Rabu, 07 Maret 2018

SOLID GOLD BERJANGKA | Wall Street Menguat meski Potensi Perang Dagang Kembali Mencuat

https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 07 278 1868958 wall-street-menguat-meski-potensi-perang-dagang-kembali-mencuat-2Eg6Ex8zIv.jpg
SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR – Saham-saham di Wall Street mencatat kenaikan tipis pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), setelah berfluktuasi karena investor khawatir dengan prospek perang dagang menyusul sinyal beragam dari Washington mengenai apakah Presiden AS Donald Trump akan menindaklanjuti rencana pengenaan tarifnya.


Namun demikian, pasar saham AS didukung oleh berita bahwa Korea Utara terbuka terhadap kemungkinan perundingan dengan Amerika Serikat mengenai denuklirisasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average berakhir sedikit lebih tinggi 9,36 poin atau 0,04% menjadi 24.884,12 poin. Indeks S&P 500 meningkat tipis 7,18 poin atau 0,26% menjadi ditutup di 2.728,12 poin. Indeks Komposit Nasdaq bertambah 41,30 poin atau 0,56% menjadi berakhir di 7.372,01 poin.


Ekuitas AS diperdagangkan lebih rendah di awal sesi setelah laporan media pada Selasa 6 Maret 2018 menyatakan bahwa penasihat ekonomi utama Presiden Donald Trump, Gary Cohn, dapat meninggalkan pemerintahan jika tarif yang diajukan oleh presiden diterapkan.


Trump mengumumkan rencana untuk memberlakukan tarif pada impor baja dan aluminium pekan lalu. Banyak yang khawatir bahwa tarif yang diusulkan akan meningkatkan prospek perang dagang dan merugikan ekonomi AS.

Trump mengulangi rencananya untuk menerapkan tarif impor pada baja dan aluminium dengan mengatakan bahwa “perang dagang tidak begitu buruk”, sekalipun anggota parlemen seperti Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell meningkatkan seruan untuk membatalkan proposal tersebut.


Sebelumnya para analis mengatakan beberapa investor mulai bertaruh bahwa Trump tidak akan menindaklanjuti proposal tersebut, yang mereka lihat sebagai taktik negosiasi dalam perundingan perdagangan. Tapi keuntungan pasar saham dibatasi oleh ketidakpastian sepanjang hari.

“Pasar tidak ingin mendengar ketidakpastian, pasar ingin mendengar satu atau lain cara,” kata Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer di Independent Advisor Alliance di Charlotte, North Carolina.

 
“Jika ketakutan terburuk kami dikonfirmasi, pasar akan memiliki kerugian lebih besar dari yang kami lihat minggu lalu. Demikian juga jika kita tidak akan memiliki perang perdagangan, pasar akan naik lebih tinggi,” kata ahli strategi investasi di Schroders Investment Management Jonathan Mackay di New York,
Kekhawatiran pasar sedikit berkurang pada Senin 5 Maret 2018 setelah Trump men-tweet bahwa rencana tarif bisa hilang jika kesepakatan NAFTA baru & adil ditandatangani

Selasa, 06 Maret 2018

SOLID BERJANGKA | Ekstremisme Sejarah dalam Dua Monumen Soeharto

Ekstremisme Sejarah dalam Dua Monumen Soeharto
SOLID BERJANGKA MAKASSAR – Maret telah tiba. Ini “bulan suci Soeharto”. Pada Maret ini ada dua di antara sekian pasak legitimasi historis kekuasaan panjang Soeharto, yakni tanggal 1 dan tanggal 11. Maka, demi merayakan Maret yang indah, Senin kemarin saya meluncur ke kampung Kemusuk.

Saya tiba setelah 30 menit perjalanan. Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, begitu bunyi tulisan di papan penanda. Patung besar sosok Soeharto berseragam dinas tentara menyambut saya dengan anggunnya. Ia menjadi pengganti gupala yang menjaga satu kompleks megah berasitektur Jawa dengan dominasi warna putih-biru. Di sebelah kiri berdiri musala mewah berkubah sewarna emas, berdekatan dengan dinding besar yang menampilkan relief sosok Sang Hero berkopiah dan berkain sarung, lengkap dengan slogan-slogan Jawa tentang kesederhanaan, kesalehan, dan kebijaksanaan.

Di pendopo, saya menjumpai sepasukan bapak-ibu lanjut usia dari Srumbung, Magelang yang duduk lesehan dengan khusyuknya. Usai menyimak video di layar televisi, mereka manggut-manggut takzim ketika seorang pemandu menyampaikan puja-puji kepada Soeharto.

 
Segala ketakziman itu kian paripurna ketika kami masuk bersama ke gedung diorama. Ini museum yang kelengkapan fasilitasnya jauh lebih baik daripada museum-museum di Indonesia pada umumnya. Bikinan Probosutedjo, gitu loh! Meski artefak-artefak sejarah tidak tampak terpajang, segala tampilan audio visual yang dilengkapi narasi-narasi panjang membuat pengunjung benar-benar mendapatkan sesuatu.

Tentu, “sesuatu” tersebut sesuai dengan misi museum itu: glorifikasi atas sosok Soeharto. Maka bab-bab sejarah yang tampil di sana adalah ruas-ruas perjalanan yang dulu kala selalu dikibarkan oleh rezim Orde Baru. Mulai Serangan Umum (SU) 1 Maret 1949, peran Soeharto dalam Operasi Trikora 1962, Peristiwa G30S 1965 yang dilengkapi gambaran tentang betapa kejamnya PKI (tentu bagian ini sangat menonjol), Supersemar 1966, pelantikan sebagai Presiden ke-2 RI, lalu dipungkasi dengan capaian-capaian pemerintahan Soeharto seperti penghargaan dari FAO atas swasembada pangan, keberhasilan program KB, dan sebagainya.

Dahsyat sekali. Setiap jengkal gambaran atas sosok Sang Jenderal Besar di area seluas hampir 4000 meter persegi itu adalah gambaran kesempurnaan. Seorang patriot, pembela kebenaran, penegak ideologi bangsa, lelaki yang sederhana, seorang ayah sejati bagi segenap rakyat Indonesia.
Kepadamu, bapak kami Soeharto… terima kasih dari rakyat semua…” Saat saya berada di dalam gedung diorama, sayup-sayup Titiek Puspa berdendang dari pelantang suara di pendopo.

***

Usai merayakan kejayaan seorang pahlawan tanpa cela, saya meluncur ke arah selatan, lagi-lagi 30 menit perjalanan. Kampung Bibis, Kelurahan Bangunjiwo, Bantul. Tak banyak orang yang tahu tempat ini. Saya sih tahu, karena waktu SD kadangkala suka bersepeda ke sana, dan yang pasti karena semua anak di zaman saya menonton film Janur Kuning karya Alam Surawidjaja.

 
Bibis adalah sebuah dusun yang menjadi markas gerilyawan Republik. Tempat ini terpencil, tersembunyi, namun strategis dan konon selalu gagal diendus oleh hidung tentara Belanda. Lebih dari seabad sebelumnya, di balik bukit belakang Bibis juga bermarkas salah satu musuh besar Belanda yang paling ditakuti di sepanjang sejarah kolonial: Pangeran Diponegoro.

Pada awal tahun 1949, segala persiapan Serangan Umum terpusat di Bibis. Tempat itu merupakan markas Brigade X Daerah Wehrkreis III di bawah pimpinan Letkol Soeharto. Boleh dibilang, Bibis adalah jantung yang memompa darah ke segenap sistem pembuluh darah perlawanan rakyat ketika tentara dan segenap gerilyawan di semua sektor perlawanan tumplek bleg untuk menghantam kekuatan Belanda di Yogyakarta.
Dengan posisi Bibis sepenting itu, saya terpukau menyaksikan kondisinya saat ini. Monumen Bibis, saya ingat di masa kecil saya, cukup asri. Bangunan pendopo utama terawat baik, dengan diorama yang menggambarkan aktivitas para gerilyawan pada Serangan Umum. Di sebelahnya ada beberapa relief pertempuran, juga ruang untuk memajang benda-benda peninggalan.

Sekarang, yang ada tinggal bangunan sunyi yang kotor berdebu, dan sangat cocok untuk lokasi reality show uji nyali ataupun berburu hantu. Kotak kaca berisi diorama di pendopo sudah diselubungi kain karena tak lagi layak tonton, bangunan samping retak-retak, beberapa barang peninggalan Letkol Soeharto semisal helm baja teronggok di meja begitu saja, seolah tak tersentuh tangan manusia selama dua dasawarsa.


“Sejak Pak Harto turun, dana perawatan berhenti total, Mas. Paling dari Pemda kami dapat dana kalau ada saluran listrik yang rusak. Itu pun prosesnya ribet sekali. Padahal kalau dulu ya dana perawatan selalu tersedia,” kata Pak Santo, yang muncul saat saya sedang celingukan di gedung samping pendopo.

Santo adalah anak Harjo Wiyadi, kepala dusun atau Dukuh Bibis pada masa Letkol Soeharto dan sekitar 500 anak buahnya bermarkas di situ. Tanah dan bangunan markas pejuang tersebut mulanya memang milik keluarga Harjo Wiyadi, namun kemudian diwakafkan sebagai monumen.

Selain tentang terlantarnya Monumen Bibis, dari Pak Santo juga saya mendengar bahwa tempat itu sempat akan diserang dan dibakar oleh sekawanan orang, entah siapa, pada Mei 1998. Untunglah warga setempat segera membuat barikade di jalan, untuk menghadang kawanan itu.
Tak cuma tentang rencana penyerangan. “Sejak itu, banyak barang peninggalan Pak Harto lenyap, Mas. Konon dibakar dan dimusnahkan entah oleh siapa. Termasuk beberapa koleksi di Monumen Yogya Kembali,” sambungnya dengan wajah perih.
***
Bagaimana semestinya kita memandang sejarah? Apakah sejarah harus menjalankan fungsi pragmatis, sebagaimana dijalankan Muhammad Yamin di masa lalu? Yamin meracik sejarah demi nasionalisme. Maka proyek sejarah Indonesia versi Yamin adalah alat untuk satu tujuan tertentu.

 
Ketika air bah kritik sejarah mulai membanjir, kita berani menggoyang Muhammad Yamin. Kita berani meragukan Nugroho Notosusanto. Kita berani menyampaikan versi lain dari Perang Padri, dengan menunjukkan bahwa perang tersebut semata serangan brutal kelompok Islam modernis kepada lokalitas. Kita berani memunculkan sudut pandang baru bahwa kejayaan Sultan Hasanuddin adalah kabar mengerikan bagi rakyat Bone. Dan lebih kencang lagi, kita berani mengangkat tinggi-tinggi fakta bahwa PKI bukan pelaku tunggal dalam Tragedi 1965.

Kita tiba pada sebuah masa tatkala sejarah tak dapat sepenuhnya lagi ditempatkan sebagai instrumen untuk mencapai tendensi-tendensi. Fakta-fakta keras yang terbentang di halaman-halaman sejarah kini kita sajikan sebagai murni fakta, yang lambat laun melepaskan historiografi dari mitos dan sakralisasi. Kita pelan-pelan bergerak meninggalkan Yamin, menjauh dari Nugroho, dan melepaskan diri dari sikap-sikap ekstrem dalam memandang sejarah.

Malangnya, kepada Soeharto kita tak kunjung bisa menjalankan laku yang sama. Kenapa? Kedua monumen yang saya kunjungi itu nongol di depan mata saya sebagai kutub-kutub ekstrem dari cara memandang sejarah yang penuh tendensi. Kemusuk adalah pemujaan berlebihan, Bibis dalam nasibnya sekarang adalah pencampakan habis-habisan.

Soal Kemusuk, tiada guna kita berdebat. Toh yang membangun memang adik Soeharto. Itu proyek keluarga. Tak mungkin mereka mengungkit kegagalan pemerataan kesejahteraan atas nama pertumbuhan pembangunan, apalagi tentang darah yang tertumpah dan berceceran selama kekuasaan Orba.

 
Namun soal Bibis, ini mengganggu pikiran saya. Begini. Soeharto memang mencapai puncak kariernya sebagai seorang diktator. Tapi Soeharto yang diktator adalah Soeharto pada masa ketika ia memang menjalankan peran sebagai diktator, bukan? Apakah dengan realitas despotisme Soeharto sejak dia memegang kuasa, otomatis segala hal pada jejak sepatunya adalah kelaliman?

Kisah Bibis dan SU 1 Maret terjadi jauh sebelum Soeharto tumbuh menjadi despot, bahkan jauh sebelum dia mulai memegang tongkat kuasa. Lantas landasan nalar apa yang dipakai ketika kebencian kepada despotisme Soeharto dilampiaskan juga ke SU 1 Maret, fase sejarah ketika ia sungguh punya peran tak terbantahkan?

Kita selalu khawatir dengan ekstremisme dalam perilaku beragama. Namun entah kenapa, ekstremisme dalam memandang sejarah tidak cukup melahirkan kegelisahan di benak kita. Apakah Anda yakin bahwa sikap hitam-putih dalam menyikapi sejarah tidak akan meluas kepada jenis-jenis sikap ekstrem yang lain?
“Ah, mentang-mentang setahun lagi Pemilu. Partai-partai Cendana sudah bermunculan, pula. Pantesan orang ini mulai caper bela-bela Soeharto. Cari proyek baru ya, Bal?”

Hahaha. Tuh, kan! Cara pandang “mutlak-mutlakan” begitu langsung tampak di dinding Facebook saya saat pertama kali saya unggah tulisan tentang Bibis. Begitulah produk lingkungan berwacana kita yang serba ekstrem. Memberikan respek objektif atas satu fase historis ketika Soeharto belum jadi diktator dianggap sama dengan membela Soeharto. Ini sih cuma deja vu saja. Sebab mengkritik perilaku umat Islam dianggap sebangun dengan anti-Islam, dan menolak isu kebangkitan PKI dibilang mendukung PKI

Senin, 05 Maret 2018

SOLID GOLD | Hari-hari Terakhir Harimau Sumatera Sebelum Digantung Warga


Hari-hari Terakhir Harimau Sumatera Sebelum Digantung Warga
SOLID GOLD MAKASSAR - Seekor harimau Sumatera ditembak dan digantung warga di Mandailing Natal, Sumut pada Minggu (4/3) kemarin. Sebelum nyawanya berakhir tragis, harimau itu sudah beberapa hari berkeliling kampung.

Harimau itu masuk perkampungan dan mengancam warga kampung Hutapangan, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal. Masyarakat yang tinggal di perkampungan untuk tetap waspada ancaman harimau.

BACA JUGA : Legalitas PT Solidgold Berjangka

"Sepekan lalu seekor harimau keluar dari dalam hutan dan terlihat oleh warga di perbatasan hutan dan perkampungan warga Desa Hutapangan," kata Camat Batang Natal, Lion Muslim Nasution.
Keberadaan harimau ini juga dikuatkan dengan adanya jejak kaki harimau yang berjarak 300 meter dari sekolah yang ada di desa tersebut.

"Ada ditemukan jejak harimau sekitar 300 meter dari salah satu gedung sekolah di perkampungan terdekat dengan kawasan hutan," tambah Lion.

BACA JUGA : Visi Dan Misi Solidgold Berjangka


Namun Lion membantah sekolah diliburkan karena ada harimau berkeliaran di kampung.

"Tidak benar siswa sekolah tersebut diliburkan karena ada harimau tersebut," jelas Lion.

Sementara itu, Kepala Bidang BBKSDA Wilayah III Padangsidimpuan, Gunawan Alza mengatakan memang pihaknya beberapa kali menemukan jejak harimau dekat perkampungan. Mereka pun sudah berupaya keras untuk menghalau hewan karnivora itu masuk ke pemukiman.



"Warga desa yang mulai ketakutan minta agar harimau itu ditembak mati saja. Namun petugas tidak mengizinkan dan berusaha menangkap harimau tersebut dengan cara d tembak dengan bius atau perangkap," jelas Gunawan

Setelah kemunculan harimau itu, Badan Balai Konservasi Sumber Daya Alam ( BKSDA) Sumatera Utara menurunkan personil untuk menghalau harimau.

"Mereka berupaya menghalau harimau itu masuk ke perkampungan," kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Hotmauli Sianturi.

BACA JUGA :  Fasilitas Layanan Solidberjangka

Langkah awal yang diambil petugas di lapangan dengan menimbulkan bunyi-bunyian keras agar harimau kembali ke dalam hutan. Personil juga telah mengedukasi masyarakat untuk tidak menembak mati harimau itu.

