Rabu, 11 Juli 2018

SOLID GOLD BERJANGKA | Cegah Cyber Crime, Wakapolri Harap Kemampuan Teknologi Meningkat

Cegah Cyber Crime, Wakapolri Harap Kemampuan Teknologi Meningkat  SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR - Wakapolri Komjen Syafruddin berharap kemampuan Polri di bidang teknologi meningkat di HUT Bhayangkara Ke - 72 ini. Kemampuan itu sangat penting untuk mencegah kasus cyber crime

 
"Tidak hanya SDM, tapi yang lebih penting adalah teknologi karena teknologi berkembang cepat. Harus lebih mendahului percepatan teknologi, kalau perlu lebih maju," kata Syafruddin.


Syafruddin menerangkan cyber crime beda dengan kejahatan konvensional. Karena itu, strategi menghadapinya juga berbeda.

 
"Sehingga kita bisa antisipasi terutama kejahatan dunia maya. Sekarang kita hadapi kejahatan dunia maya, bukan kejahatan konvensional," ujar Syafruddin.


Syafruddin menuturkan peningkatan kualitas SDM dan teknologi harus berjalan secara paralel. "Oleh karena itu, selain harus meningkatkan SDM, Polri harus paralel dengan ilmu pengetahuan dan teknologi," ucap dia.

Selasa, 10 Juli 2018

SOLID BERJANGKA | Kopi Garut Tembus Pasar Taiwan

Foto: Hakim Ghani/detikcom
SOLID BERJANGKA MAKASSAR - Produsen kopi di Kabupaten Garut, Jawa Barat, untuk pertama kalinya mengekspor kopi ke Taiwan. Kopi yang diekspor merupakan kopi Garut jenis arabika.
 
Mahkota Java Coffe, produsen kopi Garut pertama yang berhasil mengekspor kopi Garut. Ekspor dilakukan secara seremonial dan dilepas langsung Wakil Bupati Garut Helmi Budiman, Senin (09/07/2018) sore di markas Mahkota Java Coffee, Jalan Raya Bayongbong-Garut, Kecamatan Bayongbong.
 
"Alhamdulillah kita ekspor kopi asli Garut ini ke Taiwan. Ini baru pertama kali," ujar Heri Yuniardi, pemilik Mahkota Java Coffee.

Kopi arabika yang diekspor pertama ini sekitar 15 ton. Heri mengatakan, peminat kopi arabika Garut di luar negeri cukup banyak. Kopi yang diekspor hasil produksi para petani yang terhimpun dalam kelompok petani Kopi Asli Urang Garut (Kasuga).

BACA JUGA :PT Solidberjangka Transaksi Sistem Online

"Ada perusahaan yang minta (ekspor). Pertama dites dulu cita rasanya, ternyata cocok," kata Heri.

Kopi Garut memang belum terlalu terkenal seperti kopi-kopi asal Indonesia lainnya seperti kopi Toraja, kopi Lampung dan kopi Gayo. Namun, Heri menjelaskan cita rasa khas menjadi keunggulan kopi arabika dari Garut.


"Taste lebih smooth," katanya.

"Kopi yang diekspor berbentuk green bean (kopi mentah) yang dalam mata rantai kualitas kopi (yang diekspor) itu adalah arabika grade satu," ucap Heri menambahkan.


Setelah ekspor kopi Garut ke Taiwan, dia berharap agar kiprah kopi Garut bisa terus mendunia.

"Sudah saatnya kopi Garut bermain di pasar internasional," ujar Heri.

Senin, 09 Juli 2018

SOLID GOLD | Pemerintah Resmi Luncurkan Perizinan Online Terpadu

Foto: Trio Hamdani/detikFinance
SOLID GOLD MAKASSAR - Sistem OSS (Online Single Submission) alias Perizinan Online Terpadu hari ini diluncurkan oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution.

BACA JUGA :Legalitas PT Solidgold Berjangka

Sistem yang bertujuan mempermudah perizinan berusaha ini, diluncurkan di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta. Peluncuran dilakukan sekitar 08.20 WIB, ditandai dengan penekanan tombol oleh para menteri.

"Peluncuran operasional OSS ini mulai berlaku di seluruh Indonesia. Dapat diakses dari manapun dan kapan pun," kata Darmin.


"Anda bisa dari kamar hotel anda lakukan aplikasi investasi, atau investor atau pelaku usaha dapat menggunakan fasilitas pelayanan OSS di seluruh PTSP di pusat, di pemda," sambungnya

Darmin menambahkan, nantinya setelah hari ini sistem OSS diluncurkan, maka presiden akan melihat langsung pelayanan sistem OSS ini.

BACA JUGA :Profil Perusahaan PT Solidberjangka

"Jadi dengan secara resmi diluncurkan, pak presiden pesankan beberapa hari kemudian saya (Jokowi) akan datang lihat OSS itu," jelasnya.

