Selasa, 27 Februari 2018

SOLID BERJANGKA | Data, Target, dan Implementasi Sektor Pariwisata

SOLID BERJANGKA

SOLID BERJANGKA MAKASAR – Di tengah menurunnya pertumbuhan ekonomi dunia, yang tentunya juga berimbas pada Indonesia, akan mempengaruhi kocek pemerintah karena menurunnya sisi penerimaan di neraca APBN. Neraca perdagangan Indonesia juga semakin njomplang meskipun pemerintah mengatakan bahwa ekonomi kita stabil tumbuh sekitar 5%, kenyataannya kita butuh lebih banyak barang impor. Untuk itu pemerintah melalui program-programnya berusaha mendorong sektor-sektor yang selama ini belum menjadi primadona sumber devisa untuk berkembang dengan segala keterbatasannya, salah satunya adalah sektor pariwisata.

Sektor pariwisata punya target 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada 2019. Saat target ini dicanangkan (2014), jumlah wisman masih di bawah 10 juta. Tahun 2017 jumlah wisman yang masuk ke Indonesia menurut Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mencapai 14,2 juta orang, termasuk pelintas batas (PLB) dan wisman khusus, atau meleset dari target awal sebesar 15 juta. Di waktu yang tersisa tinggal 2 tahun, Kemenpar harus mencapai target 20 juta wisman di luar PLB dan wisman khusus. Ini bukan sesuatu yang mudah, mengingat di regional kita harus bersaing dengan Thailand, Singapura, Vietnam dan sebagainya yang relatif secara SDM dan infrastruktur lebih siap dari Indonesia.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam 5 tahun terakhir mayoritas wisman yang masuk ke Indonesia berasal dari Tiongkok dan masuk melalui 19 pintu, terutama Bali dan Jakarta. Dengan dominasi wisman dari Tiongkok, secara sosial ekonomi Indonesia dirugikan karena wisman dari Tiongkok umumnya jorok dan berisik. Kedua sifat tersebut mengganggu kenyamanan wisman lain dan juga wisatawan domestik. Artinya wisman lain enggan ke tempat-tempat wisata atau hotel yang banyak dikunjungi wisman Tiongkok, sehingga muncul biaya sosial ekonomi ekstra yang harus dibayar.

Selain masalah di atas, ada persoalan lain yang kemungkinan dapat menghambat tercapainya janji Presiden pada publik dari sektor pariwisata. Misalnya, apakah penerapan Perpres No. 21 Tahun 2016 tentang Bebas Visa Kunjungan efektif? Apakah angka-angka yang selama ini di sampaikan oleh Kemenpar akurat, termasuk target 20 juta wisman pada 2019 bisa tercapai? Apakah benar sektor pariwisata menjadi penyumbang terbesar devisa dari sektor non migas, seperti yang diklaim oleh Kemenpar? Apakah yang harus dilakukan Kemenpar menghadapi persoalan-persoalan di atas? Dan sebagainya.

Antara Target, Persoalan dan Keberhasilan

Bicara data, wisman yang masuk Indonesia akurasinya masih perlu dipertanyakan. Menurut Kemenpar jumlah wisman yang masuk ke Indonesia selama 2017 sekitar 14,2 juta atau meleset dari yang diharapkan 15 juta karena adanya erupsi Gunung Agung di Bali. Jumlah itu pun (sekitar 14,2 juta), termasuk para pelintas batas (PLB) dan wisman khusus. Menurut Direktur Data Statistik Bank Indonesia (BI), jumlah kunjungan wisman selama 2017 adalah 12,2 juta (belum termasuk PLB dan wisman khusus) -atau PBL dan wisman khusus berjumlah sekitar 2 juta. Jadi Kemenpar kalau menyampaikan data harus lengkap supaya tidak menyesatkan.

 
Ada klaim dari Kemenpar bahwa per 2016 sektor pariwisata sudah menjadi penghasil devisa nomor dua terbesar, atau menghasilkan USD 14 miliar -sekitar Rp 200 triliun. Angka ini perlu dipertanyakan kebenarannya. Demikian pula jika Kemenpar mengklaim bahwa sektor pariwisata sudah menjadi penarik investasi nomor dua, apa benar? Kalau benar, tentunya suatu lompatan besar dan patut diapresiasi. Untuk mencari tahu kebenaran data tersebut, penulis mencoba mengkonfirmasi ke beberapa institusi, seperti BI, BPS, BKPM, dan lain-lain.

