Kamis, 26 Februari 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Emas Bertahan pada Kenaikan di Tengah Aliran Safe Haven yang Berkelanjutan Menjelang Pembicaraan AS-Iran

 Solid GOld Berjangka Makassar - Emas XAUUSD mempertahankan kenaikan intraday moderatnya sepanjang paruh pertama sesi Eropa pada hari Kamis, dengan para pembeli masih menunggu pergerakan yang berkelanjutan dan penerimaan di atas level $5.200 sebelum menempatkan taruhan baru. Ketidakpastian yang terus-menerus mengenai kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump dan ketegangan geopolitik menjelang pembicaraan nuklir AS-Iran ternyata menjadi faktor kunci yang berperan sebagai pendorong bagi logam mulia safe-haven.

Setelah putusan Mahkamah Agung untuk memblokir banyak pajak impor besar Trump pada hari Jumat, presiden mengacu pada Pasal 122 Undang-Undang Tarif 1974 untuk mengenakan tarif tambahan 10%. Trump kemudian mengatakan pada hari Sabtu bahwa tarif tersebut akan menjadi 15%, meskipun tarif ditetapkan pada tingkat yang lebih rendah mulai hari Selasa. Namun, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa pemerintahan sedang berupaya untuk menaikkannya menjadi 15%. Ada juga kecemasan terhadap seberapa lama tarif ini akan berlanjut, mengingat perubahan mendadak Trump terkait tarif, membuat para investor tetap waspada dan mendukung Emas.

Sementara itu, Iran dan AS dijadwalkan mengadakan putaran ketiga perundingan yang bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan nuklir yang telah berlangsung lama di tengah risiko serangan AS dalam waktu dekat setelah pengumpulan besar-besaran pasukan Amerika di Timur Tengah. Dalam pidato Kenegaraannya pada hari Selasa, Trump menguraikan alasannya soal kemungkinan serangan terhadap Iran dan mengatakan bahwa ia tidak akan membiarkan sponsor terorisme terbesar di dunia memiliki senjata nuklir. Ini menjaga risiko geopolitik tetap ada dan ternyata menjadi faktor lain yang bertindak sebagai pendorong bagi Emas safe-haven.

Selain itu, pelemahan Dolar AS (USD) yang moderat memberikan dukungan tambahan bagi komoditas ini dan berkontribusi pada sentimen penawaran beli. Meskipun prospek Federal Reserve (The Fed) hawkish, para pedagang masih memprakirakan kemungkinan tiga pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin (bp) oleh bank sentral AS. Selain itu, kekhawatiran tindakan balasan terhadap tarif Trump dan potensi dampak ekonomi dari gangguan pada rantai pasokan global membuat para pembeli Dolar AS tetap defensif. Hal ini, pada gilirannya, mendukung potensi apresiasi Emas lebih lanjut dalam jangka pendek.

Penembusan baru-baru ini melewati batas horizontal di level $5.100 dianggap sebagai pemicu utama bagi para pembeli XAUUSD. Prospek positif ditegaskan oleh fakta bahwa logam mulia ini bertahan di atas Simple Moving Average (SMA) 200 periode yang miring ke atas di dekat $4.948, yang menjaga struktur tren naik yang lebih luas tetap utuh meskipun ada pullback terbaru dari level tertinggi minggu lalu.

Relative Strength Index (RSI) berada di sekitar 59, di atas garis tengah 50, yang mengindikasikan tekanan beli yang mendasari tetap ada daripada kehilangan momentum sepenuhnya. Namun, Moving Average Convergence Divergence (MACD) telah turun lebih jauh ke wilayah negatif dengan garis di bawah garis sinyal dan histogram negatif, mengarah ke memudarnya momentum ke atas dan memperingatkan bahwa para pembeli kurang memiliki keyakinan yang kuat di level-level saat ini.

Support awal muncul di dekat $5.150, di mana terendah baru-baru ini sejajar dengan dasar konsolidasi jangka pendek, diikuti oleh batas yang lebih dalam di $5.100 jika para penjual melanjutkan koreksi. Penembusan di bawah $5.100 akan mengekspos area $5.050, meskipun SMA 200 periode yang miring ke atas di bawah $4.950 diprakirakan dapat mendukung konteks bullish yang lebih luas selama tetap bertahan.

