Jumat, 31 Agustus 2018

PT SOLID GOLD BERJANGKA | Energi Perdamaian dari Arena Pertandingan

Energi Perdamaian dari Arena Pertandingan
PT SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR - Sekitar dua pekan lalu, di pesta pembukaan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang di Gelora Bung Karno, tepatnya saat pawai masing-masing kontingen dari negara-negara peserta, kita melihat hal menarik. Saat pawai dari masing-masing kontingen negara peserta tersebut, kontingen Korea Selatan dan Korea Utara bersatu di bawah bendera Unifikasi Korea. Saat kontingen Unifikasi Korea memasuki stadion, duta besar dari kedua negara tersebut berdiri bersama, bergandengan tangan, dan melambai pada para atlet. Itu momen berharga dan membuktikan bahwa perhelatan olahraga Asian Games bisa menciptakan kerja sama, keharmonisan, dan perdamaian antara dua negara yang selama ini dikenal sering bersitegang. 

Persatuan Korea Selatan dan Korea Utara dalam bendera Unifikasi Korea merupakan komitmen antarkedua negara tersebut untuk bekerja sama di bidang olahraga. Unifikasi Korea memang tak berpartisipasi di semua cabang olahraga, namun hanya di tiga cabang. Yakni kano, dayung, dan basket putri. Meski begitu, dari kerja sama tersebut, setidaknya kita melihat adanya percikan perdamaian yang bisa dilahirkan dari gelaran Asian Games. Dengan adanya tim Unifikasi Korea, berarti kita akan melihat persatuan, kerja sama, perpaduan, dan keharmonisan yang ditunjukkan para atlet dari kedua negara dalam sebuah tim.


Persatuan dan kerja sama antarkedua negara tersebut sudah menghasilkan prestasi. Pada Rabu (29/8), Presiden Joko Widodo dalam akun Instagram mengunggah ucapan selamat pada tim Korea Bersatu (Unifikasi Korea) atas raihan medali emas yang diperoleh dari nomor perahu naga putri 500 meter. Terlihat foto beberapa atlet Korea Bersatu merayakan kemenangan sembari membentangkan bendera putih bergambar peta Semenanjung Korea, bendera resmi kontingen Unifikasi Korea (Korea Bersatu). "Dalam olahraga, mereka melupakan perbedaan, bahkan (melupakan) perang," begitu caption pada unggahan tersebut.

Medali emas yang diraih tim Korea Bersatu menggambarkan bahwa ketika perbedaan dan konflik dilupakan, semangat persatuan dan kerja sama dijunjung tinggi, kekuatan dan prestasi akan datang menghampiri. Ada kekuatan luar biasa yang bisa kita bangun dengan kerja sama, keharmonisan, dan persatuan. Inilah yang saya maksud sebagai energi perdamaian dari arena olahraga di momentum Asian Games 2018 ini. Energi tersebut terpancar dari berbagai momen, baik ketika pertandingan berlangsung, maupun dari sikap ketika para atlet menerima hasil pertandingan. 


Di arena pertandingan, para atlet saling berhadapan atau bertanding. Namun, bertanding bukan berarti melupakan nilai-nilai penghormatan dan penghargaan pada lawan. Di lapangan pertandingan, di samping harus bekerja keras membela negaranya, para atlet juga dituntut menjunjung tinggi sportivitas dan solidaritas. Dari arena bulutangkis, saat final beregu putra, tepatnya saat pebulutangkis Indonesia Anthony Ginting bertanding dengan Shi Yuqi dari China, terjadi momen mengharukan. Menjelang game point, Anthony Ginting mengalami cedera yang membuatnya kesulitan berjalan, namun tetap berjuang melawan rasa sakitnya.

Meski akhirnya kalah, Ginting mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat Indonesia. Shi Yuqi juga mendapat apresiasi karena tidak protes saat Ginting meminta time out saat merasa kesakitan karena cedera. Pebulutangkis dari China tersebut juga menghampiri Ginting di akhir pertandingan dan menggenggam tangannya sebagai bentuk sportivitas sekaligus solidaritas. Momentum tersebut telah menarik perhatian banyak kalangan, terlebih warganet, dan menjadi viral.


Perjuangan Ginting melawan rasa sakit dan terus melanjutkan pertandingan membuatnya menjadi pahlawan dan pantas mendapat apresiasi besar dari masyarakat Indonesia. Sedangkan, sikap Shi Yuqi yang menunjukkan simpati dan solidaritas pada Ginting juga patut diapresiasi. Baik Ginting maupun Shi Yuqi telah menunjukkan bagaimana menjadi atlet yang menjunjung tinggi kerja keras, perjuangan, sportivitas, maupun solidaritas. Lagi-lagi, dari arena Asian Games 2018 kita menemukan nilai-nilai berharga. Kita tak sekadar disuguhi pertandingan berebut medali. Lebih dari itu, lewat perjuangan, kegigihan, dan sikap para atlet, kita menemukan nilai-nilai penghormatan, penghargaan, persatuan, kerja sama, dan solidaritas yang bertaburan di sepanjang gelaran pesat olahraga terbesar se-Asia tersebut.

Oase Menyejukkan

Cerita manis dari arena Asian Games berlanjut. Momentum yang baru saja terjadi adalah ketika atlet pencak silat Indonesia, Hanifan Yudani Kusumah, secara spontan memeluk Presiden Jokowi dan Prabowo setelah dinyatakan menang dan mendapatkan medali emas. Presiden Jokowi saat itu hadir memberikan dukungan pada para atlet pencak silat yang sedang bertanding, sedangkan Prabowo adalah Ketua Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dan Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat). Beberapa jam setelah kejadian tersebut, potret Hanifan memeluk Jokowi dan Prabowo langsung viral di media sosial, bahkan menjadi headline di banyak media cetak esok harinya. 



Adegan dalam potret tersebut menjadi begitu berarti, berkesan, dan seakan menjadi oase menyejukkan di tengah persaingan politik dan perdebatan yang mulai memanas di masyarakat. Kita tahu, Jokowi dan Prabowo adalah dua sosok yang akan kembali bertarung dalam Pilpres 2019 mendatang. Sebagian orang mungkin bisa tetap skeptis menyikapi kejadian tersebut dan mengatakan mereka (Jokowi dan Prabowo) "dipeluk" (oleh Hanifan), bukan saling berpelukan. Tapi, bagaimanapun Hanifan sang atlet silat yang secara spontan memeluk keduanya ibarat mewakili kerinduan kita semua akan keharmonisan dan rasa persaudaraan sesama warga bangsa. Masyarakat pada dasarnya rindu akan perdamaian dan kesejukan.

Momentum tersebut juga menggambarkan bagaimana olahraga, dalam hal ini pencak silat, telah mampu menyatukan perbedaan. Jika kita perhatikan dalam videonya, ketika Hanif merangkul Jokowi dan Prabowo secara bersamaan, kedua tokoh itu seketika langsung menerima pelukan tersebut dan merapatkan pelukan masing-masing. Sontak para tokoh maupun seluruh penonton bertepuk tangan. Para awak media tak mau melewatkan adegan tersebut. Hanif telah melakukan sesuatu yang begitu berarti dan berharga bagi bangsa ini. Selain mengharumkan nama Indonesia lewat medali emas, dari arena olahraga pencak silat ia juga telah memancarkan spirit persatuan dan perdamaian pada seluruh masyarakat Indonesia. 


Asian Games 2018 Jakarta-Palembang tinggal beberapa hari lagi. Hingga Kamis (30/8), Indonesia sudah berada di posisi ke-4 dengan total 88 medali (30 medali emas, 22 medali perak, 36 medali perunggu). Sebuah pencapaian yang sudah jauh melampaui target, mencetak sejarah baru, dan patut membuat bangsa Indonesia bangga dengan para atletnya. Di samping telah menorehkan prestasi bersejarah bagi Indonesia, Asian Games 2018 juga meninggalkan catatan manis berupa momen-momen inspiratif dan mengharukan yang memancarkan percik-percik energi persatuan dan perdamaian bagi kita semua. 

Selasa, 28 Agustus 2018

SOLID BERJANGKA | Adu Hebat Teknologi Korea vs AS di Berlin

Perhelatan IFA di Berlin. Foto: istimewa
SOLID BERJANGKA MAKASSAR - Korea Selatan dan Amerika Serikat, diwakili perusahaan teknologi andalan masing-masing, sepertinya akan bersaing panas di perhelatan IFA 2018 yang berlangsung 31 Agustus hingga 5 September. Dalam salah satu pameran teknologi terbesar itu, kedua negara tampak sudah menyiapkan senjata masing-masing untuk jadi yang terunggul.