Menurut Direktur Statistik BI, dalam Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), jasa travel memang merupakan komponen neraca jasa yang sejak beberapa tahun lalu selalu surplus. Pada 2016 surplus jasa travel sekitar USD 3,6 miliar, sementara secara keseluruhan neraca jasa defisit sekitar USD 7,1 miliar. Jasa travel merupakan penerimaan dari wisman yang berkunjung ke Indonesia untuk akomodasi, konsumsi, dan transportasi lokal.

 
Perlu dipertanyakan jika sektor pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar, karena menurut BI penyumbang surplus terbesar pada transaksi berjalan NPI adalah neraca perdagangan barang non migas. Sedangkan sektor pariwisata atau travel tidak masuk katagori barang melainkan jasa. Lalu coba kita lihat dalam PDB, sektor pariwisata dapat terdiri dari beberapa lapangan usaha, antara lain penyediaan akomodasi dan makan-minum, transportasi dan pergudangan, namun di PDB yang dihitung adalah nilai tambah ekonomi tidak memilah-milah, apakah penghasil devisa atau bukan.

Kalau dari sisi gross export, menurut BI, pada 2016 komoditas ekspor non migas terbesar adalah minyak nabati (USD 17,4 miliar), diikuti batubara (USD 14,6 miliar), TPT (USD 11,9 miliar). Sedangkan ekspor komoditi migas (USD 12,9 miliar) dan ekspor jasa travel USD 11,2 miliar, bukan USD 14 miliar seperti yang diklaim oleh Kemenpar. Kembali di sini akurasi data harus dikalibrasi dengan benar.

Untuk mengkonter klaim Kemenpar bahwa sektor pariwisata telah menjadi penarik investasi nomor dua, saya sempat menanyakan ke salah satu Deputi BKPM. Berdasarkan data realisasi investasi Januari-Desember 2017 yang dikeluarkan oleh BKPM, sektor pariwisata ada di nomor 12 (hotel dan restoran) dan di nomor 7 (transportasi). Artinya, klaim Kemenpar kembali patut kita pertanyakan.


Selain persoalan di atas, lama tinggal (rata-rata dua hari/kunjungan) dan uang yang dibelanjakan selama di Indonesia juga menjadi persoalan serius dalam meningkatkan jumlah wisman masuk ke Indonesia, meskipun sudah dibantu dengan kebijakan bebas visa untuk 169 negara melalui Perpres No. 21 Tahun 2016, program promosi 10 destinasi baru dan triple coral diamond dll tetap belum banyak membantu, dan menjadi kompetitif dengan Malaysia atau Thailand dan negara ASEAN lainnya. Masih perlu perencanaan yang lebih matang.

Langkah Pemerintah

Pertama, Kemenpar harus mengkaji ulang Perpres No. 21 Tahun 2016 karena terbukti tidak dapat mendorong jumlah wisman secara pesat, dan patut diduga hanya memudahkan wisman pembawa narkoba dan komoditi ilegal lainnya masuk ke Indonesia. Pastikan hanya negara yang punya resiprokalitas dengan Indonesia yang memperoleh fasilitas bebas visa kunjungan 30 hari. Lebih baik perbaiki sistem pembuatan visa (misalnya melalui online) supaya proses cepat tetapi pengawasan negara optimal dan tetap mendapatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Kedua, pastikan proses pendataan wisman akurat dan real time. Supaya tidak ada penyesatan publik, data wisman harus dipisah dengan PLB dan wisman khusus. Ketiga, Kemenpar harus mempunyai strategi khusus atau pilah-pilah dalam mengundang wisman untuk mengurangi biaya sosial yang disebabkan oleh perbuatan wisman yang merugikan di Indonesia. Di sini target pasar menjadi penting, bukan hanya jumlah.

 
Keempat, upayakan supaya wisman yang masuk ke Indonesia dari kelas menengah atas yang selama ini mampir ke Singapura, Malaysia, Thailand dan sebagainya; bukan kelas menengah bawah. Wisman dari Tiongkok yang masuk ke Indonesia umumnya dari kelas menengah bawah, kelas menengah atas pergi ke Thailand.