Di sisi atas, resistance langsung berada di sekitar $5.220, tepat di bawah swing high terbaru, dengan penembusan yang jelas membuka jalan menuju $5.260. Pergerakan berkelanjutan di atas $5.260 akan menandakan pembaruan momentum bullish dan mengalihkan fokus ke higher highs di sesi-sesi mendatang.

Pertanyaan Umum Seputar The Fed

Apa yang Dilakukan Federal Reserve, Bagaimana Dampaknya terhadap Dolar AS?

Kebijakan moneter di AS dibentuk oleh Federal Reserve (The Fed). The Fed memiliki dua mandat: mencapai stabilitas harga dan mendorong lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menyesuaikan suku bunga. Ketika harga naik terlalu cepat dan inflasi berada di atas target The Fed sebesar 2%, Bank sentral ini menaikkan suku bunga, meningkatkan biaya pinjaman di seluruh perekonomian. Hal ini menghasilkan Dolar AS (USD) yang lebih kuat karena menjadikan AS tempat yang lebih menarik bagi para investor internasional untuk menyimpan uang mereka. Ketika inflasi turun di bawah 2% atau Tingkat Pengangguran terlalu tinggi, The Fed dapat menurunkan suku bunga untuk mendorong pinjaman, yang membebani Greenback.

Seberapa Sering The Fed Mengadakan Pertemuan Kebijakan Moneter?

Federal Reserve (The Fed) mengadakan delapan pertemuan kebijakan setahun, di mana Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) menilai kondisi ekonomi dan membuat keputusan kebijakan moneter. FOMC dihadiri oleh dua belas pejabat The Fed – tujuh anggota Dewan Gubernur, presiden Federal Reserve Bank of New York, dan empat dari sebelas presiden Reserve Bank regional yang tersisa, yang menjabat selama satu tahun secara bergilir.

Apa itu Quantitative Easing (QE) dan Bagaimana Pengaruhnya terhadap USD?

Dalam situasi ekstrem, Federal Reserve dapat menggunakan kebijakan yang disebut Pelonggaran Kuantitatif (QE). QE adalah proses yang dilakukan The Fed untuk meningkatkan aliran kredit secara substansial dalam sistem keuangan yang macet. Ini adalah langkah kebijakan non-standar yang digunakan selama krisis atau ketika inflasi sangat rendah. Ini adalah senjata pilihan The Fed selama Krisis Keuangan Besar pada tahun 2008. Hal ini melibatkan The Fed yang mencetak lebih banyak Dolar dan menggunakannya untuk membeli obligasi berperingkat tinggi dari lembaga keuangan. QE biasanya melemahkan Dolar AS.

Apa itu Pengetatan Kuantitatif (QT) dan Bagaimana Dampaknya terhadap Dolar AS?

Pengetatan kuantitatif (QT) adalah proses kebalikan dari QE, di mana Federal Reserve berhenti membeli obligasi dari lembaga keuangan dan tidak menginvestasikan kembali pokok dari obligasi yang dimilikinya yang jatuh tempo, untuk membeli obligasi baru. Hal ini biasanya berdampak positif terhadap nilai Dolar AS.

Rabu, 25 Februari 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Harga Emas Terkoreksi, Dolar Menguat dan Investor Ambil Untung

 Solid Gold Berjangka Makassar - Harga emas melemah pada perdagangan Selasa (24/2/2026), turun dari level tertinggi dalam lebih dari tiga minggu.

Tekanan datang dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta aksi ambil untung investor, di tengah pasar yang masih menanti kejelasan kebijakan tarif AS dan perkembangan pembicaraan antara Iran dan AS.

Mengutip laporan Reuters, harga emas spot turun 1,4% ke level US$ 5.158,24 per ons pada pukul 13.40 waktu New York, AS. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April ditutup melemah 0,9% di posisi US$ 5.176,30 per ons.

Pelemahan emas terjadi seiring indeks dolar AS yang naik 0,1%. Penguatan dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi investor pemegang mata uang lain.

Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menilai penurunan harga ini lebih bersifat koreksi teknikal. “Harga emas sebelumnya bergerak naik cukup kuat, sehingga penurunan ini terlihat seperti koreksi wajar. Dolar yang lebih tinggi juga memberi tekanan tambahan,” ujarnya.

Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level tertinggi tiga pekan pada awal sesi perdagangan. Kenaikan itu dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berencana menaikkan tarif impor menjadi 15%, menyusul putusan Mahkamah Agung AS yang menyatakan penggunaan undang-undang darurat untuk memberlakukan tarif melampaui kewenangannya.