Rumah pintar adalah topik panas yang akan dihadirkan oleh mereka. Untuk itu, Negeri Ginseng mengutus Samsung dan LG dalam memamerkan teknologi di sektor tersebut.

Nama pertama sudah mengumumkan bahwa mereka akan menggelar konferensi pers pada 30 Agustus mendatang, atau tepat satu hari menjelang penyelenggaraan IFA 2018. "Do What You Can't" jadi slogan mereka terkait pertemuan tersebut.

Sedangkan LG lebih memilih untuk mentas pada 31 Agustus yang bertepatan dengan hari pertama penyelenggaraan IFA 2018. Cho Sung-jin selaku Vice Chairman LG Electronics dan Park Il-pyung sebagai CTO perusahaan tersebut akan menjadi pembicara utama dalam acara bertajuk "Think Wise, Be Free: Living Freer with AI" itu.


Meski berasal dari negara yang sama, persaingan juga tak bisa lepas antara keduanya. Baik Samsung dan LG diperkirakan sama-sama fokus dalam perangkat seperti televisi dan peralatan dalam rumah berbasis kecerdasan buatan.

Samsung pun sudah mengumumkan akan memperkenalkan televisi 8K QLED anyarnya. Sekadar informasi, asal muasal nama 8K diambil dari resolusi horizontal televisi yang hampir mencapai 8000, tepatnya 7680, Sedangkan resolusi vertikalnya mencapai 4320.

Menyadari belum banyak konten video yang mengusung kualitas 8K, mereka juga berencana melengkapi televisi barunya itu dengan perangkat yang mampu meningkatkan video FHD atau UHD menjadi 8K. Ini merupakan bagian dari rencana mereka dalam mendominasi pasar televisi berkualitas 8K.


Disebutkan juga bahwa Samsung akan menyediakan sektor khusus untuk Bixby. Bukan tidak mungkin, mereka akan memamerkan pengembangan terbaru dari Bixby 2.0 yang ditanamkan pada Galaxy Note 9.

Sedikit mirip, LG juga dikabarkan akan menampilkan teknologi 8K, walau masih belum jelas apakah televisi yang menjadi perangkatnya atau bukan. Perkiraan lain menyebut jika perusahaan tersebut akan lebih condong dalam menampilkan televisi micro LED mereka di sana.

Selain itu, untuk pertama kalinya, mereka akan memamerkan Styler ThinQ yang diberikan teknologi speech recognition berbasis kecerdasan buatan di IFA 2018. Speaker pintar X Boom AI ThinQ yang didukung Google Assistant turut disebut akan naik panggung di sana. Ya, platform kecerdasan mereka yang bernama Deep ThinQ tampaknya akan dikedepankan oleh LG.


Di sisi lain, berdasarkan situs resmi IFA, Microsoft diperkirakan bakal tampil dalam pameran tersebut. Berdasarkan deskripsi yang ditampilkan, tampak perusahaan besutan Bill Gates tersebut akan fokus pada kecerdasan buatan dan Internet of Things (IoT) di sana.

Raksasa e-commerce Amazon pun diperkirakan tak mau ketinggalan momen. Perusahaan besutan Jeff Bezos ini diprediksi akan berbicara banyak mengenai penggunaan Alexa di kehidupan sehari-hari penggunanya.

Menariknya, Microsoft dan Amazon belum lama ini sudah meluncurkan integrasi antara asisten digital buatannya masing-masing, yaitu Cortana dan Alexa. Implementasinya adalah user bisa memanggil Cortana untuk mengaktifkan kemampuan dari Alexa, begitupun sebaliknya. Diharapkan, pada IFA 2018 keduanya bisa memberi informasi lebih lanjut mengenai kolaborasi ini.


Di samping adu kebolehan antara dua negara tersebut, perwakilan Jepang juga tak mau kelewatan untuk unjuk gigi memamerkan perangkat pintarnya di IFA 2018. Salah satunya adalah Sony yang tampaknya akan memperkenalkan versi terbaru dari speaker pintarnya yang bernama LF-S50G. Televisi anyar besutannya juga diperkirakan bisa melenggang di pameran tersebut.

Senin, 27 Agustus 2018

SOLID GOLD | Pidato Gubernur The Fed Bawa Bursa Saham Asia Menguat

Pidato Gubernur The Fed Bawa Bursa Saham Asia Menguat
SOLID GOLD MAKASSAR - Bursa saham utama kawasan Asia dibuka menguat untuk mengawali pekan ini: indeks Nikkei naik 0,41%, indeks Kospi naik 0,18%, indeks Shanghai naik 0,25%, indeks Strait Times naik 0,32%, dan indeks Hang Seng naik 1,25%.


Bursa saham Benua Kuning berhasil mengekor bursa saham AS yang menguat pada perdagangan terakhir di pekan kemarin (24/8/2018). Kala itu, Dow Jones naik 0,52%, indeks S&P 500 menguat 0,62%, dan indeks Nasdaq bertambah 0,97%.

Pidato Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell di Jackson Hole memberikan suntikan tenaga bagi bursa saham Negeri Paman Sam, sebelum akhirnya menjalar ke Asia. Dalam pidato tersebut, Powell menyebutkan kenaikan suku bunga acuan merupakan langkah terbaik untuk melindungi pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam.


"Ekonomi kita kuat. Inflasi mendekati target 2%, dan banyak orang sudah mendapatkan pekerjaan. Jika pertumbuhan pendapatan dan penciptaan lapangan kerja ini terus terjadi, maka kenaikan suku bunga acuan secara bertahap memang sudah selayaknya dilakukan," sebut Powell, mengutip Reuters.


Pernyataan Powell tersebut mengonfirmasi bahwa ekonomi AS memang sedang berada dalam kondisi yang baik. Di sisi lain, Powell juga menyebut bahwa sejauh ini AS belum mengalami masalah inflasi. Hal ini lantas diartikan pelaku pasar bahwa the Fed memang masih akan menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini, namun kenaikannya belum tentu mencapai 4 kali seperti yang direncanakan.

Selain itu, langkah People's Bank of China (PBoC) selaku bank sentral China yang mengubah metodologi penentuan nilai tengah mata uang yuan juga membuat investor dengan nyaman masuk ke bursa saham.


"Akibat Dollar Index yang kuat dan friksi dagang, tercipta sebuah aktivitas pro-cyclical di pasar valas. Sentimen pro-cyclical ini membuat PBoC menetapkan pendekatan counter-cyclical untuk penentuan nilai tengah harian yuan,".


Mengutip Financial Times, kebijakan ini dapat membantu PBoC menstabilkan yuan tanpa harus mengorbankan cadangan devisa terlalu banyak. Walaupun masih melemah di pasar spot dan offshore melawan dolar AS pada pagi hari ini, ada optimisme bahwa kedepannya pelemahan yuan bisa diredam. Hal ini membuat instrumen saham menjadi menarik bagi investor.

Kamis, 23 Agustus 2018

PT SOLID BERJANGKA | Cadar, Senapan, dan Kata "Pantas" yang Terlupakan

Cadar, Senapan, dan Kata Pantas yang Terlupakan

Di suatu zaman yang labil, dengan pijakan kebenaran yang rapuh, sementara setiap detik kita terus dihajar oleh air bah informasi gado-gado tanpa jeda, pada titik manakah kita sekarang memaknai kata "pantas"?

"Mas, mbok jangan ngomong gitu. Rasanya tidak pantas." 

"Lho! Faktanya kan memang seperti yang kusampaikan ini, to? Coba deh sampeyan melihat masalah ini secara objektif!"



"Bukan begitu, Mas. Ini soal kepantasan. Ada situasi-situasi yang membuat kita tidak melulu harus berkutat pada benar dan salah, Mas. Meskipun yang kita lakukan benar, atau minimal tidak salah, tapi kadangkala tidak pas. Kurang pantas, gitulah."

"Sebentar, to. Ayo kita sama-sama lihat data dulu. Mana datamu? Kita adu saja data dan argumen, catatan dan kesaksian riil, jangan pakai hal-hal normatif yang abstrak! Publik berhak mengakses informasi yang benar!"


***

Auw auw auw. Begitulah, hehehe. Sekarang ini rasanya kita sangat tergila-gila dengan data. Kita dimabuk oleh fakta-fakta keras, catatan-catatan sejarah, deretan angka statistik, bukti-bukti tak terbantahkan, kebenaran positivistik, dan apa pun yang bau-baunya lebih dekat ke soal ilmiah ketimbang dimensi rasa-pangrasa, kalau istilah kejawennya.


Makanya, kesaksian dalam sebuah intrik politik, sebagai contoh, harus disebarkan sedetail-detailnya ke haribaan publik. Bahwa kesaksian itu akan membuat kita menjauh dari kemaslahatan bersama, rentan memicu fitnah lapis pertama hingga lapis ketujuh, tidak jadi masalah besar. Toh yang penting kita mengabdi kepada kebenaran objektif. Begitu, bukan?

Semua itu kian mengeras karena kita semakin terbiasa berinteraksi di internet, lalu tanpa sadar membentuk-ulang pola-pola interaksi kita menjadi mirip pola interaksi di internet, dunia yang konon maya padahal sangat nyata itu.



Dengan ilusi seolah-olah dunia cyber semu belaka, kita pun kehilangan kekang psikologis. Kita tertipu bayangan yang tak henti meyakinkan imajinasi kita bahwa kita sedang berbicara di dimensi sebelah sana. Padahal, sesungguhnya kita ini ya di sini-sini saja, yang kita ajak berbincang juga manusia-manusia biasa, dan dalam relasi antarmanusia ukuran pantas-tak-pantas itu sesungguhnya senantiasa ada.

Nah, ini ada cerita. Kemarin muncul satu peristiwa, yang sepertinya membuat kita lagi-lagi bergulat bersama isu kepantasan melawan isu kebenaran objektif. Kejadiannya di Probolinggo, Kota Bestari itu.


Alkisah, ada sebuah video yang viral di media sosial, menampilkan sepasukan anak yang tengah mengikuti pawai HUT ke-73 RI. Yang memicu kekagetan publik adalah kostum mereka. Mereka, anak-anak (yang semestinya) perempuan itu, tampak mengenakan baju panjang hitam, bercadar, dan masing-masing menenteng senapan mainan.


Sontak, kehebohan meletup. Dugaan-dugaan keras tentang ideologi ekstrem bermunculan. Saya pribadi pun larut pada awalnya, hingga kemudian datang informasi bahwa anak-anak itu berada di bawah asuhan sebuah taman kanak-kanak yang berlokasi di kompleks Kodim setempat.

Ya ya ya, bukan berarti saya pemuja tentara, tapi toh yang namanya Angkatan Darat saya kira masih tetap bonafid dalam perkara penjagaan ideologi bangsa (sungguh, saya sangat ingin membubuhkan tanda kurung lapis enam untuk kata "ideologi bangsa", namun rasanya kok kurang pantas juga hehehe.)

Pertanyaannya kemudian, lalu apa arti ini semua? Kenapa anak-anak itu didandani begitu rupa? Seberapa relevan kostum semacam itu dengan gelaran acara HUT Republik Indonesia?


Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus bergulir, jawabannya berbenturan satu sama lain, dan akhirnya mencapai titik panasnya. Ada yang berdiri di sudut ekstrem dengan prasangka persebaran ide-ide islamis radikal. Ada yang mempertanyakan keadilan sikap dan pikiran dengan mengatakan bahwa bentuk senjata apa pun tidak layak dijadikan mainan anak-anak. Tak ketinggalan, banyak juga yang membalas dengan tudingan stigma negatif atas perempuan bercadar, islamofobia, dan seterusnya.


Saya tetap merasa ada yang tidak pas di sini. Tidak pantas, begitu.

Tentu saja, ketidakpantasan itu bukan pada perkara cadar. Stigma negatif atas perempuan bercadar memang mewabah. Islamofobia itu ada, dan harus diakui itu ada. Namun, jelas itu bukan sikap saya. Saya punya beberapa kawan bercadar, dan mereka baik-baik saja. Salah seorang bibi saya sendiri bercadar, dan dia bukan tukang meledakkan bom. Saya punya sahabat-sahabat yang istri mereka bercadar, dan mereka sama sekali bukan propagandis kekerasan. Dan, jelas ada ribuan perempuan bercadar lainnya yang bukan teroris.

Pendek kata, membenci cadar dan mengatakan cadar simbol teroris adalah sikap tidak adil bagi para perempuan bercadar yang cinta perdamaian.