Demikian koreksi ini saya tuliskan tanpa maksud apa-apa hanya untuk koreksi dan klarifikasi data supaya ke depan Kemenpar lebih strategis lagi dalam berkomunikasi dengan publik. Ingat, target masih jauh dan waktu semakin singkat. Kalau tidak tercapai sampaikan saja, dan itu lebih baik daripada seolah-olah target terpenuhi tetapi harus menggunakan data yang tidak akurat.

Senin, 26 Februari 2018

SOLID GOLD | Juragan Bahan Bangunan Berteknologi Tempe



SOLID GOLD MAKASSAR – Tiga perempuan paruh baya dengan cekatan mengiris medium tanam atau baglog jamur yang dibuat dari serbuk kayu berbentuk silinder. Mereka lalu menghancurkan irisan-irisan itu dalam sebuah baskom. Kemudian, menggunakan tangan yang terbungkus sarung karet, repihan serbuk kayu di baskom dipindahkan pada cetakan berukuran 30×30 cm.

Tiga hari setelah proses inkubasi, serbuk tadi mulai memutih persis tempe. Karena sudah mulai mengeras, panel kemudian dibalik agar prosesnya merata. Selanjutnya, kata Adi, dilakukan proses penyelesaian membentuk sebuah lempengan papan yang tekniknya masih sangat dirahasiakan. Total waktu diperlukan untuk membuat sebuah panel tak lebih dari lima hari. “Ada alur yang belum bisa kami ceritakan karena masih dalam proses mendapat hak paten,” ujar pria lulusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung itu.

 
Pembuatan Mycotech, ujar Direktur Teknologi PT Miko Bahtera Nusantara, Arekha Bentangan Lazuar, memang terinspirasi dari teknik pembuatan tempe. Jamur Rhizopus pada tempe bekerja mengikat biji-biji kedelai dengan kuat lewat akar jamur, yang disebut mycelium. Konsep yang serupa diterapkan pada Mycotech.

Bedanya, yang diikat bukan lagi kedelai, melainkan limbah-limbah pertanian, bisa limbah kelapa sawit, tebu, atau serbuk kayu dari limbah industri kayu. “Pakai jamur Pleurotus ostreatus dari grup Basidiomycota. Jamur tiram masuk jenis jamur ini,” ujar lulusan Pascasarjana Bioteknologi ITB itu. “Kami sengaja pakai jamur yang tak biasa dikonsumsi. Takutnya nanti berkompetisi dengan sumber makanan.”Kami percaya jamur ini bisa menyelamatkan dunia.”

 
Dari limbah pertanian yang ‘hanya’ direkatkan dengan jamur dan melalui proses pembuatan yang sederhana, Mycotech menjelma menjadi panel-panel papan yang kokoh dan kuat. Adi mengatakan kekuatannya setelah diuji lebih baik 1,5 kali dibandingkan medium-density fibreboard (MDF), papan yang sering dipakai sebagai material dasar mebel industri. Keunggulan lainnya, ujar pemuda berusia 27 tahun itu, Mycotech merupakan material bangunan bebas bahan berbahaya, seperti resin sintetis. “Kalau pakai plywood, perekatnya resin. Resin itu beracun karena mengandung formaldehida dan mudah terbakar,” ujarnya. “Mycotech pun bisa dibentuk bervariasi sesuai pesanan.”

Kisah penemuan Mycotech dimulai pada 2012. Saat itu lima anak muda lulusan ITB dan Universitas Padjadjaran, yakni Adi, Arekha, Robbi Zidna Ilman, Ronaldiaz Hartantyo, dan Annisa Wibi, mengembangkan bisnis penanaman bibit jamur organik bernama Growbox. “Waktu itu jamur yang dimakan seperti jamur tiram di lokasi ini juga. Kebetulan di sini banyak petani jamur,” ujar Adi.


Suatu hari pada awal 2013, salah satu dari mereka mengambil baglog yang sudah dibuang dan mengering. Medium tanam jamur itu berubah menjadi material yang sangat keras. “Kami pikir ini kan dari serbuk yang rapuh, kok bisa jadi sangat keras,” ujar Adi. Rasa penasaran itu membuat mereka menguji beberapa baglog. “Coba eksperimen di dapur rumah dengan alat seadanya. Minjem alat dapur punya Ibu, kayak panci presto, sampai rusak dan alhamdulillah gagal total.”