Namun, pada hari yang sama, pemerintah AS tetap memberlakukan tarif 10% untuk seluruh barang yang tidak dikecualikan, sesuai pengumuman sebelumnya.

Dari sisi geopolitik, perhatian pasar juga tertuju pada rencana putaran ketiga pembicaraan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung Kamis di Jenewa.

Negosiasi ini berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran risiko konflik antara kedua negara.

Menurut Wyckoff, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas masih relatif kuat. Ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan tarif dinilai membatasi tekanan jual lebih dalam.

Namun, ia menegaskan bahwa untuk menembus rekor tertinggi baru, pasar membutuhkan katalis geopolitik atau ekonomi yang lebih besar.

“Ketika harga mendekati level tertinggi, resistensinya akan semakin kuat. Dorongan ke rekor baru kemungkinan memerlukan katalis baru yang signifikan,” katanya.

Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai yang cenderung diminati saat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik meningkat. Namun, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi AS.

Presiden Federal Reserve Bank of Atlanta yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, Raphael Bostic, mengatakan kepada Reuters bahwa AS berpotensi memasuki fase pengangguran struktural yang lebih tinggi.

Hal ini dipicu oleh adopsi kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan untuk menekan kebutuhan tenaga kerja, sebuah kondisi yang menurutnya sulit diatasi hanya dengan penurunan suku bunga.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 1,2% menjadi US$ 87,21 per ons setelah sehari sebelumnya mencapai level tertinggi dua pekan. Sebaliknya, harga platinum naik 1% ke US$ 2.175,95 per ons, sementara paladium melonjak 2,3% menjadi US$ 1.785,35 per ons.

Selasa, 24 Februari 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Perang Dagang: Ketegangan Tarif Muncul Kembali setelah Kemunduran UE-AS – Danske Bank

 Solid Gold Berjangka Makassar - Tim Riset Danske Bank mencatat bahwa ketegangan perdagangan tetap tinggi setelah Parlemen Eropa menunda ratifikasi kesepakatan perdagangan UE-AS karena kekhawatiran terhadap tarif unilateral baru Trump sebesar 15%. Tiongkok mendesak Washington untuk menghapus tarif unilateral, India telah menunda perundingan, dan Inggris memperingatkan tentang potensi pembalasan saat kerangka tarif global baru dimulai pada 10%.

Penundaan kesepakatan UE-AS dan risiko tarif global

"Di Brussels, Parlemen Eropa menunda ratifikasi kesepakatan perdagangan UE-AS di tengah kekhawatiran bahwa tarif unilateral baru Trump sebesar 15% melanggar 'perjanjian Turnberry' yang disepakati musim panas lalu."

"Sementara itu, Tiongkok telah mendesak Washington untuk menghapus tarif unilateral, India telah menunda perundingan perdagangan yang direncanakan, dan Inggris telah memperingatkan bahwa "tidak ada yang dikesampingkan" jika AS gagal menghormati kesepakatan tarif 10% mereka."

"Hari ini, tarif global akan dimulai pada 10%, dengan administrasi bekerja untuk meningkatkannya menjadi 15% di bawah perintah terpisah yang belum ditandatangani Trump."

"Malam ini waktu Eropa, presiden AS Trump akan memberikan pidato tahunan tentang keadaan Uni."

Jumat, 20 Februari 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Laju Minyak Kian Menguat Menyusul Ultimatum Trump

 Solid Gold Berjangka Makassar - Pada penutupan pekan pagi ini harga minyak terpantau bergerak terkoreksi bearish menyusul berita peningkatan aktivitas kilang di Venezuela yang berpotensi mendorong peningkatan pasokan minyak dari negara Amerika selatan itu. Meski demikian, ketegangan antara AS dengan Iran yang makin meningkat memicu kehawatiran akan potensi perang baru di wilayah Timur Tengah.

Kilang-kilang minyak Venezuela, yang dioperasikan oleh perusahaan energi negara PDVSA, dilaporkan telah beroperasi sekitar 35% dari kapasitas terpasangnya sebesar 1,29 juta bph, ungkap sumber pekerja di fasilitas tersebut pada hari Kamis. Produksi minyak negara Amerika Selatan itu telah pulih menjadi sekitar 1 juta bph bulan ini, sehingga dengan meningkatnya kapasitas pemrosesan kilang akan turut mendorong peningkatan output minyak Venezuela lebih lanjut.

Sementara itu, kekhawatiran akan terjadinya perang AS dan Iran terus meningkat setelah Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis melontarkan ancaman bahwa hal-hal yang sangat buruk akan terjadi, jika Iran tidak mencapai kesepakatan mengenai program nuklir dalam tenggat waktu 10 hingga 15 hari kedepan. Ultimatum Trump itu muncul tak lama setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan balasan keras jika Iran melakukan kesalahan dan melakukan penyerangan.

Menanggapi ancaman ultimatum Trump, Iran mengatakan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada hari Kamis bahwa Teheran akan mempertimbangkan pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan musuh di kawasan itu sebagai target yang sah jika menghadapi agresi militer. Di hari yang sama, Iran dilaporkan melakukan latihan angkatan laut bersama dengan Rusia di Teluk Oman, yang menjadi jalur penting lalu lintas kapal tanker minyak global, menurut sebuah kantor berita lokal, tepat beberapa hari setelah Iran menutup sementara Selat Hormuz untuk latihan militer.

Dari sisi pasokan, dalam laporan yang dirilis oleh EIA menunjukkan stok minyak mentah AS turun sebesar 9 juta barel pada pekan yang berakhir 13 Februari, di luar ekspektasi awal yang memperkirakan stok akan naik sebesar 2 juta barel, dan sekaligus menandai penurunan terbesar dalam lima bulan. Untuk stok bensin dilaporkan turun sebesar 3 juta barel, melebihi prediksi awal yang memperkirakan penurunan sebesar 300 ribu barel. Laporan stok EIA itu mengindikasikan permintaan yang kuat di pasar energi AS.

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $69 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $64 per barel.

Kamis, 19 Februari 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Potensi Dimulainya Perang AS - Iran Buat Harga Minyak Ikut Membara

 Solid Gold Berjangka Makassar - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak bullish didukung oleh sentimen dari meningkatnya kekhawatiran akan dimulainya perang antara AS, yang didukung Israel, dengan Iran dalam waktu dekat. Selain itu, potensi penurunan output minyak Rusia, dan rilisnya laporan stok API turut menjadi katalis positif yang mengangkat harga.

Konfrontasi militer antara AS dan Iran dapat dimulai dalam beberapa hari mendatang dan menjadi kampanye intensif selama beberapa minggu, kata mantan kepala Intelijen Militer IDF, Amos Yadlin, pada hari Rabu. DI hari yang sama, seorang pejabat Gedung Putih memperkirakan peluang serangan dalam beberapa minggu mendatang sebesar 90 persen. Sinyal potensi perang antara AS dengan Iran juga semakin menguat setelah media Axios pada hari Rabu melaporkan bahwa Israel sedang mempersiapkan skenario perang dalam beberapa hari, yang dapat mengarah ke perang skala penuh selama berminggu-minggu.

Turut mendukung harga, produsen minyak Rusia mengurangi aktivitas pengeboran pada tahun 2025 ke level terendah dalam tiga tahun, yang memicu kekhawatiran akan berdampak pada penurunan produksi di negara eksportir minyak utama dunia itu. Rusia yang biasanya mengebor sekitar 26.000–29.000 km sumur setiap tahun, dilaporkan hanya mengebor sekitar 29.140 km sumur produksi pada tahun 2025, atau turun 3,4% dari tahun 2024, ungkap data industri yang dikutip Bloomberg.

Dari sisi pasokan, grup industri API melaporkan stok minyak mentah AS turun sebesar 609.000 barel pada pekan yang berakhir 13 Februari. Laporan API itu mengindikasikan permintaan yang kuat di pasar minyak AS. Meski demikian, pelaku masih menantikan laporan stok resmi versi pemerintah yang akan dirilis oleh EIA pada Kamis sore, terlambat sehari dari jadwal perilisan biasanya karena berlangsungnya libur Hari Presiden pada awal pekan.

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt pada hari Rabu mengatakan ada kemajuan yang berarti, pasca dua hari pembicaraan damai di Jenewa antara Ukraina dan Rusia, yang di mediasi oleh AS. Leavitt juga mengisyaratkan akan ada serangkaian pembicaraan lain segera, di samping komitmen untuk terus bekerja menuju kesepakatan perdamaian bersama.

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $68 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $63 per barel.