Nah, lalu apa?

"Apaaa?" Sayup-sayup terdengar suara Jokowi yang sambil membuka helmnya mengucapkan kata tersebut, seperti pada video pembukaan Asian Games yang bikin ribut.

***

Kemudian muncullah seorang profesor sains yang cerdas dan hebat. Dia menulis seperti ini:

"Karnaval Agustusan bawa replika senjata, itu heroisme. Tapi bila anaknya pakai cadar, jadi radikalisme. Situ sehat?"


Saya merenung dalam-dalam. Logis sekali unggahan Facebook dari Pak Profesor itu. Sangat masuk akal. Dari situ terbongkar bahwa ada sikap timpang dan tidak fair dalam cara berpikir banyak orang, termasuk saya.

Sialnya, yang tampak logis pada awalnya itu pelan-pelan luntur, karena tiba-tiba tebersit satu gambaran usil di otak saya.

"Begini, Mas Prof. Ada gambar palu dipasang-silang dengan gambar tang, itu logo toko besi Baja Cemerlang. Tapi, bila tangnya diganti gambar arit, jadi komunisme. Situ sehat?"




Lha lha lha. Benar, kan? Apakah artinya orang Indonesia yang kaget dan baper saat melihat simbol palu-arit itu tidak sehat?


Saya rasa, problem pada logika Pak Profesor itu ada pada pemaknaan atas simbol. Yang namanya simbol toh tidak bisa dicuil-cuil. Palu dan arit pada simbol komunisme itu sebuah rangkaian. Kita tidak perlu mempersoalkan gambar palu-saja, atau arit-saja, kecuali Anda mau menggelar sweeping di toko-toko besi dan di sawah-sawah.

Berbeda halnya jika palu dipadu dengan arit dalam satu tampilan, lalu muncul di kaos anak-anak muda caper di negeri ini, maka visualisasi itu akan memunculkan satu kesan: tidak pantas. Tidak elok. Mungkin maksudnya merombak stigma dan melancarkan kritik historis, tapi yang terjadi malah memperkeruh situasi di tengah masyarakat yang memang masih minim literasi.

Demikian juga pada cadar dan senapan. Cadar-saja tentu tidak masalah. Saya tidak akan ikut rewel jika ada pawai anak-anak memakai cadar. Meski demikian, kombinasi antara cadar dan senapan itu mau tak mau, suka tidak suka, menyeret kita kepada bayangan-bayangan tak bagus di negeri-negeri jauh sana.

"Ya beda dong. Kalau soal komunis, negeri kita memang menjalani pengalaman sejarah yang traumatis. Kalau cadar dan senapan kan tidak?"

Itulah. Kadang kita lengah, mempersempit makna "pengalaman" sebatas pengalaman-pengalaman fisik semata. Padahal, di masa kejayaan digital seperti sekarang ini, yang disebut pengalaman itu sudah bercampur baur antara fisik dan nonfisik. Kita melihat, kita mendengar, kita mengakses, kita terpapar dengan berita-berita, itu pun bentuk-bentuk nyata pengalaman.

Para perempuan bercadar-saja memang banyak yang baik-baik saja, dan saya yakin sebagian besar mereka baik-baik saja. Artinya, stigma teroris kepada perempuan bercadar-saja itu label jahat, rasis, dan tidak manusiawi. Tapi, perasaan takut kepada perempuan bercadar-dan-bersenapan, apakah itu bentuk ketidakwajaran di saat "pengalaman-pengalaman" kita atas visualisasi seperti itu nyaris semuanya terkait hal buruk?


Beberapa kali saya bilang kepada teman-teman bercadar, agar stigma negatif atas cadar itu terkikis, semestinya mereka menampakkan sikap-sikap baik di tengah masyarakat sambil membawa identitas mereka itu. Sama dengan ketika dulu kami masih tinggal di Australia dan menjadi minoritas muslim yang kadang menjadi korban prasangka, saya selalu meminta istri saya yang berjilbab untuk berbuat baik di area publik. Menolong ibu-ibu manula yang kerepotan dengan barang belanjaannya, misalnya.