"Kami imbau masyarakat tidak pergi ke dalam hutan sendirian. Kalau memang sudah masuk ke pemukiman, harus pasang kandang perangkap," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang BBKSDA Wilayah III Padangsidimpuan, Gunawan Alza mengatakan memang pihaknya beberapa kali menemukan jejak harimau dekat perkampungan. Mereka pun sudah berupaya keras untuk menghalau hewan karnivora itu masuk ke pemukiman.

"Warga desa yang mulai ketakutan minta agar harimau itu ditembak mati saja. Namun petugas tidak mengizinkan dan berusaha menangkap harimau tersebut dengan cara ditembak dengan bius atau perangkap," ucap Gunawan.

BACA JUGA : Alasan Anda memilih Kami Solidgold

Sepekan berkeliling di kampung, akhirnya harimau Sumatera itu ditemukan warga. Setelah didesak warga, polisi akhirnya menembak harimau itu hingga tewas.

"Namun, karena keresahan dan ketakutan, akhirnya polisi setempat menembak mati. Arahan dari Kepala Balai Besar KSDA, setelah diotopsi jasad harimau akan dimusnahkan dengan dibakar dengan dibuat berita acara selanjutnya akan dibawa ke Polres Madina," demikian siaran pers Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Jumat, 02 Maret 2018

PT SOLID GOLD BERJANGKA | Sosok Yus Anggota Muslim Cyber Army yang Ditangkap Polisi


Sosok Yus Anggota Muslim Cyber Army yang Ditangkap Polisi
PT SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR – Dit Cyber Crime Bareskrim Polri dan Dit Kamsus BIK menangkap Yuspiadin alias Yus (24) di Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (26/2). Yus salah satu anggota Muslim Cyber Army (MCA).


Pemuda warga Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, itu ditangkap berkaitan kasus penyebaran hoax dan hate speech. Bagaimana sosok Yus selama ini?

Suherman (61) dan Ami Suryati (52) tidak pernah menyangka jika anaknya, Yus, berurusan dengan hukum. “Saya tidak tahu apa-apa. Saya bilang, anak saya biasa-biasa saja, tidak pernah buat keonaran,” kata Suherman, ayah Yus

 
Selagi berbincang, Suherman sempat menunjukkan foto keluarga besarnya yang berpose di Pantai Pangandaran. Di foto tersebut Yus mengenakan baju abu dan lengan pendek biru dongker berdiri sejajar dengan keluarganya.

Suherman sama sekali tidak mengetahui kiprah Yus gabung anggota MCA. Polisi menyebut MCA ialah kelompok terstruktur yang menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian.
 
“Jika dia sekarang di jalan yang salah, semoga diampuni. Segera kembali ke jalan semula (benar) dan jangan sampai terulang kembali. Harapan saya itu dan yakin itu anak masih mentah, masih polos,” tuturnya.

 
Menurut Suherman, Yus sejak keluar dari pesantren ikut bekerja bersama sang kakak, Nia Widia, di Bandung. “Suami kakaknya membuka bengkel. Dia (Yus) membantu kakaknya, tambal ban. Enggak pernah kemana-mana,” kata Suherman.

Yus anak kedua dari empat bersaudara. Dia terakhir kali ke Sumedang saat awal tahun baru 2018.
“Tahun baru, kemarin disini ada seminggu. Itu juga sakit, sama adiknya kesini,” ucap Suherman.
Ia tidak mengetahui kronologi penangkapan anak lelaki satu-satunya itu di Bandung. Malah Suherman mendapat informasi penangkapan Yus dari saudaranya di Sumedang.


“Saya tidak tahu apa-apa (Yus menjadi anggota MCA). Kakanya juga tidak ngasih tau. Cuma di sini sudah banyak yang menanyakan ke saya (terkait penangkapan),” ucapnya.

Suherman yang penasaran mencoba menelepon Yus. “Saya kontak (telepon Yus) dua-duanya enggak ada yang nyambung. Saya ngontak kakaknya, pertama tidak ngasih tahu, akhirnya ngasih tahu. Mungkin maksudnya tidak cepat ngabarin takut orangtua bagaimana-bagaimana,” ujar Suherman.