Sambil tetap menjalankan bisnis Growbox, mereka tak menyerah begitu saja untuk meneliti material itu. Mereka minta bantuan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Adi dan kawan-kawannya diperkenankan memakai laboratorium mikologi di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Serpong mulai 2014.
 
 
“Kalau ditotal, bisa sampai 200 ribu meter persegi pesanan yang kami terima. Sementara ini kami pilah-pilah dulu mana yang kasih dampak besar serta proyeknya bisa kami tangani, itulah yang kami ambil,” ujarnya. “Untuk saat ini, kami hanya menyasar pasar yang low production tapi high added value.“

 
Pada 2017, Adi menuturkan perusahaannya mengolah 12 ton limbah pertanian dengan hasil produksi sekitar 6.000 meter persegi papan panel, kurang-lebih seukuran lapangan sepakbola. “Kami targetkan tahun ini bisa naik tiga kali lipat,” ujarnya. Hasil produksinya sebagian besar diserap oleh sebuah perusahaan di Singapura yang bekerja sama dengan Urban-Rural System Future Cities Lab untuk mendirikan perumahan Rumah Tambah di Batam, Kepulauan Riau.
 
Soal bahan baku, menurut Adi, tak ada masalah untuk mencapai target produksi tahun ini atau bahkan permintaan pasar dari seluruh dunia. Menurutnya, limbah pertanian di Indonesia sangat berlimpah karena diperkirakan setiap tahun dihasilkan 120 juta ton. Tapi tentunya mereka tak bisa sendiri memenuhi kebutuhan baglog sebagai bahan utama.


“Selain mempekerjakan beberapa tetangga di sekitar workshop, kami berkolaborasi dengan hampir 400 petani jamur untuk memasok baglog, ini sekaligus mendatangkan nilai tambah bagi petani,” ujarnya. “Kami percaya jamur ini bisa menyelamatkan dunia.”

Jumat, 23 Februari 2018

PT SOLID GOLD BERJANGKA | Pertempuran-Pertempuran yang Tak Harus Diperjuangkan

Pertempuran-Pertempuran yang Tak Harus Diperjuangkan
PT SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR – Ada dua topik berita yang menyita perhatian saya dalam satu bulan terakhir. Yang pertama adalah tentang film Dilan, dan yang kedua tentang seri penangkapan KPK terhadap beberapa kepala daerah. Film Dilan menjadi pemberitaan karena ditonton hampir 6 juta orang dan banyak diperbincangkan di media sosial. Yang kedua, seperti tak pernah ada efek jera –KPK menangkap Bupati Jombang, Subang, dan Lampung Tengah dalam serangkaian operasi tangkap tangan dan pengembangannya.

 
Apa yang kemudian membuat kedua fenomena ini menjadi menarik? Baik Dilan maupun para kepala daerah yang ditangkap ini sama-sama panglima tempur. Dilan dikisahkan sebagai panglima tempur geng motor, sementara ketiga bupati itu adalah panglima tempur politik untuk partainya masing-masing di wilayahnya. Ketiga bupati itu juga tercatat sebagai calon kepala daerah yang telah ditetapkan oleh KPU dalam Pilkada 2018.

Dalam film yang berjudul Dilan 1990, Dilan dikisahkan meninggalkan satu-dua rencana pertempuran yang disusun oleh teman-teman geng motornya karena mengikuti saran dan desakan pacarnya yang bernama Milea. Dia memilih menghindari risiko kehilangan pacarnya yang membuat harinya berbunga-bunga, walaupun pada saat bersamaan mengecewakan anggota gengnya.

Tak Ada Pilihan Mudah

Terlihat Dilan melakukan sebuah pilihan yang mudah. Tetapi sesungguhnya dalam kehidupan nyata, setiap pilihan mengandung kompleksitas. Baik sebab maupun akibat sebuah pilihan dijatuhkan bisa memiliki faktor yang multidimensi.


Dalam praktik korporasi dan organisasi besar, para pemimpin setiap hari dihadapkan pada banyak masalah yang harus diselesaikan. Tetapi pemecahan masalah secara umum selalu dibatasi oleh dua hal, yaitu waktu dan sumber daya. Tidak pernah ada situasi yang mewah (apalagi dalam situasi krisis) di mana pemecahan masalah memiliki waktu dan sumber daya yang tidak terbatas.