Malangnya, saya tak menemukan ide bagaimana agar stigma atas perempuan bercadar-dan-bersenapan terkikis. "Ikutlah gotong royong di kampung sambil tetap memakai cadar dan memanggul senapan AK-47, Mbak." Kan tidak mungkin saya bilang begitu, karena perempuan bercadar-dan-bersenapan yang oke-oke saja memang tidak pernah hadir dalam pengalaman-pengalaman kita.

Walhasil, saya tetap merasa bahwa mendandani anak-anak dengan cadar dan senapan (bukan cadar saja atau senapan saja, melainkan cadar dan senapan) bukanlah tindakan yang pantas secara "kesepakatan awam". Kurang elok, kurang sadar situasi, kurang peka sosial, dan, ya, intinya kurang pantas.

Benar, belakangan terungkap situasi riil di Probolinggo waktu itu yang tidak membuktikan sama sekali bahwa ada ideologi-ideologi ekstrem dalam karnaval tersebut. Rilisnya sudah tersebar di mana-mana. Saya pun tidak menyalahkan guru-guru TK itu secara hukum, apalagi menyalahkan anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Namun, untuk menyatakan bahwa dandanan itu tidak pantas, masihkah sulit diterima?

Mungkin di zaman ini ungkapan "tidak pantas" kurang gampang diterima. Itu ukuran yang terlampau abstrak, tidak akuntabel, dan kurang bergengsi. Nasibnya jadi agak sama dengan kata "kejujuran" yang kurang keren, karena lebih keren jika kita melengkapinya menjadi "kejujuran ilmiah". Tak bedanya dengan kata "dosa" yang juga tak lagi mentereng, sebab yang mentereng adalah jika kita mengucapkannya sebagai "dosa politik".

Situ sehat? Saya akui, saya mungkin memang kurang sehat. Tapi, rasanya saya masih ingin bersikap yang pantas.

Selasa, 21 Agustus 2018

SOLID BERJANGKA | Pengorbanan Ibrahim dan Pendidikan Anak

Pengorbanan Ibrahim dan Pendidikan Anak
SOLID BERJANGKA MAKASSAR - Momentum haji adalah napak tilas seorang bapak bernama Ibrahim dan seorang anak bernama Ismail, yang teguh prinsipnya dalam hidup. Keduanya saling mengasihi dan menyayangi, tetapi karena perintah dari Tuhan keduanya berani mengorbankan kasih sayang sementara untuk meraih kasih sayang abadi. Kisah inspiratif Ibrahim dan Ismail menjadi refleksi sangat baik di tengah tragedi kekerasan anak yang tiada henti. 

Anak-anak sebenarnya adalah korban, karena keseharian hidup mereka selalu "dikorbankan" di tengah banjir media dan teknologi informasi yang dipenuhi virus yang merusak nalar anak. Anak-anak akhirnya jatuh dalam kenistaan, yang sama sekali tidak mereka bayangkan. Orangtua dan sekolah seringkali kaget, padahal kasus kekerasan anak selalu terjadi dalam setiap waktu. 

Akhir pekan lalu, bangsa kita dikejutkan oleh viral video dan foto sekolah TK di Probolinggo yang merayakan 17 Agustus dengan pawai memakai gaun hitam/burqa sambil menyandang replika senjata. Ironis, anak-anak usia dini sudah dibangun persepsi kekerasan yang menyedihkan. Sebelumnya, kasus kekerasan anak PAUD juga tersebar luas di media sosial. Anak-anak menjadi korban kekerasan yang keluar dari amanat Pancasila dan UUD 1945.


Dalam konteks inilah, Nabi Ibrahim sangat tepat dijadikan refleksi untuk mendesain kembali pola pendidikan yang ramah bagi anak. Pengorbanan dan perjuangan Ibrahim sangat inspiratif, bisa menjadi rujukan utama orangtua, sekolah, dan pemerintah dalam mendidik generasi Indonesia masa depan. Ibrahim bukan saja menyebarkan risalah (agama), tetapi juga memberikan strategi mendidik anak yang tepat. Terbukti, sang putra Ismail menjadi sosok anak yang teguh dengan keyakinan, berani mengorbankan dirinya untuk memenuhi tugas dari Allah, bahkan meyakinkan bapaknya, Ibrahim untuk segera menyembelihnya. 


