Jumat, 30 November 2018

PT SOLID GOLD BERJANGKA | Rusia-Ukraina Panas,Trump Batalkan Pertemuan dengan Putin

Rusia-Ukraina Panas,Trump Batalkan Pertemuan dengan Putin
PT SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR - Presiden Amerika SerikatDonaldTrump membatalkan rencana pertemuannya dengan Presiden Rusia,VladimirPutin, terkait dengan konfrontasi laut antaraUkraina dan Rusia di lepas pantai SemenanjungKrimea pada Minggu (25/11).

Semula Trump dijadwalkan bertemu di sela-sela pertemuan puncak G20 di Argentina, tetapi pada Kamis (29/11) ia mengumumkan bahwa pertemuannya itu batal.


"Berlandaskan fakta bahwa kapal-kapal dan para pelautnya belum dikembalikan ke Ukraina dari Rusia, saya memutuskan bahwa demi jalan terbaik bagi semua pihak terkait maka saya membatalkan pertemuan yang telah direncanakan...," demikian twit dari presiden AS.

Dalam konfrontasi laut, Rusia menyita tiga kapal Ukraina dan menahan 24 personelnya.Merkel salahkanPutin sepenuhnya Rusia menyebut bentrokan di laut antara Angkatan Laut Ukraina dan Rusia itu sebagai "provokasi". Lebih lanjut dikatakan oleh Putin bahwa Presiden Ukraina, Petro Poroshenko, merekayasa konfrontasi untuk mendongkrak kepopulerannya menjelang pemilihan presiden Maret 2019.


Sementara itu, Kanselir Jerman Angela Merkel menyalahkan Presiden Putin sepenuhnya atas masalah dengan Ukraina.

Ditambahkan ia akan membicarakan masalah itu dengan Putin di sela-sela KTT G20 di Argentina pada Jumat dan Sabtu ini.

"Kami akan memastikan hal ini dilakukan, dan kami meminta Ukraina untuk menempuh jalan serupa karena kami tahu kita hanya bisa menyelesaikan segala masalah dengan cara masuk akal dan melalui dialog.
"Tidak ada solusi militer untuk mengatasi sengketa ini," papar Merkel ketika memberikan keterangan bersama dengan Perdana Menteri Ukraina, Volodymyr Groysman, di Berlin, Kamis (29/11).


Angkatan Laut Rusia menghadang kapal-kapal Ukraina yang dituding memasuki perairan Rusia secara ilegal. (Getty Images)
Sebelumnya, Presiden Ukraina Petro Poroshenko mendesak kepada Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk mengirim armada kapalnya menyusul konfrontasi tersebut.


Peristiwa terjadi ketika dua kapal artileri Ukraina dan kapal tunda berlayar dari Pelabuhan Odessa di Laut Hitam ke Mariupol di Laut Azov.

Ukraina mengklaim pihak Rusia mencoba menghadang tiga kapal itu dan menabrak kapal tunda.
Ketiga kapal tersebut melanjutkan pelayaran ke arah Kerch, tetapi dihadang kapal tanker. Rusia lantas mengerahkan dua kapal tempur dan dua helikopter ke area tersebut. Kapal-kapal Ukraina dituduh memasuki perairan Rusia secara ilegal.


Pihak berwenang Rusia mengakui salah satu kapal patrolinya menggunakan kekerasan untuk menahan tiga kapal Ukraina.

Kamis, 29 November 2018

PT SOLID BERJANGKA | Bagaimana Israel Jadi 'Juara' Mata-Mata


PT SOLID BERJANGKA MAKASSAR - Setelah berkali-kali hanya berkomunikasi lewat para perantara, akhirnya dua pihak itu bertemu di satu hotel di kota Wina, Austria, pada Juni 2017 lalu. Satu pihak adalah Abdullah al-Malihi, orang kepercayaan Pangeran Turki al-Faisal, mantan Kepala Al Mukhabarat Al 'Ammah, dinas intelijen Arab Saudi, dan Nasser al-Qahtani, pejabat senior di Mukhabarat.
Di pihak seberang adalah perwakilan dari NSO Group Technologies, perusahaan asal Israel. 

Dalam pertemuan dua pihak dari dua negara yang tak punya hubungan diplomatik ini, Abdullah al-Malihi menyampaikan bahwa mereka sedang mencari perangkat untuk memata-matai orang-orang yang bisa ‘membahayakan’ kerajaan Saudi.

NSO punya barang yang dikehendaki Kerajaan Saudi. Sebelum mulai ngecap mempromosikan produknya, perwakilan NSO meminta Nasser membeli ponsel iPhone baru dari mal dekat hotel. Yang perwakilan NSO minta hanya nomer telepon di ponsel itu. Dan hanya dalam beberapa menit, tanpa perlu memegang ponsel itu, tanpa Nasser mengklik apa pun, kendali iPhone baru itu sudah diambil alih oleh perwakilan NSO.


Dari laptopnya, perwakilan NSO bisa menghidupkan kamera, mengambil foto peserta rapat, dan merekam suara lewat iPhone milik Nasser. Pameran kehebatan spyware Pegasus 3 milik NSO dalam membobol dan membajak iPhone itu rupanya membuat Abdullah dan Nasser terkesan. Abdullah al-Malihi mengundang W, orang yang biasa mewakili NSO, untuk datang ke Riyadh dan mempertunjukkan kemampuan Pegasus 3 kepada keluarga Kerajaan Arab Saudi.

Dalam pertemuan di Riyadh pada pertengahan Juli 2017 itu lah, disepakati transaksi jual beli Pegasus 3 antara pemerintah Arab Saudi dengan NSO senilai US$ 55 juta atau sekitar Rp 796 miliar. “Saya sepakat dengan W bahwa jatah komisi untukku lima persen dari nilai transaksi,” ujar salah seorang pengusaha dari Eropa yang jadi ‘calo’ transaksi Pegasus 3 dikutip Haaretz, kemarin.

Pegasus 3 ini merupakan pengembangan dari spyware Pegasus yang diduga dipakai oleh pemerintah Uni Emirat Arab untuk menyadap iPhone milik aktivis hak asasi manusia, Ahmed Mansoor, pada Agustus 2016. Dua hari berturut-turut pada 10 dan 11 Agustus 2016, Mansoor mendapat kiriman pesan pendek di ponsel iPhone 6 miliknya. Isi tautan pada dua pesan itu sama-sama ‘menggoda’, menjanjikan daftar tahanan yang mengalami penyiksaan di penjara Emirat Arab.


Untung lah Mansoor waspada dan tak tergoda untuk mengklik tautan itu. Sudah dua kali dia dimata-matai dengan spyware. Alih-alih membuka tautan, Mansoor malah mengirimkan pesan itu ke CitizenLab di Munk School of Global Affairs and Public Policy, University of Toronto, Kanada. Bekerja sama dengan perusahaan keamanan jaringan Lookout Security, CitizenLab menelusuri tautan di iPhone milik Mansoor. Hasilnya, mengarah pada spyware Pegasus yang dibuat oleh NSO.

Pegasus ini lah yang diduga dipakai intelijen Arab Saudi untuk menguping dan melacak jejak wartawan Jamal Khashoggi dan teman-temannya. Di antara teman Khashoggi yang disadap dengan Pegasus adalah komika Ghanem Almasarir dan aktivis Omar Abdulaziz. Ghanem tinggal di London, sementara Omar sudah bertahun-tahun meninggalkan Saudi dan tinggal di Montreal, Kanada.


“Aku tidak terkejut,” kata Omar kepada Vice, beberapa hari lalu. Dia memang sering mengkritik pemerintah Saudi lewat sosial media. Tapi dia sedikit cemas kerabat dan teman-temannya berada dalam bahaya. Wajar saja dia merasa was-was. Sahabatnya, Jamal Khashoggi, mati dibunuh dalam kompleks Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul, Turki, dua bulan lalu. Sekarang Omar merasa bersalah sebab mungkin saja percakapannya dengan Khashoggi ada yang menguping. “Mungkin mereka menguping percakapanku dengan Jamal....Aku merasa bersalah. Aku tak mau ada yang terluka gara-gara percakapan itu.”



Menurut penelusuran CitizenLab sepanjang Agustus 2016 hingga Agustus 2018, jejak Pegasus terlacak di 45 negara. Di antaranya di Singapura, Thailand, India, Pakistan, Brazil, dan Arab Saudi. Ada 36 operator Pegasus yang teridentifikasi CitizenLab.

“Kami dianggap oleh banyak kalangan sebagai yang terbaik,” kata Eran Lerman, purnawirawan Kolonel dari Pasukan Pertahanan Israel dan mantan pejabat di dinas intelijen militer Israel, kepada Vice. Kolonel Eran tak asal membual. Kini Israel menjadi salah satu negara paling maju dalam hal perang siber dan sadap-menyadap, mata-mematai, tak kalah dengan Amerika Serikat, Inggris atau Jerman.

Di Israel, ada lebih dari 400 perusahaan keamanan siber. Dan 27 perusahaan di antaranya, menurut penelusuran Privacy International, punya spesialisasi dalam perang siber dan sadap-menyadap. Belum pula dihitung perusahaan-perusahaan yang didirikan warga Israel dan berkantor pusat di negara lain seperti Circles yang berbasis di Siprus, 3i-Mind yang berkantor di Swiss, Silver Bullet yang bermarkas di Inggris, dan Narus, perusahaan keamanan siber yang diakuisisi oleh Boeing pada 2010.



Perusahaan-perusahaan itu, seperti NSO Group, Elbit System, Elka, Ability, Cellebrite, MER Group, dan Septier, menjual rupa-rupa produk dan jasa, mulai dari perangkat untuk memata-matai jaringan telekomunikasi, sampai spyware untuk menyadap telepon seseorang. Bisnis perangkat mata-mata dan perang siber ini memang sedap. Nilainya terus menggelembung. Tahun lalu, meski transaksi alat mata-mata ini diatur ketat oleh setiap negara, menurut taksiran majalah Forbes, nilainya sudah melampaui US$ 5 miliar, lebih dari Rp 73 triliun. Perusahaan yang umurnya belum lima tahun seperti NSO, nilainya bisa lebih dari US$ 100 juta, sekitar Rp 1,5 triliun.

Dulu, yang namanya perang, selalu tampak terang benderang di depan mata. Senjata yang dipakai maupun kerusakannya jelas kelihatan. Tapi kini, yang namanya perang siber, barangkali hanya segelintir orang yang benar-benar tahu. Kerusakannya, seperti yang disebabkan oleh virus Stuxnet beberapa tahun lalu, tak semua orang bisa melihatnya.

Konon, virus Stuxnet yang mengacaukan program pengembangan nuklir Iran itu, dibikin oleh National Security Agency (NSA) bersama Unit 8200. NSA merupakan ‘telinganya’ intelijen Amerika Serikat, bertugas memantau segala telekomunikasi terkait keamanan negara. Unit 8200 alias Yehida Shmoneh-Matayim, tugasnya mirip dengan NSA. Unit ini ada di bawah komando Dinas Intelijen Militer Israel, Aman.
Unit 8200 ini lah ‘kawah candradimuka’ bagi para insinyur pembuat spyware dan perangkat mata-mata Israel. “Seperti kata ibuku, ‘Unit 8200 adalah perusahaan teknologi terbesar di Israel’,” ujar seorang alumni Unit 8200 kepada Vice. Kecuali dalam hal skala, menurut Peter Roberts, analis di Royal United Services Institute, dikutip Financial Times, Unit 8200 punya kemampuan setara dengan NSA.


Beberapa insinyur yang bekerja di NSO juga merupakan alumni Unit 8200. Di Unit 8200, mereka dilatih bagaimana membobol jaringan telekomunikasi, menyadap tanpa meninggalkan jejak. Kemampuan itu lah yang jadi bekal utama para alumni Unit 8200 (ada lebih dari 10.000 alumni) mendirikan perusahaan keamanan siber. Gil Shwed, pendiri dan bos Check Point Software Technologies, salah satu perusahaan keamanan siber terbesar di Israel, juga Nir Lempert, bos MER Group, misalnya, juga merupakan alumni Unit 8200.
Setiap tahun, ada banyak pemuda dengan energi yang meluap, lapar, dengan kemampuan hebat, direkrut Unit 8200
“Setiap tahun, ada banyak pemuda dengan energi yang meluap, lapar, dengan kemampuan hebat, direkrut Unit 8200,” kata seorang pegawai Unit 8200. Mereka, menurut Lior Div, pendiri Cybereason dan alumni Unit 8200, dipilih dari lulusan-lulusan sekolah terbaik. “Kalian tumbuh besar bersama motto dari Unit bahwa tak ada yang tak mungkin.”

Beberapa tahun kemudian, mereka ‘lulus’ dari Unit 8200 dan tawaran pekerjaan berdatangan. “Kalian tinggal tulis kata Unit 8200 di surat lamaran dan keajaiban akan datang sendiri,” kata Amit Meyer, alumni Unit 8200 kepada The Intercept. Amit memilih jenis pekerjaan yang kurang lazim di antara para alumni Unit 8200, menjadi wartawan.


Gaji di bisnis perangkat mata-mata ini memang gurih benar. Seorang alumni Unit 8200, Yaniv, bukan nama sebenarnya, dapat tawaran gaji puluhan ribu dolar atau ratusan juta rupiah per bulan dari satu perusahaan yang berkantor di Siprus. “Tawaran paling besar yang pernah aku terima adalah mengajar soal keamanan siber di Singapura. Mereka menjanjikan gaji ratusan ribu shekel, lebih dari Rp 500 juta, per bulan....Tapi aku menolak karena ingin tinggal dekat dengan keluarga di Israel,” kata Yaniv kepada Haaretz. Kini gajinya 36.000 shekel, atau Rp 140 juta per bulan.

Sebagian di antara teman-teman mereka memilih bikin perusahaan sendiri. Makanya, di Israel, setiap tahun lahir perusahaan-perusahaan teknologi baru dari para alumni Unit 8200. “Jika kalian amati perusahaan teknologi di Israel, sebagian besar didorong atau didirikan oleh para alumni dinas intelijen, terutama Unit 8200,” kata Yonatan Striem-Amit, alumni Unit 8200 dan Direktur Teknologi di Cybereason, dikutip Miami Herald. Cybereason bermarkas di Boston, Amerika Serikat, tapi juga punya kantor di Tel Aviv, Israel.

Rabu, 28 November 2018

SOLID GOLD BERJANGKA | Darmin: Penyakit Ekonomi Sejak Orde Baru Itu Transaksi Berjalan

Foto: Rengga Sancaya
SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR - Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Darmin Nasution menyebut 'penyakit' perekonomian Indonesia adalah neraca transaksi berjalan yang masih defisit. Saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional bertajuk Adu Strategi Hadapi Perang Dagang, di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Darmin mengatakan 'penyakit' tersebut sudah terjadi sejak orde baru.

"Kita mencoba melihat bahwa penyakit ekonomi kita sejak orde baru itu adalah transaksi berjalannya," kata Darmin.
Darmin menceritakan, pada zaman orde baru posisi CAD sudah di atas 4% terhadap PDB pada tahun 1983. Pada saat itu pun sudah dilakukan deregulasi dan debirokratisasi besar-besaran namun tidak berhasil menekan.

"Defisit itu meningkat pada tahun 1993-1994. Ya dicoba lagi pakai deregulasi, enggak sembuh sampai 1998-1999," ujar Darmin.

Untuk membuat transaksi berjalan keluar dari zona defisit, kata Darmin, pemerintah harus mendorong kinerja neraca modal dan finansial agar tetap surplus. Ini seperti halnya menerbitkan banyak instrumen agar dana-dana segar investor masuk.


"Surplus yang ini menutupi yang itu (transaksi berjalan). Bertambahlah cadangan devisanya. Yang terjadi adalah defisit transaksi berjalan naik, defisit modal dan finansialnya hanya modal saja yang masih sedikit positif," ujar dia.


Sebagai informasi, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal III-2018 mengalami defisit US$4,39 miliar. NPI terdiri dari transaksi berjalan, serta transkasi modal dan finansial.Transaksi modal dan finansial mencerminkan pasokan valas dari investasi di sektor riil dan pasar keuangan.

Sedangkan transaksi berjalan pada kuartal III-2018 defisit US$8,85 miliar atau 3,37% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ini merupakan defisit terdalam sejak kuartal II-2014. Transaksi berjalan menggambarkan pasokan valas dari ekspor dan impor barang dan jasa.

Selasa, 27 November 2018

SOLID BERJANGKA | Pilot Tertidur, Pesawat di Tasmania Lewati Bandara 46 Km

Pilot Tertidur, Pesawat di Tasmania Lewati Bandara 46 Km
SOLID BERJANGKA MAKASSAR - Biro Keselamatan Transportasi Australia (ATSB) kini kasus pesawat kargo yang melewati bandara tujuan sejauh 46 kilometer gara-gara pilotnya dilaporkan tertidur.

Penerbangan kargo Vortex Air dari Kota Devonport di Tasmania menuju pulau King Island tersebut terjadi pada 8 November lalu.

"Selama penerbangan, pilot sempat tertidur, sehingga pesawat tersebut melewati pulau King Island sejauh 46 kilometer," kata ATSB.


Pilot pesawat Piper PA-31 merupakan satu-satunya orang di pesawat ketika pesawat tersebut melewati bandara tujuan sekitar Pukul 7:15 pagi.

Konsultan penerbangan dari Strategic Aviation Solutions Neil Hansford menjelaskan pesawat ini dipastikan menggunakan autopilot.

