Rabu, 07 November 2018

SOLID GOLD BERJANGKA | Di 'Neraka' Afrika, Dia Menemukan Tuhan-Nya


SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR - Tibet tak selalu seindah foto-foto yang bertebaran di Google, tak selalu sedamai wajah Dalai Lama. Paling tidak itu yang dialami sendiri oleh Jhon Erickson Ginting. Dia terbang dari Xianggelila alias kota Shangri-La dan mendarat di Lhasa, ibukota wilayah otonomi Tibet, pada pertengahan 2006.

Begitu keluar dari Bandara Lhasa, Jhon langsung mendapat suguhan pemandangan kurang enak. Ada sekelompok wisatawan tengah berdebat sengit dengan calo-calo taksi. Rupanya, para calo itu pasang harga jauh di atas normal. Perdebatan itu berakhir buruk setelah wisatawan-wisatawan itu memilih naik angkutan umum. “Mereka memaksa dan memaki-maki para traveler tersebut dengan bahasa yang sangat kasar,” Jhon menuturkan.

Jhon tiba di Lhasa bersama dua teman seperjalanan, Ben dan pacarnya, Vivian, yang dikenalnya di Shangri-La. Tak cuma melihat indahnya Tibet, Jhon juga menyaksikan betapa keras dan sulitnya hidup di ‘atap dunia’ itu. Setelah sempat menikmati beberapa hari jalan-jalan hingga pedalaman Tibet, Ben dan Vivian mengajak Jhon melanjutkan perjalanan ke Kathmandu, Nepal.

Perjalanan Jhon dan teman-temannya dari Lhasa ke Kathmandu dengan mobil jip sewaan, menempuh jarak sekitar 1000 kilometer, benar-benar sebuah petualangan. Hingga kota Zhangmu, kota di perbatasan China dengan Nepal, tak ada persoalan. Meski sepanjang jalan lelahmendengar perdebatan tanpa akhir dari dua temannya, Ben dan Vivian, Jhon lumayan menikmati perjalanan.

Tapi lain cerita setelah mereka menyeberang ke Kodari, kota di Nepal, di seberang Zhangmu. Ben, master bisnis lulusan universitas kondang di Amerika Serikat, Universitas Stanford, dengan percaya diri mewakili teman-temannya menawar mobil sewaan dari para calo. Jhon, Vivian dan Jerry, pemuda asal Shanghai, yang bergabung bersama mereka di Lhasa, memilih menonton dari jauh.

Entah bagaimana bermula, tawar-menawar harga sewa mobil itu berubah jadi pertengkaran. Calo-calo lain mulai merubung Ben. Suasana jadi tegang. Jhon ingat betul, tatapan mata puluhan orang itu sama sekali tidak bersahabat. Salah seorang diantara mereka mulai tidak sabar dan berteriak. “F*ck you tourist!! We will kill you!!” Jhon, kepada DetikX, menirukan umpatan sang calo. Sumpah serapah berhamburan.
Kalau terlambat sedikit saja mungkin kami semua bisa terbunuh'
BACA JUGA :Solidberjangka | Memahami Modus Operandi Dan Cara Kerja Penipuan

Di tengah situasi kritis itu, tiba-tiba ada orang berlari dari jalan raya dan menawarkan sewa mobil dengan biaya 4000 rupee, 2000 rupee lebih murah ketimbang harga yang ditawarkan calo sebelumnya. Tanpa pikir panjang lagi, Jhon segera menyuruh Vivian dan Jerry lompat masuk ke mobil. Jhon menyeret Ben dari kerumunan dan menyuruhnya segera masuk mobil dan sopir buru-buru tancap gas. Meski masih kaget dan hampir jadi sasaran keroyokan para calo, Ben masih ‘berlagak’ menenangkan teman-temannya.

“Saya juga heran kok bisa mendadak ada yang nawarin kami naik mobil. Kalau terlambat sedikit saja mungkin kami semua bisa terbunuh,” kata Jhon soal pengalaman menegangkan di kota perbatasan Nepal. Situasi saat itu memang sedang tidak kondusif imbas perang saudara antara pemberontak Maois melawan tentara Nepal.

Pengalaman menegangkan seperti itu bukan hanya sekali dua kali dihadapi Jhon di pelbagai negara. Dia memang bukan tipe turis yang datang, tidur di hotel berbintang, makan serba enak, kemana-mana diantar pemandu, jeprat-jepret berswafoto, unggah foto-foto di Instagram, terus pulang. Sebagai ‘kuli ngebor’ yang punya pengalaman panjang di perusahaan-perusahaan minyak asing, lulusan Teknik Perminyakan, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini sudah biasa terbang ke banyak negara. Tapi perjalanan seperti itu tak dia hitung sebagai jalan-jalan.


Jhon, kini 46 tahun, doyan jalan-jalan ke tempat yang bisa memompa adrenalinnya. Bayangkan saja, dari begitu banyak tempat di muka bumi yang layak dikunjungi, John justru sengaja memilih negara-negara yang dilanda konflik atau negara dengan tingkat kriminalitas tertinggi sebagai negara-negara tujuannya. Dari 25 negara yang pernah ia kunjungi, beberapa di antaranya tak ‘lazim’ jadi tujuan wisata seperti Kongo, Rwanda, Uganda, dan Malawi di benua Afrika.

“Perjalanan yang saya lakukan bukan tipe perjalanan yang disukai kebanyakan orang Indonesia. Saya jalan bukan cuma sekedar lihat pemandangan. Harus ada makna dan tantangannya. Kalau nggak, bukan perjalanan namanya tapi cuma darmawisata,” Jhon menuturkan.

Film televisi The Young Indiana Jones Chronicles yang dibintangi Sean Patrick Flannery merupakan salah satu inspirasi dari kenekatannya. Film itu mengisi hari-hari John semasa kuliah di ITB. Tapi yang mendorong John melakukan perjalanan menantang maut, salah satunya adalah kematian beruntun adik, bapak dan pamannya dalam waktu tiga tahun.


Kejadian ini sempat membuat Jhon terguncang. Ia menyalahkan Tuhan atas kematian ketiga orang yang ia cintai. Tak hanya meninggalkan kehidupan religiusnya, Jhon jadi suka menantang kematian, seolah-olah hendak menjemput sang maut. Dia sengaja melamar pekerjaan sebagai konsultan pengeboran minyak di Irak, negara yang tercabik-cabik oleh perang dan konflik bersenjata, pada 2007. Bukan gaji ribuan dolar yang menarik bagi Jhon. “Bukan karena gaji yang besar, tapi karena aku ingin menikmati sensasi berada di negara yang sedang berperang,” kata dia.

Sejak masih kecil, bisa dibilang Jhon memang sudah terbiasa dengan lingkungan keras. Dia lahir dari keluarga lumayan berada. Bersama saudaranya, ia tinggal di pinggiran kota Medan, tepatnya di daerah Pancur Batu. Rumahnya persis di samping terminal bus. Hal itu membuatnya dekat dengan dunia jalanan. Apalagi dulu di awal tahun 1980-an, daerah tempatnya tinggal, dikenal sebagai tempat lahirnya para dukun, santet dan pembunuh bayaran. Jika jam sudah lewat pukul 7 malam, tak ada warga yang berani keluar.

Waktu kuliah di Bandung, Jhon dan teman-temannya juga pernah ambil bagian dalam kegiatan LATSITARDA atau Latihan Integrasi Taruna Wreda yang melibatkan para taruna dari Akademi Militer dan Akademi Kepolisian, juga taruna sekolah di bawah Kementerian. Di kampus, dia ikut organisasi pecinta alam Wanadri Komisariat ITB. Saat bekerja di Irak, Jhon juga sempat dibekali berbagai persiapan bertahan hidup di negara konflik.

“Living between life and death is fun, but once you make a mistake, you dead. Saya bisa dibilang sudah cukup terlatih dan dibekali ilmu bela diri. Saya juga bisa tinju. Kalau sama sekali tidak punya kemampuan itu, don’t do it, please...seriously,” dia memperingatkan dengan tampang serius.

Selasa, 06 November 2018

SOLID BERJANGKA | Tim Cook, Bos Apple 'Miskin' yang Gila Kerja

Tim Cook. Foto: twitter @tim_cook
SOLID BERJANGKA MAKASSAR - Tak seperti bos perusahaan teknologi kebanyakan yang sangat berlimpah kekayaannya CEO Aple Tim Cook malah terbilang 'miskin' di antara mereka. 

Menurut Equilar, dikutip dari Business Insider, Selasa (6/11/2018), setidaknya Cook memiliki kekayaan hanya USD 625 juta atau setara Rp 9,2 triliun. Memang sangat banyak, tapi tak ada apa-apanya dibanding Mark Zuckerberg, Larry Page, atau Jeff Bezos yang hartanya puluhan miliar dollar.


Bicara soal kepemilikan saham di  Apple, Cook juga tak begitu dominan. Ia hanya mempunyai saham sekitar 1%. Padahal, Apple berhasil ia antar menjadi perusahaan publik AS paling bernilai di dunia sampai USD 1 triliun (Rp 15 kuadriliun), meski sekarang sudah sudah agak menurun.

Sekadar informasi, selain bekerja untuk Apple, pria berkacamata ini juga anggota dewan direksi Nike. Di sana, Cook memiliki opsi kepemilkan saham senilai USD 3,4 juta.


Kekayaan bersih Cook memang bisa lebih dari angka-angka di atas bila ditambah dengan nilai properti yang dimilikinya, porfolio investasi, dan harta lainnya yang tak pernah terungkap ke publik. 

Cook yang merupakan putra dari pekerja galangan kapal dan karyawan farmasi ini saat naik takhta jadi CEO pada 2011 digaji USD 900 ribu. Pada 2017, gajinya sebagai nakhoda perusahaan naik hingga USD 3 juta.

"Saya suka diingatkan dari mana saya berasal dan menempatkan diri di lingkungan yang sederhana untuk membantu saya melakukan itu. Uang bukanlah motivasi bagi saya," ucap Cook.

Pria berumur 58 tahun menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor. Aktivitasnya sehari-harinya dimulai bangun jam 3.45 pagi untuk mulai membaca dan menanggapi email yang masuk.

Ia juga sering dinas ke luar kota. Apple menganggarkan USD 93.109 tahun lalu untuk biaya pesawat pribadi Cook jika dia perlu bepergian. 


Kehidupan Pribadi

Cook punya hobi yang jauh dari hingar bingar kehidupan malam atau pesta. Ia gemar melakukan olahraga, seperti gym, naik gunung, dan bersepeda. Setiap jam 5 pagi, ia pergi ke gym yang bukan difasilitasi oleh Apple, melainkan tempat gym yang berbeda.

Suksesor Steve Jobs ini rupanya juga menyayangi keponakannya. Bahkan, Cook yang mengaku sebagai gay dan tidak memiliki anak ini membayar biaya pendidikan perguruan tinggi untuk keponakannya itu.

Selain itu, ia punya nazar, bila nanti ia menghembuskan nafas terakhirnya, Cook berencana untuk memberikan semua uangnya untuk kegiatan amal.


"Anda ingin menjadi kerikil di kolam yang menciptakan riak untuk perubahan," tutur dia pada tahun 2015 lalu.

Di samping itu, Cook pun cukup aktif menyumbang dana untuk tujuan politik. Tercatat, dana kegiatan politik Barrack Obama dan Hilary Clinton ada yang bersumber dari dirinya.

Senin, 05 November 2018

SOLID GOLD | Teleskop Hubble Temukan Wajah Tersenyum di Antara Bintang-bintang

Teleskop Hubble Temukan Wajah Tersenyum di Antara Bintang-bintang
SOLID GOLD MAKASSAR - Teleskop Hubble selama ini telah meneropong ke relung-relung ruang angkasa. Kini relung tersebut "menatap" balik dengan "wajah tersenyum".

Dalam citra teleskop yang diposting di website NASA, tampak dua cahaya kuning (seperti mata) di atas lengkungan cahaya (seperti bibir tersenyum), di tengah lautan bintang-bintang.


Menurut NASA, lengkungan tersebut terjadi karena disebabkan cahaya yang melewati sumber gravitasi besar, sehingga menyebabkannya membengkok.

"Galaksi di bagian bawah yang berbentuk busur memiliki karakteristik khas galaksi yang telah di lensa gravitasi," kata NASA.


"Cahayanya melewati suatu objek sangat besar dalam perjalanannya ke arah kita, menyebabkannya terdistorsi."

Letak "wajah tersenyum" tersebut berada pada gugusan galaksi SDSS J0952 + 3434.
Citra yang ditangkap teleskop ini diambil ketika NASA melakukan pencarian guna memahami proses terjadinya bintang baru.


"Bintang tercipta dalam awan gas raksasa," jelas NASA.
"Awan raksasa ini, atau pembibitan bintang, tumbuh tak stabil dan runtuh karena daya gravitasi, lalu jadi benih yang tumbuh menjadi bintang baru."


Dengan menganalisis luminositas, ukuran dan tingkat pembibitan bintang yang berbeda, para peneliti berharap mempelajari proses pembentukan bintang baru.

"Mempelajari pembibitan dalam galaksi berbeda akan memberikan informasi tentang pembentukan bintang di berbagai titik ruang dan waktu di seluruh alam semesta," jelasnya.


Teleskop Wide Field Camera 3 (WFC3) dari Hubble memiliki kemampuan melihat galaksi dengan resolusi sangat tinggi yang dibutuhkan dalam menemukan dan mempelajari lahirnya bintang-bintang.

Jumat, 02 November 2018

PT SOLID GOLD BERJANGKA | Demokrasi Tanpa Dialog

Demokrasi Tanpa Dialog
PT SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR - Presiden Joko Widodo agaknya tengah tak enak hati melihat fenomena politik nasional belakangan ini. Ia, yang selalu tampil datar saat berbicara, cenderung tidak ekspresif dan jarang sekali meledak-ledak, akhirnya menumpahkan kekesalannya. Ketika berpidato di acara pembagian sertifikat hak atas tanah di Jakarta Selatan, dengan nada geram ia menyebut lawan politiknya sebagai "politikus sontoloyo". 

Istilah "politikus sontoloyo" merujuk pada karakter politikus yang selalu mempolitisasi kebijakan pemerintah dan menghalalkan segala macam cara --termasuk mengadu domba, mengeksploitasi kebencian, serta cara-cara tidak beretika lainnya-- untuk menarik simpati masyarakat. 

Tidak ada kepulan asap tanpa api. Begitu pula pernyataan Jokowi ihwal politikus sontoloyo tersebut. Ia geram karena setiap kebijakannya selalu dipolitisasi oleh lawan politiknya. Yang paling baru adalah kebijakan pemerintah terkait dana kelurahan. Pihak oposisi menganggap program itu sebagai kebijakan populis yang bertujuan mempermak citra Jokowi menghadapi Pilpres 2019. Padahal, program dana kelurahan merupakan usulan dari Asosiasi Pemeritah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi).


Kebuntuan Dialog

Iklim kebebasan yang dibawa oleh angin gerakan Reformasi tampaknya betul-betul mengubah lanskap sosial-politik kita. Tidak terkecuali dalam hal komunikasi politik yang cenderung lebih bebas, terbuka, meski acapkali melampaui batas. Maka, nyaris saban hari kita disuguhi praktik komunikasi politik yang ramai oleh lalulalang ujaran atau frasa yang cenderung sarkastis. Kata-kata seperti dungu, pembohong, mencla-mencle, plonga-plongo, antek asing, bahkan cebong-kampret menjadi kudapan kita sehari-hari.

Sekilas, fenomena penggunaan kata atau frasa sarkastis dalam komunikasi politik itu merupakan hal biasa. Namun, jika ditilik lebih dalam, fenomena itu menandai terjadinya kebuntuan dialog dalam sistem demokrasi kita. Di satu sisi, kita memang mempraktikkan demokrasi, namun di sisi lain kita alpa menjadikan dialog sebagai variabel penting di dalamnya. 

Fenomena demokrasi tanpa dialog itu tampak jelas dalam perilaku para politisi --baik dari kubu oposisi maupun pemerintah-- yang sibuk menyusun narasi politik yang memiliki kecenderungan satu arah. Para politisi kubu oposisi sibuk menghujat kerja pemerintah, acapkali dengan data yang sumir nilai validitasnya. 

Tidak jarang pula, peluru-peluru kritik itu dilontarkan membabi-buta, bukan sebagai upaya mencari solusi problematika kebangsaan, melainkan lebih untuk mendelegitimasi otoritas pemerintah yang sah. Lebih parah lagi, ketika upaya mendelegitimasi kekuasaan pemerintah itu dilakukan dengan mengeksploitasi isu identitas, terutama agama.

Di sisi yang berseberangan, para politisi yang berada dalam gerbong pemerintah pun acapkali memperlihatkan karakter arogan, alergi pada kritik, dan terkesan hidup dalam menara gading kekuasaan. Setiap kritik yang dilayangkan pada pemerintah, baik yang datang dari kubu oposisi atau masyarakat sipil non-partisan, nyaris selalu ditanggapi dengan respons bernada sinis. Seringkali pula, pemerintah berkilah bahwa kritik harus berdasar pada data atau bahwa kritik harus satu paket dengan solusi. Kalimat-kalimat itu, dalam banyak hal justru menunjukkan watak kekuasaan pemerintah yang semi-otoriter. 

Matinya tradisi dialog dalam demokrasi kita berakibat fatal. Publik terpolarisasi dalam dua kelompok afiliasi politik yang corak relasinya selalu diwarnai dengan kecurigaan dan ketegangan. Isu-isu besar dan strategis seperti masalah ekonomi, pemberantasan korupsi, hingga penegakan hak asasi manusia kemudian hanya berakhir sebagai bahan polemik. Para elite politik masing-masing kubu pun sibuk menyusun argumen untuk menyerang lawan politik atau membela sang junjungan. Semua itu dilakukan dalam bingkai komunikasi satu arah layaknya sebuah pertunjukan drama tunggal.


Ketidakhadiran dialog dalam sistem demorasi kita telah melahirkan banyak persoalan. Selain menguatnya polarisasi politik, hal itu juga berdampak pada menabalnya kehendak untuk berkuasa (will to power) yang berujung pada sikap mau menang sendiri, intoleran, dan tidak peduli pada eksistensi kelompok lain. Sebuah kondisi yang disebut oleh pemikir posmodern Felix Guattari sebagai the monologic democracy.

Situasi demokrasi monologik dicirikan (salah satunya) dengan relasi sosial yang asimetris. Yakni, terdapat satu kelompok dominan di dalam masyarakat yang berupaya mengontrol kelompok lain dengan cara-cara represif dan memaksa untuk menjadikan kelompok lain tidak lebih dari subjek pasif politik. 

Dalam konteks Indonesia, demokrasi monologik itu tampak jelas dalam praktik komunikasi politik antara pemerintah dan oposisi. Pemerintah cenderung menempatkan diri sebagai kekuatan politik absolut yang mengklaim setiap kebijakannya sebagai upaya menyejahterakan masyarakat. Sementara, kritik-kritik yang dilancarkan pihak oposisi acapkali justru tidak merepresentasikan kepentingan masyarakat di level akar rumput. 



Demokrasi Dialogis

Demokrasi dan dialog(isme) idealnya menjadi satu paket mekanisme sosial yang dipraktikkan dalam satu tarikan napas. Tanpa dialog, demokrasi tidak akan menjadi sistem sosial-politik yang mumpuni untuk menyelesaikan persoalan bersama (common problem). Sebaliknya, ketidakhadiran dialog dalam demokrasi justru akan mengantarkan demokrasi menuju senjakalanya. 

Demokrasi yang sehat membutuhkan sebuah relasi sosial-politik yang simetris, di mana masing-masing entitas memiliki kedudukan yang sejajar dan mempraktikkan pola relasi dialogis. Artinya, tidak ada yang lebih dominan ketimbang yang lain. Hanya dalam kondisi yang seperti itulah dimungkinkan terjadinya semacam proses pertukaran sosial (social exchange) yang menjunjung tinggi sikap saling menghargai. Dari situlah benih-benih demokrasi berbasis dialog(isme) dapat disemai. 

Membangun demokrasi dialogis dapat dimulai dengan membenahi pola komunikasi politik, terutama di level elite. Elite politik, sebagai kelompok yang paling sering mengamplifikasi isu-isu strategis patut memperhatikan pilihan kata, frase, intonasi sekaligus gaya bicara di depan publik. Pemilihan kata atau frasa yang berkonotasi peyoratif hanya akan membuat publik tergiring dalam tarikan arus turbulensi sosial.


Di level puncak, para elite politik gemar memaki, di bawah masyarakat sibuk memproduksi ulang makian itu untuk bertikai satu sama lain. Jika praktik yang demikian ini terus terjadi, patut dikhawatirkan akan terjadi turbulensi sosial yang lebih besar yang berpotensi menyulut kekacauan (chaos). Alih-alih disuguhi pertunjukan monolog dengan taburan diksi meresahkan, publik tentu lebih membutuhkan dialog-dialog politik yang mencerahkan di satu sisi dan efektif dalam menyelesaikan problem sosial di sisi lain. 

Esensi demokrasi --seperti dikonsepsikan oleh Jurgen Habermas-- ialah terciptanya sebuah ruang publik (public sphere). Di dalamnya, setiap entitas bebas menyampaikan pendapatnya, berdebat dan saling mengadu gagasan, tentunya dengan bahasa dan komunikasi politik yang tidak hanya kreatif, namun juga memberikan teladan bagi masyarakat luas. 

Kamis, 01 November 2018

PT SOLID BERJANGKA | FlexPai Pakai Snapdragon 8150

Foto: Istimewa/GSM Arena
PT SOLID BERJANGKA MAKASSAR - Selain bikin heboh karena menjadi ponsel lipat pertama di dunia, spek FlexPai pun mengejutkan, karena menjadi ponsel pertama yang menggunakan prosesor 7nm Qualcomm yang bernama  Snapdragon 8150.


Dari informasi yang tersedia, FlexPai diperkuat prosesor 7nm Qualcomm tanpa menyebut nama Snapdragon 8150. Namun satu-satunya prosesor Qualcomm yang dibuat dengan pabrikasi 7nm adalah Snapdragon 8150, itu pun saat ini belum dirilis secara resmi.

Snapdragon 8150, atau bisa juga Snapdragon 855 baru akan diluncurkan oleh Qualcomm pada Desember mendatang. Fitur andalannya tentulah pabrikasi 7nm dan dukungan jaringan 5G.


Baru-baru ini, muncul juga bocoran mengenai prosesor tersebut. Pembagian core di Snapdragon 8150 disebut akan dipecah menjadi tiga.

Pertama adalah empat core 'Silver', dua core 'Gold', dan dua core 'Gold+'. Silver adalah penamaan yang dipakai Qualcomm untuk menyebut core hemat energi, sementara Gold dipakai untuk menamai core berperforma tinggi, namun sampai saat ini Qualcomm belum pernah menggunakan nama Gold+ untuk corenya.


Pembagian core ini serupa dengan yang dilakukan Huawei di Kirin 980, yaitu penggunaan tiga cluster core. Huawei mempunyai empat Cortex-A55 core, dua Cortex-A76 core dengan kecepatan 2,6GHz, dan dua Cortex A-76 core dengan kecepatan 1,92 GHz.


Penggunaan tiga cluster core ini juga sebelumnya dipakai oleh MediaTek di Helio X30, yang merupakan prosesor sepuluh core. Namun MediaTek hanya menyediakan dua core berperforma tinggi, dan sisanya delapan core hemat energi.


Penggunaan tiga cluster core ini secara teoritis bisa menghasilkan chip yang lebih efisien bagi Qualcomm. Pasalnya kehadiran core kelas menengah disebut bisa menjembatani pekerjaan-pekerjaan yang terlalu berat untuk core hemat energi, namun terlalu ringan untuk core performa tinggi.