Ketua RW 05 Didi (50) membenarkan warganya bernama Yuspiadin alias Yus ditangkap polisi. Didi tak menyangka Yus terlibat kasus penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian.


“Anaknya biasa, baik. Tidak memperlihatkan hal tersebut (terlibat dalam jaringan MCA),” kata Didi.
Menurut dia, Yus sempat melanjutkan pendidikan di pesantren selama tiga tahun masih di wilayah Jatinunggal. “Karena faktor ekonomi, Yus ikut bekerja bersama kakaknya di Bandung,” ujar Didi.
Yus dikenal pendiam dan tidak banyak bersosialisasi. Didi mendapat informasi Yus ditangkap polisi setelah mendapat pemberitahuan dari aparat Polsek Jatinunggal.

“Saya tidak menyangka, jangankan saya keluarga, termasuk ibu dan bapaknya juga tidak menyangka,” kata Didi.

Yuspiadin dijerat Pasal 45A ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan/atau pasal jo Pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau Pasal 33 UU ITE

Kamis, 01 Maret 2018

PT SOLID BERJANGKA | Kisah Kirkpatrick Macmillan, Penemu Penggerak Roda Sepeda

https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 28 56 1866209 kisah-kirkpatrick-macmillan-penemu-penggerak-roda-sepeda-2WhTQfLX93.jpg
PT SOLID BERJANGKA MAKASSAR - Kirkpatrick Macmillan dikenal sebagai seorang pandai besi yang dikatakan banyak orang telah menemukan penggerak roda belakang. Temuan ini diklaim pada akhir 1860-an dan awal 1870-an, sayangnya penemuan ini sempat diperdebatkan oleh banyak sejarawan yang telah menyajikan banyak bukti dan ketidakakuratkan tentang kesaksian orang-orang yang mempromosikan Macmillan. 

 
Dilansir dari Undiscoveredscotland, Kirkpatrick lahir di Keir Mill dekat Thornhill, Dumfries pada 2 September 1812. Ayahnya adalah seorang pandai besi sehingga pada usia 12 tahun Kirkpatrick menjadi murid ayahnya.

Kirkpatrick menciptakan penggerak roda belakang ini karena pada akhir tahun 1820 saat melihat seseorang mengendarai sepeda roda tiga. Pengendara tersebut mendorong sepedanya menggunakan kaki, sehingga Kirkpatrick memutuskan untuk membuat penggerak roda belakang tersebut. 

 
Setelah melakukan pembuatan penggerak roda belakang tersebut di tahun 1893, ia menyelesaikannya di sebuah sepeda. Saat itu terbuat dari kayu, memiliki roda kayu berbingkai besi, roda depan yang steerable, dan roda belakang yang dihubungkan oleh serangkaian balok ke pedal. Nantinya pengendara mendorong secara bergantian ke depan dalam gerakan saling bertukar secara horizontal.

 
Tak lama setelah penemuannya tersebut, terlihat Kirkpatrick mengendarai sepeda mencapai 15 mil dari rumahnya ke Dumfries. Selanjutnya pada Juni 1842, Kirkpatrick menempuh jarak 70 mil ke Glasgow, meskipun ada orang yang tidak mempercayai hal tersebut. 

Kirkpatrick telah menghabiskan seluruh hidupnya di tempat ia berasal dan bekerja sebagai pandai besi serta tukang gerobak. Penelitian mengenai karyanya tentang sepeda roda tiga ini dipandu oleh sepupunya, James Johnston, yang diklaim bahwa Kirkpatrick bertanggung jawab terhadap menciptakan sepeda pedal pertama sejak tahun 1839. 


Setelah penemuannya tersebut, Kirkpatrick tidak mematenkan penemuannya. Sehingga pada tahun 1846 Gavin Dalzell dari Lesmahagow menghasilkan sebuah mesin dan menyebabkan kepercayaan bahwa ia telah menemukan sepeda bertenaga. 


Tahun 1854 Kirkpatrick menikahi Elsie Goldie dan memiliki enam anak dan ia meninggal tahun 1878. Dua buah sepeda miliknya dipajang di Musium Dumfries, sedangkan Scottish Cyle Museum memiliki replika lainnya.