Dalam kondisi demikian, katanya, jika pilotnya tertidur maka pesawat tersebut akan terus terbang sampai kehabisan bahan bakar.

"Dalam beberapa kasus tangki bahan bakar harus dialihkan, jadi begitu mengalami kekurangan bahan bakar pesawatnya akan jatuh," jelas Hansford.


Dia memperkirakan pesawat ini membawa persediaan bahan bakar untuk kembali ke Devonport atau ke tempat lainnya.

"Artinya pesawat itu kemungkinan bisa sampai ke pesisir negara bagian Victoria jika pilotnya tidak terbangun," tambahnya.

ATSB tidak bersedia menjelaskan bagaimana pihaknya mengetahui insiden ini serta bagaimana pilot tersebut kemudian terbangun.


ABC mendapatkan informasi bahwa penerbangan dari Devonport ke King Island dapat dihubungi oleh pengendali lalu lintas udara di Melbourne atau Devonport.

Hal itu tergantung apakah mereka secara manual mengganti frekuensi. Namun yang jelas tidak ada pengendali lalu lintas udara di King Island.

Aturan ketat
Menurut Hansford, tidak lazim bagi seorang pilot tertidur dalam penerbangan yang relatif singkat sekitar 240 kilometer seperti itu.


"Aturan mengenai pilot mengantuk di Australia sangat ketat sekali," katanya.
"Seharusnya sama sekali tak boleh ada orang yang mengantuk mengambil penerbangan tersebut," tambah Hansford.

Dia mengaku pernah mendengar kasus lain dimana pilotnya sengaja tidur dalam penerbangan menuju Rockhampton di Queensland.

Pilot tersebut, katanya, memasang alarm namun lupa bahwa dia perlu mengganti tangki bahan bakar secara manual selama penerbangan.


Vortex Air merupakan maskapai berusia 25 tahun yang mengangkut barang dan penumpang ke Tasmania, dengan spesialisasi penerbangan carteran.

ATSB menyatakan penyelidikannya akan rampung pada kuartal pertama tahun depan.
ABC telah menghubungi direktur pelaksana Vortex Air, Colin Tucker, untuk dimintai komentar.

Senin, 26 November 2018

SOLID GOLD | Edward Snowden: Bitcoin Akan Punah

Edward Snowden berpendapat Bitcoin tak akan bertahan lama dan bakal punah pada waktunya. Foto: istimewa
SOLID GOLD MAKASSAR - Baru-baru ini, Bitcoin mencatatkan nilai terburuknya sejak September 2017. Harganya saat ini berada di kisaran USD 3.900, atau sekitar Rp 58 juta.


Anjloknya nilai dari mata uang virtual paling populer itu semakin diperparah dengan ungkapan negatif dari Edward Snowden. Pria yang dikenal sebagai whistleblower dari National Security Agency (NSA), badan keamanan nasional AS, mengatakan bahwa Bitcoin akan punah pada waktunya.

Hal ini diungkapkannya dalam sebuah wawancara dengan American Civil Liberties Union (ACLU). Itu adalah organisasi nirlaba yang bergerak di ranah hukum.


Awalnya, Snowden memaparkan pandangannya apakah Bitcoin akan bernilai dalam waktu yang lama. Dalam hal ini, ada dua aspek yang diangkatnya.

Pertama adalah soal kelangkaannya. Saat ini Bitcoin hanya tersedia sebanyak 21 juta keping. Kelangkaannya ini memunculkan kompetisi untuk menambang Bitcoin yang masih tersedia. Hal ini dapat memengaruhi nilainya.


Sedangkan yang kedua adalah, baginya, banyak orang memandang Bitcoin dan mata uang digital lainnya sebagai alat tukar yang bonafide, atau bisa dipercaya, Walau begitu. ia memprediksi Bitcoin hanya akan bertahan dalam jangka pendek.

"Suatu hari Bitcoin akan puna, tapi selama masih ada banyak orang yang ingin memindahkan uang tanpa bank,  cryptocurency tampaknya masih memiliki harga," ujarnya.


Menariknya, Snowden secara pribadi menyukai konsep Bitcoin dan cryptocurrency lainnya. Hal ini karena peluang kemungkinan yang ditawarkannya.


"Jika seorang pemuda di Venezuela ingin mendapat bayaran dari hasil kerja mereka dari orang yang berasal dari Paris, namun terhalang peraturan pemerintah soal perpindahan mata uang, cryptocurrency bisa memungkinkannya," tutur Snowden.