Warren Buffet, seorang investor kawakan yang sangat dihormati suatu ketika berkata, “Basically I can buy everything, but I can’t buy more time.”

Karena keterbatasan waktu dan sumber daya inilah, seorang pemimpin dituntut bukan hanya sekadar memiliki kemampuan memecahkan masalah tetapi juga kemampuan memilih masalah yang harus diselesaikan. Memilih masalah untuk diselesaikan menuntut pemahaman atas banyak hal terutama terkait visi personal, visi organisasi, pemetaan sumber daya, dan kalkulasi risiko.

Tak Semua Tantangan Harus Dijawab

Dari tiga penangkapan KPK terbaru, ketiga figur utama bukan saja calon kepala daerah tetapi juga pejabat petahana, dan sekaligus pimpinan partai di daerah masing-masing. Pertanyaannya: apa yang menjadi tujuan hidup orang-orang ini? Kenapa mereka mereka merasa penting untuk menjadi kepala daerah dan pemimpin partai, dan karenanya menempuh segala cara termasuk korupsi yang sangat berisiko untuk membiayai ambisinya?

 
Pertanyaan itu bisa menuntun kita untuk menemukan jawaban –ika misalnya tujuan hidup adalah memberi kebaikan kepada masyarakat, tentu tidak harus lewat jabatan politik. Jika pun politik adalah jalan tercepat, maka tentu perlu dihindari politik biaya tinggi yang berujung kepada tindakan korupsi.

Tidak semua tantangan dan panggilan bertempur harus dihadapi, tidak semua pertanyaan harus dijawab, dan tidak semua risiko harus diserap. Orang-orang yang cerdas akan berhitung atas risiko dari setiap pilihan, dan terutama memilih hanya menghadapi tantangan-tantangan yang berharga bagi waktu dan upayanya yang terbatas.

Banyak orang yang terjebak dalam pertempuran yang sangat serius untuk kekonyolan-kekonyolan yang sepele, sehingga kehabisan waktu dan sumber daya untuk hal-hal yang lebih fundamental. Pejabat yang sibuk bertengkar dan mempidanakan orang-orang awam yang mengkritik di media sosial, akan kehilangan banyak konsentrasi untuk tugas-tugas utamanya.


Memilih Pertempuran

Untuk memilih pertempuran mana yang harus diikuti, pertama kali yang harus diidentifikasi adalah kesesuaian dengan tujuan pribadi dan/atau organisasi. Dilan memilih melepaskan soliditas geng motornya, demi hubungan dengan pacarnya. Yang kedua adalah melihat level otoritas atas masalah. Otoritas bukan berarti posisi atau jabatan, tetapi lebih kepada jangkauan atas masalah dan solusinya.

Stephen Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People membagi masalah dalam dua kategori, yaitu “circle of concern” –masalah-masalah yang mempengaruhi kita tetapi jangkauan kita terbatas; dan, “circle of influence” –masalah-masalah yang kita punya kontrol untuk mengubahnya. Demi efektivitas, memilih masalah dalam jangkauan kontrol sangat penting untuk memastikan sebuah undangan pantas dihadiri, dan pertempuran wajib dilakukan.


Setelah memilih masalah yang terjangkau, tahap berikutnya adalah menganalisis sumber daya. Sumberdaya menjadi faktor penting memenangkan pertempuran. Jangan sampai memaksakan bertempur dengan sumber daya seadanya. Atau, jangan sampai sumber daya didapatkan dari proses yang berisiko. Apa yang dilakukan para bupati yang ditangkap KPK adalah proses pencarian sumber daya yang salah dan berisiko.

Orang-orang cerdas selalu memiliki cara untuk meraih tujuan hidupnya dengan jalan paling efektif, hasil paling optimal, dan risiko yang bisa dikelola. Dilan sangat mengerti pahitnya sebuah putus cinta; dia memilih meminggirkan tawaran kemasyhuran di antara teman-teman geng motornya. Para bupati itu karenanya tak cukup cerdas dan percaya diri, untuk mendapat aktualisasi, dan memberi kontribusi kepada publik tanpa melalui jabatan politik. Karenanya mereka memilih bertempur di medan politik pilkada dengan segala risikonya, termasuk melakukan korupsi. Sebuah pertempuran yang tak layak diperjuangkan

Kamis, 22 Februari 2018

PT SOLID BERJANGKA | Intelijen AS Sebut Duterte "Ancaman untuk Demokrasi", Filipina Peringatkan Washington

https: img-z.okeinfo.net content 2018 02 21 18 1862795 intelijen-as-sebut-duterte-ancaman-untuk-demokrasi-filipina-peringatkan-washington-77KvAOmVV1.jpg
PT SOLID BERJANGKA MAKASSAR – Kantor kepresidenan Filipina menyatakan keprihatinannya atas laporan penilaian komunitas intelijen Amerika Serikat (AS) yang menandai Presiden Rodrigo Duterte sebagai “ancaman bagi demokrasi”. Mantan Wali Kota Davao itu dianggap terus menerus menghadirka ancaman bagi demokrasi dan hak asasi manusia.

 
Dalam laporan yang dibuat Komunitas Intelijen AS, sebuah lembaga yang terdiri dari 16 badan federal di AS itu, Duterte masuk ke dalam daftar pemimpin yang terus menerus memberikan “ancaman” terhadap demokrasi dan hak asasi manusia (HAM).

“Di Filipina, Presiden Duterte akan terus melakukan kampanyenya melawan narkoba, korupsi, dan kejahatan. Duterte telah mengisyaratkan bahwa dia dapat mengabaikan Konstitusi, mendeklarasikan sebuah ‘pemerintahan revolusioner’, dan memberlakukan undang-undang darurat militer nasional,” demikian tertulis dalam halaman 19 laporan Worldwide Threat Assessment (Penilaian Ancaman Dunia) AS.


Duterte telah lama mendapat kritik terkait dugaan pembunuhan di luar proses hukum dan pelanggaran hak asasi manusia dalam perang melawan narkoba yang dilancarkannya. Lebih dari 4.000 orang yang dicurigai sebagai pengedar dan pengguna narkoba telah dibunuh oleh penegak hukum dan “orang-orang bersenjata tak dikenal” dalam operasi pemberantasan narkoba yang dilakukan di seluruh negeri sejak Juli 2016.

 
Laporan itu juga menyoroti keputusan Duterte untuk memperpanjang status darurat militer di Mindanao menyusul pertempuran melawan militan ISIS di Marawi tahun lalu.

Pemerintah Filipina segera bereaksi atas laporan Komunitas Intelijen AS yang dianggap mencemari reputasi Duterte tersebut. Manila menyampaikan keprihatinannya dan membantah tuduhan yang disematkan kepada Duterte.

“Kami melihat pernyataan dari departemen intelijen Amerika Serikat dengan kekhawatiran,” kata Juru Bicara Kepresidenan Harry Roque kepada radio DZMM.

 
“Saya tidak berpikir itu benar. Duterte adalah seorang pengacara, dia tahu hukum, dia ingin menegakkan supremasi hukum, dia tahu tentang undang-undang hak.”

Meski menunjukkan sikap anti-Amerika selama pemerintahan Presiden Barack Obama, Duterte mulai menunjukkan perubahan sikap beberapa waktu terakhir. Hal itu diduga dikarenakan karena sikap Presiden Donald Trump yang tidak banyak mengkritik kebijakan dalam negeri Duterte , terutama dalam perang melawan narkoba.

Roque mengatakan Manila akan menyikapi laporan itu dengan serius dan memperingatkan dampaknya terhadap hubungan antara Filipina dengan AS.

 
“Dengan deklarasi seperti ini, sangat sulit untuk bersahabat dengan Amerika Serikat. Pernyataan itu sepertinya tidak terlalu ramah,” kata Roque.

“Ini adalah sesuatu yang kita anggap sangat serius. Ini berasal dari komunitas intelijen. Itu bahkan tidak berasal dari Departemen Luar Negeri. Ini adalah sesuatu yang juga akan dianggap serius oleh presiden.”

Rabu, 21 Februari 2018

SOLID GOLD BERJANGKA | Bangsa yang Lihai Berimajinasi

Bangsa yang Lihai Berimajinasi
SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR – Entah Indonesia menempati ranking dunia nomor berapa dalam soal ini. Namun saya yakin, kita adalah masyarakat yang memiliki kemampuan tinggi dalam berimajinasi. Banyak cerita yang tersebar sehari-hari membuktikan betapa dahsyatnya kemampuan imajinasi kita.