Turut hadir sejumlah Menteri Kabinet Kerja di pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yakni Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menpan-RB Asman Abnur, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Sofyan Djalil.


Ada juga Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly, serta Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.

 
Hadir pula Kepala BKPM Thomas Lembong, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, dan Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Sofjan Wanandi.

Jumat, 06 Juli 2018

PT SOLID GOLD BERJANGKA | Ini Senjata Trump Ancam Perang Dagang dengan RI

Foto: REUTERS/Jonathan Ernst
PT SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR - Pemerintah Amerika Serikat (AS) tengah mengevaluasi status Indonesia sebagai negara penerima manfaat skema generalized system of preferences (GSP).

Manfaat dari GSP itu bisa jadi yang membuat perdagangan Indonesia surplus sekitar US$ 9,5 miliar dengan AS.

BACA JUGA :Solidgold

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani menjelaskan bagaimana GSP bekerja dan apa yang akan terjadi apabila fasilitas tersebut dicabut dari Indonesia.

Sistem GSP mencakup penghapusan tarif dan pengurangan tarif terhadap hampir 5.000 sektor tarif AS.

Hampir sama seperti sistem GSP Uni Eropa, GSP AS menyediakan keuntungan berbeda-beda bagi negara penerima, terdiri atas kategori A (berlaku bagi seluruh negara penerima), kategori A* (mengecualikan negara penerima tertentu) dan kategori A+ (diperuntukkan khusus bagi negara miskin (Least Developed Countries/LDCs). 

 
Sampai hari ini, Indonesia masih termasuk di dalam GSP kategori A yang diberikan penghapusan bea masuk bagi sekitar 3.500 lini tarif AS.
Keuntungan yang diperoleh Indonesia dari GSP antara lain mencakup produk pertanian tertentu, serta produk tekstil, apparel, dan travel goods tertentu.

BACA JUGA :Solidgold Berjangka

Keuntungan dari GSP akan terus diberikan ke Indonesia sampai dikeluarkan dari daftar penerima GSP, atau produk-produk Indonesia telah mencapai ambang batas (threshold) GSP yang ditetapkan AS.

"Saat ini, pemerintah AS sedang mengkaji Indonesia atas dua aspek, yakni eligibilitas Indonesia untuk terus menerima manfaat dari GSP dan review atas lini-lini tarif AS yang dibebaskan bagi Indonesia dalam mekanisme GSP," jelas Shinta.


Review eligibilitas Indonesia dilakukan oleh United States Trade Representative (USTR), sementara itu evaluasi atas lini-lini tarif AS yang dibebaskan bagi RI dilakukan oleh United States International Trade Commission (US ITC).

Apabila hasilnya dari evaluasi merekomendasikan Indonesia tidak lagi berhak atas fasilitas GSP, manfaat dari GSP yang diterima Indonesia pada saat ini akan dihapuskan segera setelah rekomendasinya ditandatangani Trump.

 
Dijadwalkan, penandatangan rekomendasi oleh Trump itu dilakukan antara November 2018 hingga awal 2019.

Jika keputusannya demikian, maka untuk seterusnya seluruh produk Indonesia akan dikenakan kategori tarif MSN (Most Favoured Nations) oleh AS sesuai ketentuan WTO.

Kamis, 05 Juli 2018

PT SOLID BERJANGKA | Dolar AS Melambung Tinggi, Industri Makanan Tertekan

https: img.okeinfo.net content 2018 07 05 278 1918124 dolar-as-melambung-tinggi-industri-makanan-tertekan-SiVe5hG0zJ.jpg
PT SOLID BERJANGKA MAKASSAR - Industri makanan dan minuman turut merasakan pengaruh pelemahan rupiah yang masih saja terjadi. Gejolak kurs rupiah menjadi momok tersendiri bagi industri makanan minuman karena bahan bakunya didominasi impor. 

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Adhi S Lukman mengakui, pelemahan rupiah saat ini yang sudah menembus angka di atas Rp14.400-an di asakan berat bagi industri.

“Hitungan saya (rupiah) sudah terdepresiasi 8%-10% bila dibandingkan dengan tahun lalu. Bujet kita acuannya Rp13.600 sesuai dengan APBN. Ini tentunya bagi industri yang bahan baku impornya cukup banyak, ini cukup berat,” ujar Adhi.

 
Dia menambahkan, pelaku usaha makanan minuman juga merasakan dampak lain akibat kenaikan biaya energi yang berpengaruh pada angkutan logistik yang ikut naik. Untuk itu, menurut Adhi, industri makanan dan minuman harus melakukan penyesuaian harga. 

“Perkiraan saya akan ada beban biaya tambahan sekitar 3%-6%, tergantung dari industrinya. Beban tambahan 3%-6% ini kalau margin tidak mendukung, otomatis keputusan ter akhir harus menaikkan harga,” ungkap Adhi. 

Dia melanjutkan, pengusaha tidak bisa serta merta menaikkan harga produk karena butuh waktu sekitar dua bulan sebagai toleransi. Hal ini pun setelah mempertimbangkan kon disi jika penjualan akan turun di tengah situasi seperti ini. 

