Senin, 17 Juni 2019

Solid Gold | Perang Dagang Buat Harga Barang-barang di AS Melambung

Foto: Nadia Permatasari/Infografis
Solid Gold Makassar - Perang Dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China memberi dampak ke perekonomian AS sendiri. Bank investasi global Goldman Sachs menyatakan, tarif yang diterapkan Presiden AS Donald Trump terhadap barang-barang China berdampak pada bisnis dan rumah tangga AS, dengan dampak yang lebih besar ke harga konsumen dari perkiraan sebelumnya.

Mengutip CNBC, Senin (17/6/2019), Goldman menyatakan, harga konsumen sebagian lebih tinggi karena eksportir dari China belum menurunkan harga mereka untuk bersaing di AS. 

"Orang mungkin berharap bahwa eksportir Tiongkok dari barang-barang yang terkena dampak tarif harus menurunkan harga mereka agar bersaing di pasar AS," terang Goldman dalam pernyataannya.
"Namun, analisis pada tingkat item yang sangat rinci dalam dua studi baru menunjukkan tidak ada penurunan harga (tidak termasuk tarif) barang impor dari China yang menghadapi tarif," sambungnya.

Di sisi lain, produsen AS telah secara oportunis menaikkan harga dalam menanggapi persaingan dagang tersebut.

Goldman juga menyatakan, risiko final tarif sebesar US$ 300 miliar dari China kini telah meningkat 30%.

Dalam laporan tersebut, tensi lebih lanjut dari perang dagang dapat memberikan pukulan 0,4% ke produk domestik bruto (PDB). Jika terus berlanjut, akan memicu aksi jual di pasar ekuitas dan dampaknya ke pertumbuhan ekonomi lebih buruk.

"Harapan awal kami adalah bahwa AS dan China akan mencapai kesepakatan akhir tahun ini. Kami pikir ini akan datang dalam bentuk penurunan bertahap," ujarnya.

Senin, 10 Juni 2019

Solid Gold | Gedung Putih Ajukan Penundaan Larangan Huawei Masuk AS

Foto: DW (News)
Solid Gold Makassar - Departemen Manajemen dan Anggaran Gedung Putih mengajukan surat penundaan pembatasan kerja sama gadget keluaran China, Huawei. 

Mengutip Wall Street Journal yang dilansir dari CNBC.com, Senin (10/6/2019), hal ini dilakukan karena dapat berdampak besar terhadap beberapa perusahaan yang juga menjadi pemasok di pemerintahan Amerika Serikat (AS).

Direktur Departemen Manajemen dan Anggaran Gedung Putih Russell Vought, menyampaikan pendapat tersebut melalui surat yang ditujukan kepada Wakil Presiden AS Mike Pence dan anggota-anggota kongres.
Dalam surat tersebut, disebutkan bahwa dengan diberlakukannya undang-undang pembatasan kerja sama atau bahkan yang mengarah kepada pemutusan kerja sama dengan Huawei di AS, dapat menyebabkan pengurangan yang signifikan terhadap pendapatan beberapa perusahaan yang menjadi sumber pendapatan pemerintahnya sendiri.

"Meskipun larangan ini penting bagi keamanan nasional, sejumlah lembaga telah mengetahui bahwa dampak buruk dari peraturan ini dapat berpotensi besar bagi sejumlah pemangku kepentingan," sebut Russell dalam surat tersebut.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump telah mengumumkan adanya ancaman nasional terhadap pertahanan AS, tepatnya melalui teknologi. Huawei pun dianggap sebagai alat yang dapat memata-matai AS dan dimasukkan ke dalam daftar hitam oleh Departemen Perdagangan AS.

Sejak ditandatanganinya daftar hitam tersebut oleh Trump pada tahun 2018, Huawei kesulitan dalam mengembangkan bisnisnya di AS. Padahal, Huawei akan meluncurkan ponsel pintar 5G pertama di dunia.
Selain itu, Trump juga telah melarang Google dan Facebook untuk memasang perangkat lunaknya di ponsel keluaran Cina tersebut. Sehingga, Huawei tak lagi bisa menggunakan sistem operasi dari Google, dan tak lagi dilengkapi aplikasi Facebook, Instagram, dan WhatsApp.