Coba ingat, beberapa waktu lalu digelar tindakan tegas meruntuhkan 90 susunan batu-batu di Sungai Cibojong, Sukabumi. Para pejabat lokal yang menjalankan aksi nahi munkar itu berimajinasi bahwa tumpukan bebatuan tersebut terkait dengan aktivitas-aktivitas mistis. Jadilah sikap tegas yang mereka ambil merupakan aksi nyata dalam memberantas kemusyrikan.


Lihat, imajinasi yang keren, bukan? Padahal jika mereka gaul sedikit saja, atau minimal mengikuti akun-akun Instagram yang bertema jalan-jalan, dengan gampang mereka akan melihat foto susunan bebatuan seperti itu dibuat di mana-mana. Rock stacking, istilahnya. Pembuatnya bukan bangsa jin anak buah Bandung Bondowoso, tapi manusia biasa, para anak muda pencinta alam, atau dedek-dedek kekinian. Tujuannya bukan untuk disembah, atau untuk mendapatkan ajian Semar Mesem dan Jaran Goyang. Melainkan sebagai karya seni yang menantang konsentrasi tinggi.

Tengok juga kejadian di Aceh belum lama berselang. Pohon-pohon cemara ditebangi. Alasannya karena cemara-cemara itu identik dengan pohon Natal. Jadi karena pohon Natal dibuat dari pohon cemara, otomatis buat mereka semua cemara dianggap sebagai pohon Natal. Akibatnya, tak peduli apakah sedang difungsikan sebagai pohon Natal ataukah tidak, semua pohon cemara diimajinasikan sebagai pohon Kristen.
Untunglah di Indonesia tak ada orang memelihara rusa kutub. 


Saya tidak tahu apakah ada kebun binatang kita yang punya hewan salju yang satu itu. Mudah-mudahan tidak ada. Sebab kalau ada dan sampai ketahuan oleh para aktivis imajinasi, bisa-bisa rusa kutub ditangkapi, lalu dideportasi. Landasannya jelas, karena rusa kutub adalah hewan yang menarik kereta Sinterklas. Jadi sudah pasti dia hewan Kristen!
Lah, yang masih membuat saya bertanya-tanya, kenapa mereka tidak merazia burung-burung gereja? Kenapa, Milea?
  
***
Kemampuan berimajinasi seperti itu sebenarnya bukan barang baru. Di Jogja, pada dekade 90-an pelatihan massal kemampuan imajinasi malah digelar oleh aparat negara.
Ceritanya, pada waktu itu sedang nge-hits sebuah alat pijat. Bentuknya seperti tanda tanya. Tangkai pegangannya panjang, ujungnya ada bola kayunya, sehingga bisa digunakan untuk self–massage punggung oleh penggunanya.

Karena banyak orang merasa terbantu, apalagi buat mereka yang kesepian sehingga tak punya siapa pun sebagai tempat mengadu di kala punggungnya pegal-pegal, alat itu pun laris manis. Banyak warung memajang dan menjajakannya, banyak orang membelinya.

 
Namun tiba-tiba bapak-bapak dari Kodim melakukan razia. Alat pijat enak itu disita dari warung-warung. Ia tak boleh diperjualbelikan lagi, dan untuk membawanya ke luar rumah pun orang-orang yang kadung membelinya tak mungkin bakal berani. Dasar pemikiran pelarangan itu ternyata sangat ilmiah: yaitu karena bentuk alat pijat tersebut diianggap mirip dengan lambang partai terlarang!

Imajinasi yang maut, bukan? Karena alat pijat itu bentuknya melengkung, pak tentara jadi ingat bentuk arit. Karena teringat bentuk arit, terbayanglah di kepala mereka simbol komunis. Canggihnya, aritnya sendiri malah tidak dilarang. Tidak terdengar satu kali pun razia digelar di sawah-sawah, untuk menyita arit-arit dan membebaskan para petani dari paparan bahaya laten komunis. Tidak terdengar juga aparat negara mengambil paksa palu-palu dari tangan para tukang batu, juga dari lapak-lapak toko besi.