Menurut dia, ada beberapa strategi untuk menyiasati kenaikan kurs dan biaya energi. Di antaranya mengubah ukuran produk dan mengubah bahan bungkus produk. Namun itu pun tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. “Butuh waktu, harus izin BPOM, packaging, tapi beberapa sudah melakukannya. Itu upaya efisiensi yang dilakukan industri karena kalau menaikkan harga juga berat,” tuturnya. 


Meski begitu Adhi yakin pertumbuhan industri makanan dan minuman dapat tumbuh lebih dari 10% pada 2018 karena permintaan yang cukup tinggi. Namun dari sisi margin industri semakin lama semakin berat.
“Omzet kami di periode pertama tahun ini hanya 30%. Sementara pengeluaran kami mencapai 200%. Ini karena banyaknya libur di Juni, kami harus bayar THR untuk karyawan, sementara produktivitas tak mengimbangi,” jelasnya. 

Menurut Adhi, beberapa industri intermediate seperti industri tepung terigu dan gula sudah menaikkan harga. “Impor gandum sudah naik. Tapi untuk industri yang produk jadi memang marginnya masih lebih longgar. Mereka bilang kalau sudah tidak kuat harus menaikkan harga,” tandasnya. 

Upaya Stabilisasi Rupiah Tetap Berjalan
 
Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus melakukan lang kah stabilisasi rupiah, tidak hanya melalui kebijakan suku bunga yang terukur. BI juga akan melakukan intervensi untuk memastikan tersedianya likuiditas dalam jumlah yang memadai baik valuta asing (valas) maupun rupiah. 

“Pelemahan rupiah yang sekarang ini masih terkendali, secara tahun juga terkendali sehingga tidak perlu kepanikan,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta. 

 
BI memperkirakan nilai tukar rupiah masih terus berfluktuasi karena dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain kebijakan moneter yang dikeluarkan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) yang akan menaikkan suku bunga acuan hingga lima kali hingga tahun depan. 

Faktor lainnya adalah kebijakan Bank Sentral China (People Bank of China/PBoC) untuk menurunkan giro wajib minimum (GWM). Kemudian kebijakan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) untuk menurunkan stimulus berupa pembelian aset-aset portofolio serta perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang membuat ketidakpastian global masih akan tinggi. 

“Tahun ini suku bunga acuan The Fed diproyeksi naik empat kali. Sebelumnya sudah dua kali, nanti hingga akhir tahun dua kali lagi. Untuk tahun depan diproyeksi tiga kali lagi. Jadi total akan ada lima kali lagi kenaikan Fed rate,” tambah Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara. 


Dia menambahkan, akibat sejumlah kebijakan moneter di berbagai negara itu, ke depan tren perekonomian global akan mengarah pada pengetatan likuiditas. Hal ini membuat nilai tukar di sejumlah negara, termasuk rupiah, terus memburuk akibat penguatan dolar.

Berdasarkan catatan BI, hingga akhir Juni 2018 pelemahan kurs rupiah telah mencapai 5,6% secara year to date (ytd). Adapun terkait de ngan pergerak an nilai tukar rupiah, Perry me nyebut hal tersebut harus diukur secara relatif bila dibandingkan dengan negara-negara lain. 

Menurutnya saat ini pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS juga dialami negara-negara di kawasan regional. Secara relatif, sambung dia, pergerakan nilai tukar rupiah masih terkendali. Ke depan BI akan terus menjaga stabilitas ekonomi di tengah ke tidakpastian perkembangan ekonomi global, khususnya stabilitas nilai tukar rupiah.

Peneliti The Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai, kenaikan suku bunga acuan hanya merupakan obat sementara atas volatilitas rupiah yang sudah di luar batas, yang dampaknya juga belum tentu efektif menghentikan pelemahan. 

Oleh karena itu BI dan pemerintah tidak boleh lengah. Selain itu, menurut dia, faktor utama depresiasi rupiah saat ini sebenarnya adalah faktor fun damental ekonomi yang rentan dari gejolak eksternal. 


“Salah satu sumber ‘penyakit’ loyonya rupiah adalah defisit transaksi berjalan,” ungkap Eko.
Oleh karena itu harus ada upaya sangat serius dari pemerintah untuk dapat mengakhiri defisit ini. Jika upaya menggenjot ekspor masih sulit dilakukan, konsekuensinya adalah sekuat tenaga mengurangi impor dan menyubstitusinya dengan produk domestik. Di bagian lain, langkah BI menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate menjadi 5,25% pada pekan lalu di nilai belum bisa menahan laju pe lemahan rupiah secara signifikan. 

Kemarin rupiah berada pada posisi Rp14.343 ber da sarkan kurs referensi Jakarta Inter bank Spot Dollar Rate (Jisdor), menguat dari sehari sebelumnya yang sebesar Rp14.418 per dolar AS.