Mendidik Jiwa


Ibrahim tidak pernah mengajarkan kekerasan dalam hidupnya. Ibrahim mengajarkan bahwa pendidikan haruslah wujud lahiriah dari keyakinannya. Pendidikan pertama-tama adalah mendidik jiwa manusia semakin teguh dan yakin kepada Tuhan. Ini terekam sangat jelas dalam QS Al-Baqarah ayat 132, "Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam."


Pendidikan, bagi Ibrahim, adalah mengajarkan manusia untuk hidup dan mati yang harus dijalani dengan penuh keyakinan (Islam). Tanpa keyakinan, maka akan lahir kebimbangan dan keraguan. Anak yang tumbuh dengan penuh keyakinan, maka menghadapi problem masa depan bisa mandiri tanpa ragu dan bimbang.

Ibrahim juga melihat pendidikan sebagai langkah menuju kemandirian: mampu menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Kalau sudah bisa memimpin diri sendiri, maka bisa memimpin masyarakat, bangsa, dan negara. Ini terekam sangat jelas dalam QS Al-Baqarah ayat 124, "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata: (Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim."

Ibrahim mendidik anak-anaknya menjadi imam yang menyeru kebaikan, menegakkan keadilan, dan tanpa lelah berjuang demi kemanusiaan. Kemudian membuat rumahnya sebagai sekolah bagi keluarganya. Karena pendidikan pertama, bagi Ibrahim, adalah keluarga. Keluarga merupakan basis paling utama dalam pendidikan, baru kemudian sekolah dan masyarakat. Makanya, dalam berbagai ayat Alquran, Ibrahim selalu memberikan wasiat kepada anak-anaknya untuk teguh menjaga prinsip dan keyakinan. Keluarga Ibrahim adalah benteng utama membangun generasi.

Pendidikan ala Ibrahim juga sangat menekankan akhlak (budi pekerti). Walaupun Ibrahim berbeda keyakinan dengan bapaknya, tetapi Ibrahim sangat menghormati bapaknya. Ibrahim tetap berdakwah kepada ayahnya, tetapi soal mengikuti atau tidak, itu sepenuhnya hidayah dari Allah. Makanya, Ibrahim tetap mendoakan bapaknya agar mendapatkan ampunan dari Allah. Ini terekam dalam QS Al-Mumtahanah ayat 4, "Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah." 

Ibrahim sangat menjaga akhlak kepada orangtuanya. Ini juga ia ajarkan kepada anak-anaknya. Akhlak menjadi pegangan utama, sehingga nilai-nilai ajaran yang diajarkan bisa menancap dalam hati sang anak. Hati yang teguh dan tulus bisa membuka pencerahan batin yang sangat dinantikan. Bisa melahirkan generasi yang siap berjuang untuk bangsa dan negara. 


Menyemaikan Kedamaian


Kekerasan yang melanda dunia pendidikan harus segera dihentikan. Pendidikan ala Ibrahim bisa menjadi oase bagi proses pembelajaran dalam dunia pendidikan. Ibrahim langsung memberikan keteladanan kepada anak-anaknya, nasihat, mengajak dialog dan berdebat, sehingga pendidikan berlangsung dengan kondusif. Semuanya dilandasi dengan cinta dan kasih sayang serta mencari rida Allah. Dalam diri Ibrahim selalu dipenuhi kedamaian, sehingga pendidikan yang ia jalankan menghasilkan generasi yang cinta damai. Ismail adalah karya nyata Ibrahim dalam menyemaikan kedamaian, sehingga Ismail tidak jadi disembelih, diganti dengan kambing.

Etos pendidikan yang luhur, penuh cinta dan kedamaian inilah yang mesti digerakkan di Indonesia. Kekerasan hanya menjadikan anak sebagai korban. Kalaupun terjadi kekerasan, maka merujuk kepada Ibrahim, semua bisa didiskusikan dengan baik dan penuh kekeluargaan. Apa yang dilakukan Ibrahim menegaskan bahwa pendidikan mestinya didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam sebagaimana yang tercantum dalam Alquran dan al-hadis serta dalam pemikiran para ulama dalam praktik sejarah umat manusia. 


Etos pendidikan ala Ibrahim menjadi penggerak bangsa ini untuk menyelamatkan anak-anak bangsa dari kekerasan. Kita tanamkan kasih sayang dan cinta damai, sehingga anak bangsa menjadi oase bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.