Kebiasaan berimajinasi seperti itu terus mentradisi, menjadi skill kebanggaan manusia Indonesia. Kalau mau dikorek, masih banyak sekali contoh kasus lainnya. Namun yang paling cespleng memang semua yang terkait dengan bahaya laten komunis. Kenapa? Sebab negeri ini memang punya trauma komunal mendalam terkait potongan sejarah kelam 50 tahun lalu. Trauma itu terus menjadi kebun subur bagi tersemainya ketakutan, dan ketakutan adalah alat pemasaran yang sangat menjanjikan peluang-peluang.

 
Jadi jangan heran-heran amat, kalau tiap kali musim politik tiba, isu kebangkitan komunis selalu dijadikan bahan dagangan. Dengan berjualan isu kebangkitan komunis, imajinasi publik bisa merebak dengan liarnya. Celakanya, sangat sedikit tokoh politik yang berani membantahnya, atau menetralisasinya. Sebab para praktisi imajinasi tetap mengikuti alur logika yang konsisten imajinatif: siapa pun yang membantah isu kebangkitan komunis, otomatis dia pro-komunis.

Nah, politisi mana yang mau dituduh pro-komunis, coba? Bisa-bisa habis karier politiknya, padahal belum lunas utang-utang biaya kampanyenya.

Lebih sial lagi, para aktivis muda yang sepertinya kepingin menjalankan edukasi publik agar kita tidak terus-menerus terpasung dalam trauma massal 50 tahun silam, justru kadangkala melakukan tindakan-tindakan yang norak, caper, dan kekanak-kanakan. Misalnya dengan memakai kaos palu-arit di ruang publik, dalam ajang demonstrasi buruh pula.

Hasilnya, alih-alih menetralisasi imajinasi umat agar tak lagi mudah diaduk-aduk emosinya dengan isu kebangkitan komunis, yang terjadi malah sebaliknya: bumerang tajam! Orang kebanyakan justru semakin percaya bahwa kebangkitan komunis itu nyata. “Tuh lihat, nyata sekali mereka semakin terang-terangan menampakkan diri! Rapatkan barisan! Siagakan kekuatan umat!”
Padahal yang sebenarnya terjadi tak lebih dari kebangkitan seorang anak muda labil dan krisis eksistensi, yang mau pamer kaos oleh-oleh dari temannya, sepulangnya si teman dari Vietnam untuk misi darmawisata. Healah….

***

Hari-hari ini, imajinasi atas bangkitnya komunis sudah mulai dikitik-kitik lagi. Maklum, tahun politik. Sisa panas 2014 terus membara, dinyalakan lagi oleh Pilkada DKI dan Dua-Satu-Dua. Sekarang musim Pilkada di mana-mana, dan tahun depan Pemilu dan Pilpres akan kembali memanaskan ruang-ruang kasak-kusuk kita. Sempurna sudah, Sodara.

Menu pertama untuk merebus isu kebangkitan komunis, kita tahu, adalah serangan orang-orang gila. Karena yang diserang adalah para ulama, dan karena di masa lalu kaum ulama pernah berkonflik dengan orang komunis, maka imajinasi yang paling gampang diracik adalah: PKI bangkit lagi dan menyerang para ulama. Apa bukti dugaan itu? Tidak ada. Ya, tidak ada.
Lihat, lagi-lagi imajinasi menjalankan perannya.

Lalu apakah semua ini kebetulan semata? Bisa ya, bisa tidak. Meski sampai detik ini saya belum percaya, tapi kemungkinan bahwa aksi-aksi orang gila itu by design bukan lantas tertutup. Kemungkinan itu selalu ada, negeri ini pernah mengalami pola-pola serupa, dan saya sangat mendukung aparat yang punya wewenang untuk secara serius mengusutnya. Namun, kalau boleh saya berpesan, ada satu hal yang ingin saya sampaikan.

Begini. Jika memang kemunculan orang-orang gila itu ada sutradaranya, secara logis tujuannya jelas, yakni untuk menciptakan keresahan dan instabilitas. Maka semakin kita reaktif, semakin kita emosi dan gagal mengendalikan diri, semakin kita berteriak memanaskan situasi dan bukan malah meredamnya, maka sesungguhnya dengan konyol kita sudah jatuh ke dalam perangkap yang dipasang Si Sutradara.