Jumat, 06 Desember 2019

PT Solid Gold Berjangka | BRI Sabet Penghargaan Indonesia Humane Entrepreneurship Award 2019

Foto: Dok. BRI
PT Solid Gold Berjangka Makassar - Direktur Utama Bank BRI Sunarso menerima penghargaan Indonesia Humane Entrepreneurship Award 2019 dari Asia Council for Small Business (ACSB) dan International Council for Small Business (ICSB) Indonesia. Apresiasi ini diberikan kepada perusahaan maupun organisasi yang dianggap bisa menerapkan prinsip-prinsip humane entrepreneurship dalam aktivitas bisnisnya, yaitu menjalankan bisnis yang inovatif (enterprise cycle) sekaligus melakukan pemberdayaan dan berempati kepada karyawan (human cycle).

Menurut Chairman Asia Council for Small Business (ACSB) Hermawan Kartajaya, BRI bukan hanya dikenal sebagai micro banking terbesar di dunia, tapi juga aktif dalam pengembangan UMKM selama puluhan tahun, termasuk kini melalui BRI Microfinance Center.
 
"Tidak mengherankan kalau hubungan BRI dengan UMKM sangat kuat, sehingga kinerjanya pun tumbuh dengan stabilitas yang bagus. Kondisi ini membuat karyawan bekerja dengan tenang, kreatif, dan inovatif," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (6/12/2019).
 
Penyerahan Indonesia Humane Entrepreneurship Awards 2019 digelar di Jakarta pada Kamis (5/12/2019) dan dihadiri oleh Prof. Ki-Chan Kim selaku penggagas konsep Humane Entrepreneurship, Chairman ACSB Hermawan Kartajaya, Dr. Jacky Mussry selaku President International Council for Small Business (ICSB) Indonesia serta Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan Umar Hadi.
Sementara itu, Direktur Utama Bank BRI Sunarso mengatakan Bank BRI merasa bangga karena menjadi satu satunya bank yang menerima penghargaan ini. Hal ini, kata Sunarso, merupakan apresiasi terhadap komitmen perseroan yang fokus terhadap pemberdayaan UMKM di Indonesia.
Sunarso menjelaskan, perseroan saat ini tengah melakukan transformasi agar terus menjaga dominasi di segmen UMKM dengan membawa misi bahwa BRI harus bisa melayani rakyat sebanyak mungkin dengan harga semurah mungkin.
"Hal tersebut dapat dicapai dengan digitalisasi layanan perbankan sehingga semua akan menjadi lebih cepat dan efisien," ucap Sunarso.
"Dengan go smaller, go shorter, go faster Bank BRI akan mampu menyasar segmen yang lebih kecil, dengan proses yang lebih pendek dan efisien serta waktu yang lebih cepat dengan adanya digitalisasi," urai Sunarso.

Ia juga mengatakan hingga akhir kuartal III 2019, penyaluran kredit BRI tercatat sebesar Rp 903,14 triliun dengan 77,60% di antaranya merupakan kredit UMKM. Di tahun 2022 Bank BRI menargetkan porsi kredit UMKM mencapai 80% dari total portofolio kredit BRI.

Sebagai informasi, International Council for Small Business (ICSB) adalah organisasi non-profit global dengan keanggotaan di 85 negara dan telah berdiri sejak tahun 1955.

Kamis, 05 Desember 2019

PT Solid Berjangka | Pengusaha AS Dukung 5 Program Prioritas Jokowi

Foto: Hendra Kusuma
PT Solid Berjangka makassar - Delegasi Dewan Bisnis Amerika Serikat-ASEAN (US-ASEAN Business Council) siap mendukung lima program prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Ma'ruf Amin selama lima tahun ke depan.

Hal itu diungkapkan Chief Executive Officer (CEO) Citi Indonesia Batara Sianturi di kantor Presiden, Jakarta Pusat. Batara menjadi salah satu pendamping pertemuan 46 pengusaha Amerika Serikat (AS) bersama beberapa delegasi AS-ASEAN Business Council.
 
"Kita tadi sudah selesai, tadi meeting yang sangat produktif dengan Presiden. Delegasi dari 46 perusahaan Amerika yang ada di ASEAN dan di luar ASEAN memberikan dukungan kepada lima prioritas dari Presiden," kata Batara, Jakarta, Kamis (5/12/2019).
Adapun lima program prioritas kabinet Indonesia Maju adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM), reformasi birokrasi, pembangunan infrastruktur, reformasi ekonomi, dan penyederhanaan regulasi.
"Jadi mendapatkan masukan positif dan tantangan dari Jokowi bagaimana perusahaan AS ini bisa mendukung prioritas dari kabinet baru. jadi kita mengharapkan follow up item ini menjadi produktif dan kita tindak bersama dengan Wamen dan juga kabinet Presiden," jelas dia.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Mahendra Siregar mengatakan dalam pertemuan tersebut Presiden Jokowi menyampaikan rencana penerbitan UU omnibus law cipta lapangan kerja. Aturan tersebut dalam rangka memperbaiki iklim investasi dan menyederhanakan proses berusaha di Indonesia.
"Tadi Presiden juga menjelaskan beberapa komitmen dan pelaksanaan kebijakan untuk memperbaiki iklim investasi yang ada termasuk juga menjelaskan langkah-langkah untuk UU Omnibus Law yang bisa semakin menyelesaikan beberapa masalah yang bisa dijumpai di bidang investasi," kata Mahendra.
Dalam kesempatan itu, kata Mahendra, kepala negara juga meminta komitmen para perusahaan besar asal negeri Paman Sam yang sudah beroperasi di Indonesia untuk terus meningkatkan investasinya.
Menurut dia, seluruh perusahaan asal AS pun siap mendukung lima program prioritas pemerintah ke depannya.
"Seluruh perusahaan yang hadir juga memberikan dukungan yang kuat di masing-masing bidang maupun dalam konteks pembangunan manusia yang lebih luas lagi," ujarnya.
Hanya saja, Mahendra mengungkapkan dalam pertemuan tersebut tidak dibahas mengenai perang dagang antara AS dengan China.

Rabu, 04 Desember 2019

Solid Gold Berjangka | Pede Dolar AS Ditekan ke Rp 10.000

Luhut Pandjaitan. Foto: Andhika Prasetia/detikcom
Solid Gold Berjangka Makassar - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan optimistis dolar Amerika Serikat (AS) bisa balik ke Rp 10.000 dari posisi saat ini sekitar Rp 14.000. Untuk meraih hal tersebut, pemerintah terus mendorong ekspor dan menekan impor.

Luhut memaparkan, untuk mendorong ekspor pemerintah mendorong hilirisasi. Hal itu sebagaimana dilakukan melalui kebijakan nikel. Dengan hilirisasi, maka komoditas ekspor memiliki nilai tambah.
 
"Tadi tuh kita diskusi dengan beberapa ekonom-ekonom. Saya jelaskan mengenai program pemerintah yang dilakukan Presiden, hilirisasi. Hilirisasi itu untuk mempengaruhi CAD (current account deficit) kita. Karena ekspor kita kan nilai tambahnya contoh nikel ore kan bagus," kata Luhut di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa kemarin (3/12/2019).
Tidak hanya nikel, Luhut mengatakan, hilirisasi juga akan dilakukan pada produk-produk lain.
"Saya kira dua tahun lagi saya kira, kalau stainless steel, carbon steel, katode, dan ada lithium battery bisa saya lihat nggak ada masalah lagi. Lalu nanti dikejar lagi gasifikasi, copper turunannya lagi. Saya kira 5 tahun ke depan apa yang dibuat Presiden pasti sangat baik sekali," ungkapnya.
Kemudian, untuk menekan impor pemerintah terus menerapkan kebijakan biodiesel 20% atau B20. Kebijakan itu akan menekan impor energi khususnya migas. Bahkan, pemerintah berniat mengejar sampai B100.
"B20, B30, B40 dan seterusnya itu dampaknya luar biasa terhadap impor energi kita berkurang. B20 kan bisa berkurang 25%. Rp 300 triliun kita punya impor energi bisa kurang 25%. B30 saya kira bisa sampai 35% dan seterusnya. Sampai satu titik lagi kami hitung berapa persen pada B40, 50, 100 apakah kita sudah nggak perlu impor energi," paparnya.
Luhut bilang, kebijakan itu diharapkan dapat menekan defisit transaksi berjalan dan dapat mendorong penguatan rupiah.
"Rupiah bisa di bawah Rp 10.000 nanti. Cadangan dolar (AS) naik sehingga ekonomi kita bisa tumbuh lebih baik ke depan," jelasnya.
Sebenarnya Dolar AS jadi Rp 10.000 bisa nggak sih?
Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih menilai ucapan Luhut yang menyatakan dolar AS jadi Rp 10.000 bukan hal mustahil. Lana pun bercerita kilas balik dolar AS di tahun 1999.

Lana mengatakan, di masa pemerintahan Presiden ke-3 BJ Habibie nilai tukar bisa ditekan dari Rp 16.000 ke bawah Rp 10.000.
 
 
"Saya ingat waktu zaman Almarhum Pak Habibie itu bisa ke Rp 9.000. Padahal waktu itu rupiah Rp 16.000 sejak zaman Pak Soeharto. Jadi bukan sesuatu yang mustahil," kata Lana kepada detikcom.
Menurutnya, sentimen global berpengaruh besar terhadap pergerakan pasar uang. Di kala Habibie membawa Indonesia keluar dari krisis ekonomi tahun 1998, sentimen global mengerek nilai tukar jangka waktu pendek yakni setahun.
"Dalam waktu pendek bisa, sentimen sangat berpengaruh. Hanya di tahun 1998 Pak Harto turun, tahun 1999 bisa Rp 9.000 dari Rp 16.000 karena ada ekspektasi positif terhadap ekonomi Indonesia," jelas Lana.
Lebih lanjut, Lana mengatakan, agar rupiah bisa menguat ekspor dan hilirisasi memang harus dilakukan sebagaimana diungkapkan Luhut. Selain itu, sektor pariwisata untuk menarik turis asing juga harus digenjot.
"Kalau di luar sentimen, teoritis, kita harus membangun tadi, hilirisasi, ekspor dan itu tentu butuh waktu. Minimal 3 tahun kalau hanya bicara supply demand saja. Lalu juga sektor pariwisata yang 10 destinasi itu dalam 3 tahun ini betul-betul sudah jadi. Saya kira sih waktu 3 tahun masih ada kesempatan," paparnya.
Ia mengatakan, jika hal-hal tersebut dilakukan dengan benar, masih ada kesempatan dolar AS takluk ke level Rp 10.000 atau paling tidak di kisaran Rp 12.000.
"Kalau pun nggak persis Rp 10.000 ya di Rp 12.000 itu terbuka. Tapi kalau ada sentimen yang membantu seperti zaman Presiden Habibie bisa saja," jelasnya.

Selasa, 03 Desember 2019

Solid Berjangka - Bidik Pasar Afrika, WIKA Garap Proyek Prestisius di Senegal

Foto: WIKA
Solid Berjangka Makassar - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) akan mengerjakan proyek Goree Tower tahap 1 di Senegal. Hal tersebut ditandai dengan penandatangan kontrak antara WIKA dan L'Agence De Gestion Du Patrimoine Bati De L'Etat (AGPBE).

Direktur Operasi III WIKA Destiawan Soewardjono mengatakan pekerjaan proyek Goree Tower di Senegal ini memiliki nilai kontrak tahap 1 sebesar 50 juta Euro atau setara Rp 782 miliar (1 Euro= Rp 15.640) yang menjadi bagian dari kesepakatan total sebesar 250 juta Euro.

Proyek ini, kata Destiawan, merupakan tindak lanjut konkret 'business deals' antara Pemerintah Senegal dengan WIKA dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank pada acara Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue (IAID) di Bali pada bulan Agustus 2019 lalu.

"Kerja sama yang akan direalisasikan ini merupakan salah satu milestone kiprah BUMN karya Indonesia di Afrika Barat, di mana WIKA memang mampu mengerjakan proyek mulai dari social housing di Afrika sampai proyek besar dan prestisius seperti Goree Tower Project ini" ucap Destiawan dalam keterangan tertulis, Selasa (12/3/2019).

"Bagi kami pasar luar negeri adalah potensi yang harus diimplementasi. Masuknya WIKA di pasar infrastruktur dan gedung Afrika sesuai dengan strategi bisnis WIKA yang menyasar negara-negara berkembang dengan kebutuhan infrastruktur yang tinggi," imbuhnya.

Penandatangan dilakukan oleh AGPBE yang diwakili Direktur Operasi Yaya Abdoul Kane dan WIKA diwakili oleh Direktur Operasi III yang membawahi Divisi Luar Negeri Destiawan Soewardjono, Senin (2/12/2019). Turut hadir menyaksikan antara lain Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dan Menteri Bappenas Senegal Dr Cheikh Kante.

Lebih lanjut Destiawan menjelaskan, proyek prestisius 'Kawasan Mixed-Used Building' dengan tipe proyek Full Design dan Build dikerjakan oleh WIKA selaku kontraktor utama dengan masa pelaksanaan 24 bulan.

Adapun cakupan pekerjaan perseroan meliputi pembangunan hotel bintang 5 dengan 33 lantai, sky dining, gedung perkantoran, convention center, dan residential apartment.

Untuk pelaksanaan proyek, WIKA mendapat fasilitas pembiayaan National Interest Account (NIA) dengan skema Buyer's Credit melalui LPEI. Kata Destiawan, penyaluran fasilitas ini sejalan dengan strategi pemerintah untuk memperluas ekspor Indonesia ke negara non tradisional termasuk Afrika. Buyer's credit sendiri merupakan fasilitas yang hanya dapat disediakan oleh LPEI.

"Dengan tujuan untuk meningkatkan ekspor Indonesia dari sisi pembeli atau demand side, skema ini merupakan bentuk nyata dari peran LPEI sebagai fill the market gap," ungkapnya

Lebih lanjut, Destiawan menambahkan bahwa tantangan ke depan adalah bagaimana sinergi yang telah terjalin baik dengan LPEI ke depannya dapat memfasilitasi WIKA dan perusahaan Indonesia lainnya untuk dapat memenuhi kapasitas pembiayaan infrastruktur negara-negara Afrika yang trennya semakin naik dari tahun ke tahun. Terutama dengan adanya kepercayaan dari beberapa negara di Afrika untuk menjadikan BUMN Indonesia sebagai mitra strategis mereka.

"Apabila itu dapat terealisasi, maka akan meningkatkan peluang untuk membuka pasar lebih luas lagi bagi WIKA dan perusahaan Indonesia lainnya dalam melakukan ekspansi ke sejumlah negara, khususnya di Wilayah Afrika," pungkas Destiawan.

Sementara itu Direktur Eksekutif LPEI Sinthya Roesly mengatakan, proyek Goree Tower Senegal menambah keyakinan Internasional bahwa perusahaan Indonesia memiliki kemampuan untuk bersaing di pasar global.

Sinthya menambahkan bahwa kinerja ekspor perusahaan nasional sangat penting bagi peningkatan nilai neraca perdagangan, untuk itu diperlukan upaya dalam meningkatkan nilai ekspor baik dari sisi volume maupun pasar tujuan ekspor.

Peran Pemerintah melalui LPEI untuk menyediakan pembiayaan khusus dapat menstimulus perusahaan Indonesia melakukan perdagangan (ekspor) ke negara-negara non tradisional.

"Sebagai salah satu fiscal tools Pemerintah, LPEI sesuai dengan mandatnya akan terus melakukan unlocking potential market agar pelaku ekspor Indonesia dapat melakukan penetrasi pasar ke negara-negara non-tradisional dan meningkatkan kapabilitas eksportir untuk berkompetisi di pasar global," tegas Sinthya.

Minggu, 01 Desember 2019

solid gold | Sandal Jepit Indonesia Segera Masuk ke Korea Selatan

Ilustrasi Sandal Jepit (Foto: Jefrie Nandy Satria/detikcom)
solid gold Makassar – Tak banyak yang tahu kalau Indonesia punya beragam produk yang sudah malang melintang menembus pasar Korea Selatan (korsel). Adalah Inakor Co.,Ltd yang dimiliki oleh Hartono, seorang pengusaha asal Indonesia yang berhasil membawa produk-produk RI menembus negeri ginseng tersebut.
Salah satu andalannya adalah produk sisa pengolahan kayu sengon hingga beragam kerajinan kayu.

Tidak hanya limbah kayu sengon dan kerajinan dari kayu, kini Hartono tengah dalam proses mengimpor sandal jepit merek Indonesia ke Korea Selatan.
“Sandal jepit yang bagi sebagian orang tidak menarik, ternyata juga menyimpan peluang ekspor. Di Korea Selatan, sandal jepit Indonesia mulai diminati,” ujar Hartono akhir pekan lalu di Sacheon, Korea Selatan.
Hartono juga menjelaskan, produk lain yang memiliki nilai jual yang menjanjikan di pasar Korea adalah sedotan dari bambu yang ramah lingkungan.
Pesaing Indonesia adalah Filipina dan Vietnam. Namun, dengan kualitas dan konsistensi kualitas dan kontinuitas pasokan, produk asal Indonesia menjadi lebih berdaya saing. Konsumen Korea sangat berminat dengan produk-produk ekspor Indonesia.
Inakor. Co.Ltd adalah perusahaan eksportir dan importir yang didirikan diaspora Indonesia pada September 2018. Inakor juga aktif mengikuti pameran perdagangan yang difasilitasi Kementerian Perdagangan seperti Cafeshow, Seoul Food, Entech, dan sebagainya.
Sementara itu, Kepala ITPC Busan Dewi menyampaikan, pihaknya berkomitmen membantu para importir di Korea Selatan yang berminat dengan produk-produk dari Indonesia.

“ITPC Busan siap membantu para importir di Korea Selatan untuk memasarkan produk-produk Indonesia ke Korea Selatan,” pungkas Dewi.