan? Atau: bagaimana caranya membuat masyarakat berminat mencari hiburan lewat buku? Itu pertanyaan-pertanyaan yang susah dijawab; dan saya jadikan judul sebenarnya bukan untuk dijawab, tapi untuk direnungkan.

Kita tahu, hiburan seperti makanan, tergantung selera. Tak ada yang bisa mendikte orang lain untuk menentukan hiburan—atau makanan—yang dipilihnya.

Buku-buku yang menghibur sebenarnya sangat banyak di sekitar kita. Yang ingin menjadi penulis dan pengarang pun tak sedikit dari waktu ke waktu—tanyakanlah kepada editor-editor buku di penerbitan yang menerima kiriman naskah. Namun, realitas ini tak bisa dipungkiri: kini, kebanyakan orang makin menjauhi buku.

Lima belas hingga dua puluh tahun lalu, alternatif hiburan tidaklah sebanyak sekarang. Sekarang orang tampaknya lebih suka menghibur diri dengan teknologi ketimbang buku: games, beragam aplikasi di ponsel, pilihan film yang makin beragam, atau lainnya.

Sidik Nugroho suka membaca dan menulis di warkop; menulis novel Surga di Warung Kopi dan Neraka di Warung Kopi dari warkop ke warkop.
LIHAT JUGA : SOLID GOLD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar