Senin, 15 Oktober 2018

SOLID GOLD | Ballo’ Tidak Selamanya Pahit

SOLID GOLD MAKASSAR - Ballo (Bahasa Makassar, dalam Bahasa Bugis disebut Tua’) adalah cairan yang diperoleh dari pohon Lontar melalui proses penyadapan.

Minuman ini sudah dikenal sejak zaman I La Galigo, jauh sebelum Kerajaan Gowa, Kerajaan Bone, dan kerajaan lainnya di Sulawesi muncul.


Belum diperoleh kesepakatan oleh ahli sejarah, kapan orang Bugis-Makassar-Mandar-dan Toraja mulai mengenal ballo’.

Dalam berbagai literatur tentang cerita tradisi Bugis-Makassar, ballo’ menjadi sajian pelengkap kaum bangsawan menyambut tetamu. Ia kerap ditandemkan dengan daun Sirih.


Ballo’ atau Tua’ dikenal di seluruh wilayah Sulsel, hingga pelosok desa. Di mana ada Pohon Lontar berdiri, berarti di situ berpotensi besar menghasilkan ballo atau tua'.

Ballo’ Te’ne’ dijajakan di Jeneponto, di sepanjang Jl Poros Makassar-Jeneponto. Awalnya ballo te'ne ini dijajakan dalam botol bekas air mineral.


Lalu, sekitar tahun 2008, aktivis asal Jeneponto mendirikan Paguyuban Lontara Sakti yang menghimpun“pengusaha” dan “produsen” ballo di butta turaatea.

Lewat Paguyuban Lontara Sakti ini, Mukhtar memprakarsai hadirnya ballo dalam kemasan khusus, . Mukhtar Tompo yang juga anggota DPRD Sulsel Periode 2009-2014 dan anggota DPR RI periode 2014-2019 ini, bekerja sama dengan sejumlah intansi untuk memberdayakan petani penghasil ballo.



Proses Penyadapan
Pohon Lontar bisa disadap untuk menghasilkan ballo’ setiap saat. Pangkal cikal bakal buah (bunga) Lontar dipotong. Lalu batang bambu sepanjang sekitar 30 centimeter diikatkan di bawah potong pangkal tandan. Nah, cairan yang keluar dari tandan itulah yang ditampung di tabung bambu.

Jika cairan itu tidak dicampurkan dengan bahan apapun, ia akan tetap manis dan menjadi ballo te'ne atau tua' cenning.


Untuk menghasilkan ballo' Kaccih atau Tua’ Pai’ (yang pahit), dicampurkan getah pohon lainnya. Biasanya dimasukkan potongan batang pohon duwet, dalam Bahasa Bugis-Makassar disebut “Coppeng” atau “Caloppeng”, beberapa centimeter untuk menghasilan ballo' Kaccih.




Selasa, 09 Oktober 2018

SOLID BERJANGKA | Solid Gold Berjangka Gelar Donor Darah Peduli Sulteng

Solid Gold Berjangka Gelar Donor Darah Peduli Sulteng
SOLID BERJANGKA MAKASSAR – Manajemen Solid Gold Berjangka menggelar donor darah peduli gempa dan tsunami untuk warga Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng). Donor darah dilakukan, Sabtu (06/10) di Kantornya, Jalan Ratulangi.
Kegiatan ini untuk membantu warga yang membutuhkan darah, apalagi pasca kejadian tersebut banyak korban jiwa yang membutuhkan darah.
Staf  Compliance Solid Gold Makassar, Sunarti Sabir mengatakan, donor darah yang dilakukan untuk meringankan beban para korban bencana, utamanya untuk pemulihan kesehatan mereka banyak yang membutuhkan donor darah.
“Kami bekerja sama PMI Makassar melakukan donor darah ini dengan melibatkan 6 tim medis, sementara pendonor berasal dari karyawan Solid Gold beserta keluarganya dengan target kantong darah sebanyak 200,” ujarnya.
Dia menuturkan, kegiatan sosial untuk korban gempa dan tsunami untuk Sulteng bukan kali pertama dilakukan, sebelumnya juga telah disalurkan bantuan kebutuhan pokok lainnya.
Sementara itu, kemarin, SOLID GROUP turut serta menyalurkan donasi kemanusiaan untuk masyarakat terdampak gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.
“Kami menggandeng TNI – AU, untuk mengirimkan Bantuan kemanusiaan senilai  Rp300 juta dalam bentuk barang yang dibutuhkan Masyarakat Korban Gempa langsung di Palu dan juga bekerja sama untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk Masyarakat Korban Gempa yg telah dievakuasi di Kota Makassar. Posko ASRAMA Haji dan LANUD, Makassar,”tutur Representative Solid Group Indonesia, Kezia Pingkan Mallisa Massie, dalam rilisnya.
Untuk itu, diharapkan bantuan dapat menjangkau seluruh masyarakat terdampak bencana sesegera mungkin.
“Saat Sulawesi Tengah sedang Berduka, maka Kami di Makassar Sulawesi Selatan juga Turut berduka, merasakan nestapa saudara kami disana, demikian juga menjadi duka Bangsa ini,” ujarnya.

Senin, 08 Oktober 2018

SOLID GOLD | SOLID GOLD | Solid Gold Beri Bantuan untuk Korban Bencana Palu-Donggala


SOLID GOLD MAKASSAR - SOLID Group turut serta menyalurkan donasi kemanusiaan untuk masyarakat terdampak gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.
“Kami menggandeng TNI – AU, untuk mengirimkan Bantuan kemanusiaan senilai Rp.300,000,000 dalam bentuk barang yang dibutuhkan Masyarakat Korban Gempa langsung di Palu.” Kata Kezia Pingkan Mallisa Massie, As a reprensentative of solid group Indonesia, Jumat (5/10/2018).
” Kami juga menyalurkan bantuan kemanusiaan ini untuk Masyarakat Korban Gempa yang telah dievakuasi di Kota Makassar, termasui di Posko ASRAMA Haji dan LANUD,Makassar,”Lanjut Kezia.
Menurut Kezia, bantuan solid gold ini diharapkan dapat menjangkau seluruh masyarakat terdampak bencana sesegera mungkin.
“Saat Sulawesi Tengah sedang Berduka, maka Kami di makassar Sulawesi Selatan juga Turut berduka, merasakan nestapa saudara kami disana, demikian juga menjadi duka Bangsa ini”. Kata kezia
Keseluruhan jajaran manajement Solid Gold berdoa agar pemulihan Palu – Donggala Sulawesi Tengah segera terjadi.
“yang terluka mendapatkan perawatan serius, dan pemerintah, tenaga medis serta relawan yang tengah bergerak dan bekerja dengan hati bagi pemulihan Palu dibuat Tuhan berhasil di segala hal untuk semua terdampak bencana inii,”tambahnya.

Selasa, 02 Oktober 2018

SOLID BERJANGKA | Sepi Perdagangan Membuat IHSG Melemah

Foto: detikcom

 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini berakhir melemah 0,53% atau 31,95 poin ke level 5.944,601. Padahal hari ini data BPS cukup positif yakni pada September 2018 terjadi deflasi sebesar 0,18%.


Menurut Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali pelemahan IHSG hari ini lebih karena sepinya perdagangan saham. Total nilai transaksi hari ini hanya Rp 6,08 triliun dari 9,13 miliar lembar saham.




"Hari ini transaksi cukup kecil Rp 6 triliun dibandingkan rata-rata transaksi pekan lalu di level sekitar Rp 8 triliun," terangnya.




Frederik menilai, sepinya perdagangan lebih karena masuk bulan baru dan terjadinya window dressing ringan. Window dressing sendiri merupakan aksi strategi dari manajer investasi untuk mempercantik portofolionya.




Sementara untuk data BPS menurut Frederik tak begitu mempengaruhi. Sebab secara keseluruhan masih dalam rentang target 3,5%.




Meskipun dari data BPS deflasi terjadi karena hampir semua segmen turun seperti transportasi, komunikasi & jasa keuangan mulai melambat dari 4,10% menjadi 4,04%, lalu edukasi, rekreasi dan olahraga dari 3,76% menjadi 3,25% dan paling besar kontribusi penurunan adalah harga makanan dari 4,9% menjadi 3,75% serta harga pakaian dari 3,41% menjadi 3,15%.

Senin, 01 Oktober 2018

SOLID GOLD | Tragedi 1965 dalam Kurikulum Nasional


Tragedi 1965 dalam Kurikulum Nasional
SOLID GOLD MAKASSAR - Akhir September dan 1 Oktober kembali tiba. Ribut-ribut soal PKI dan komunisme kembali marak. Ada yang ingin film G30S/PKI kembali diputar di mana-mana, ada yang asal menuduh seseorang atau kelompok tertentu sebagai komunis dan PKI. Belum lagi jika kita menyebut sederet catatan pembubaran acara yang dituduh bagian dari upaya menyebarkan komunisme dan menghidupkan PKI kembali.

Dua puluh tahun setelah Orde Baru tumbang, masih sulit bagi bangsa ini untuk membuka diri pada kesalahan masa lalu dan bersama-sama mencari kebenaran atas apa yang sesungguhnya terjadi. Dalam kenyataan seperti ini, bagaimana peristiwa penting dalam sejarah bangsa tersebut diajarkan di bangku sekolah? Apa yang disampaikan oleh guru dan buku pelajaran pada siswa-siswa di ruang kelas?


Kurikulum sekolah yang berlaku sekarang ini adalah Kurikulum 2013. Peristiwa 30 September 1965 sudah diajarkan sejak bangku SD hingga SMU dengan porsi dan penekanan yang berbeda-beda. Pada tingkat SD, peristiwa ini diajarkan melalui pengenalan pahlawan-pahlawan revolusi. Materi pengajaran yang cukup komprehensif atas peristiwa ini ada pada pelajaran Sejarah Kelas XII (Kelas 3 SMU). 

Dalam buku Sejarah untuk siswa Kelas XII yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2015, peristiwa yang terjadi pada 30 September 1965 itu kembali disebut dengan menggunakan istilah "G30S/PKI". Penggunaan istilah ini tak bisa diabaikan begitu saja. 


Salah satu buah dari Reformasi 1998 adalah adanya upaya dari segenap elemen masyarakat untuk mempertanyakan segala narasi tunggal atas sejarah bangsa ini, termasuk apa yang terjadi pada akhir September 1965. Salah satu wujud dari upaya itu adalah sikap untuk menganggalkan kata "PKI" dari istilah "G30S". Maka, pada tahun-tahun awal Reformasi, penyebutan peristiwa itu cukup dengan "G30S", bukan "G30S/PKI". Pelajaran sejarah di sekolah pada tahun-tahun pertama Reformasi pun menggunakan G30S, bukan G30S/PKI. Kini, dengan Kurikulum Nasional 2013, melalui buku-buku yang resmi diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pengajaran sekolah kembali menggunakan konsep yang diciptakan dan disebarluaskan oleh Orde Baru: G30S/PKI.

Satu hal yang sedikit menggembirakan dari pelajaran sejarah saat ini adalah adanya pengakuan bahwa masih ada kontroversi dan perdebatan atas apa yang terjadi pada 30 September 1965. Dalam buku terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut disebutkan ada enam teori yang mencoba menjelaskan siapa dalang peristiwa tersebut. 


Teori pertama, Gerakan 30 September merupakan persoalan internal Angkatan Darat yang dipicu oleh kecemburuan terhadap elite TNI AD. Teori kedua, bahwa dalang Gerakan 30 September adalah Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA). Teori ketiga menyebut bahwa Gerakan 30 September bisa terjadi karena ada pertemuan kepentingan Inggris dan Amerika Serikat untuk menggulingkan Sukarno. Teori keempat, Sukarno adalah dalang Gerakan 30 September. Teori kelima menjelaskan bahwa tak ada skenario besar dan pemain tunggal dalam peristiwa tersebut; semuanya pecah dalam improvisasi di lapangan. Teori terakhir, yang menjadi narasi dominan hingga hari ini, dalang Gerakan 30 September adalah PKI. 

Buku tersebut menyebut teori yang antara lain dikemukakan oleh Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh ini merupakan teori yang paling umum didengar mengenai kudeta 30 September 1965. Meski diakui adanya beragam versi, toh tetap saja versi keenam yang mendapat porsi besar dalam uraian buku yang menjadi pegangan siswa berdasarkan Kurikulum Nasional 2013.


Cerita pun bergulir mulai dari segala tindak-tanduk PKI yang membuat resah masyarakat di berbagai daerah, segala pertentangan, dan bahkan kekerasan dalam masyarakat yang kemudian mencapai puncaknya dengan pemberontakan yang terjadi pada malam 30 September. Setelah itu, dalam situasi yang penuh ketidakpastian, Soeharto mengambil alih kepemimpinan untuk menumpas G30S/PKI dan menangkap pentolan PKI di daerah-daerah.

Soeharto pun menjadi pahlawan. Persis seperti penggambaran dalam film G30S/PKI yang selama Orde Baru berkuasa selalu diputar pada malam 30 September. Dan, cerita pun berakhir. Pelajaran tentang G30S untuk siswa Kelas XII diakhiri dengan narasi keberhasilan penumpasan PKI. 

Tak ada kisah tentang pembantaian ratusan ribu manusia di berbagai daerah. Tak ada cerita tentang orang-orang yang dipenjara, disiksa, diperkosa, diasingkan tanpa proses peradilan. Belum lagi fakta bahwa tak semua dari orang-orang tersebut adalah mereka yang tak tahu apa-apa tentang hiruk-pikuk politik masa itu. Tentu saja juga tak ada cerita tentang keturunan anggota PKI yang seumur hidup juga harus menanggung hukuman. 

Dua puluh tahun setelah Reformasi, kurikulum nasional kita masih menyembunyikan fakta kelam tersebut, mengabaikan segala bentuk temuan, kesaksian, pemberitaan di dalam maupun di luar negeri. Apa yang kita harapkan dari pelajaran sejarah macam ini? Bagaimana bisa kita mengharapkan lahirnya generasi-generasi kritis yang membawa perubahan jika yang mereka pelajari di sekolah adalah bagian dari propaganda usang?

Mengakui bahwa pembantaian dan segala bentuk kekejian itu ada merupakan langkah pertama dalam upaya mencari kebenaran dan keadilan. Dan, memasukkan pengakuan tersebut dalam pelajaran sekolah adalah sebuah keharusan yang tak bisa lagi ditunda.