Rabu, 04 Maret 2026

Isyarat Pemangkasan Tajam Produksi Irak Turut Angkat Harga Minyak

 Solid Gold Berjangka Makassar - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak bullish mencapai level tertinggi sejak akhir Januari 2025, yang pemicunya masih datang dari eskalasi konflik AS dengan Iran yang telah berdampak pada gangguan pasokan energi secara global. Meski demikian, aktivitas pabrik di China yang melesu, dan laporan stok API menjadi katalis yang membatasi kenaikan harga lebih lanjut.

Produsen terbesar kedua OPEC, Irak, pada hari Selasa mengatakan akan terpaksa melakukan pemangkasan produksi minyak lebih dari tiga juta barel dalam beberapa hari jika gangguan ekspor minyak melalui Selat Hormuz masih terus berlanjut. Sumber pejabat mengatakan Irak saat ini telah memangkas produksi hampir 1,5 juta bph, sekitar setengah dari produksinya, karena keterbatasan penyimpanan dan kurangnya jalur ekspor.

Sinyal eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang terus meningkat, berpotensi mengancam pasokan lebih lanjut, terutama yang melalui jalur Selat Hormuz. Presiden Donald Trump pada hari Selasa mengumumkan akan menawarkan asuransi kepada kapal-kapal tanker yang akan melalui Selat Hormuz, bahkan jika diperlukan akan dikawal oleh militer AS.

Duta Besar Iran untuk PBB di Jenewa pada hari Selasa menolak kemungkinan bernegosiasi dengan AS untuk saat ini, tiga hari setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap negaranya. Pernyataan tersebut meredupkan harapan akan potensi gencatan senjata antara AS dan Israel dengan Iran dalam waktu dekat.

Sementara itu, aktivitas pabrik di China mengalami kontraksi untuk bulan kedua berturut-turut pada Februari, menurut survei resmi yang dirilis pada hari Rabu. PMI bulan Februari turun menjadi 49,0 dari 49,3 pada bulan Januari, yang sekaligus merupakan level terendah dalam 4 bulan. Hasil survei tersebut mengindikasikan perlunya stimulus kebijakan karena ekonomi yang melesu di negara importir minyak terbesar pertama dunia itu.

Dari sisi pasokan, persediaan minyak mentah AS mengalami peningkatan sebesar 5,6 juta barel pada pekan yang berakhir 20 Februari, ungkap laporan stok terbaru versi grup industri API, yang sekaligus mengindikasikan permintaan yang lesu di pasar minyak AS. Meski demikian, pelaku masih menantikan laporan stok resmi versi pemerintah yang akan dirilis Rabu malam oleh EIA.

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $78 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $73 per barel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar