Rabu, 10 September 2025

Solid Gold Berjangka Makassar - Gore Street Energy Storage Melaporkan NAV Datar di Tengah Operasi yang Lemah

 

Solid Gold Berjangka Makassar - Gore Street Energy Storage Fund PLC (LON:GSF) pada hari Rabu melaporkan nilai aset bersih (NAV) yang datar sebesar 102,8p per saham untuk kuartal yang berakhir pada 30 Juni 2025, dengan kinerja operasional yang lemah terus menekan cakupan dividen.

Hasil kuartalan perusahaan investasi penyimpanan energi ini menunjukkan bahwa pembayaran dividen yang tidak tercakup mengurangi NAV sebesar 0,8p per saham, yang diimbangi oleh perubahan asumsi valuasi positif yang menambahkan 0,9p per saham.

Kinerja operasional tetap lemah selama kuartal kedua, dengan generasi kas bersih hanya sebesar £1 juta setelah biaya utang dan dana.

Hal ini menghasilkan cakupan dividen sekitar 0,2 kali untuk kuartal tersebut, yang menunjukkan penurunan signifikan dari cakupan 0,42 kali yang dicapai pada tahun fiskal 2025, meskipun ada pengurangan dividen kuartalan menjadi 1p per saham.

Kinerja lemah ini kemungkinan disebabkan oleh tantangan di pasar Texas (ERCOT), meskipun peningkatan moderat diharapkan pada kuartal ketiga seiring dengan peningkatan kapasitas operasional.

Saham Gore Street saat ini diperdagangkan dengan diskon 41% terhadap NAV yang dilaporkan, dibandingkan dengan diskon rata-rata kelompok sebaya energi terbarukan sekitar 29%.

Perusahaan melaporkan utang bersih sebesar £70,5 juta pada akhir kuartal, terdiri dari £51,4 juta dalam bentuk kas dan £121,9 juta dalam bentuk utang, dengan tambahan ruang sebesar £42,9 juta yang tersedia pada fasilitas utangnya. Utang bersih sejak itu menurun menjadi £64 juta setelah penerimaan kredit pajak investasi (ITCs) pertama.

Gore Street mempertahankan panduan dividen tahun fiskal 2026 sebesar 2,25p per saham setelah pengurangan yang diumumkan pada Juli. Perusahaan masih berencana untuk membayar dividen khusus sebesar 3p per saham pada paruh kedua tahun kalender 2025 setelah menerima dana dari penjualan ITC AS.

Portofolio yang didanai perusahaan kini sepenuhnya berenergi, dengan proyek DogFish dan Big Enderby menjadi operasional setelah periode pelaporan, menyusul penundaan konstruksi yang berdampak pada NAV sebesar 0,4p per saham.

Optimasi aset internal telah diperluas ke tiga aset ERCOT, dengan kapasitas yang dioptimalkan kini mewakili 28% dari keseluruhan portofolio. Perusahaan melaporkan kinerja total sekitar 20% di atas tolok ukur Modo.

Selasa, 09 September 2025

Solid Gold Berjangka Makassar | Wall Street Menguat, Pasar Saham Optimistis The Fed Segera Pangkas Suku Bunga AS

 

Solid Gold Berjangka Makassar - Bursa Saham Amerika Serikat (Wall Street) ditutup menguat pada perdagangan di Senin (8/9). Kenaikan ini terjadi karena investor semakin yakin akan prospek pemangkasan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed).

Dilansir dari Reuters, Selasa (9/9), berikut ini adalah catatan pergerakan sejumlah indeks utama dari Bursa Saham Amerika Serikat (Wall Street):

S&P 500: Naik 0,21% ke 6.495,15

Nasdaq: Bertambah 0,45% ke 21.798,70

Dow Jones Industrial Average: Menguat 0,25% ke 45.514,95.

Traders kini sepenuhnya memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin dan 10% peluang pemangkasan lebih besar yakni 50 basis poin dari Federal Reserve (The Fed).

Optimisme tersebut muncul setelah laporan nonfarm payrolls terbaru menambah kekhawatiran terhadap pelemahan pasar tenaga kerja dari Amerika Serikat.

“Fokus pasar ada pada langkah bank sentral berikutnya. Pasar sudah rakus, karena sudah mendiskon pemangkasan 25 bps. Jika orang membeli karena berharap 50 bps, ya itu tidak akan terjadi,” ujar Chief Executive Officer (CEO) Longbow Asset Management, Jake Dollarhide.

Sejumlah broker global juga merevisi proyeksi mereka. Barclays kini memperkirakan tiga kali pemangkasan masing-masing 25 bps pada tahun ini dari sebelumnya dua kali. Sementara Standard Chartered justru memperkirakan pemangkasan 50 bps pada September, dua kali lipat dari prediksi awalnya.

Sepanjang pekan ini, investor akan menanti rilis data inflasi serta revisi benchmark payrolls dari Bureau of Labor Statistics (BLS) AS. Data tersebut berpotensi memperkuat spekulasi pemangkasan suku bunga lebih besar.

Senin, 08 September 2025

Solid Gold Berjangka Makassar | Harga Emas Tembus Rekor Baru, Hampir Sentuh US$3.600

 

Solid Gold Berjangka Makassar - Harga emas melanjutkan reli dan mencetak rekor baru pada perdagangan di Jumat (5/9). Hal ini terjadi setelah data ketenagakerjaan yang lemah semakin memperkuat ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari Reuters, Senin (8/9), berikut ini adalah catatan pergerakan harga dari sejumlah komoditas utama logam mulia global:

Emas Spot: Naik 1,4% menjadi US$3.596,55

Emas Berjangka Desember: Menguat 1,3% di US$3.653,30

Silver Spot: Naik 0,8% ke US$40,98

Platinu: Naik 0,5% ke US$1.373,92

Palladium: Turun 1,5% menjadi US$1.110,32

Reli emas tahun ini didorong oleh pelemahan dolar, aksi beli bank sentral, pelonggaran kebijakan moneter, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.

Data terbaru menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja melemah tajam pada bulan lalu, dengan tingkat pengangguran naik ke 4,3% di AS.

Hal tersebut menandakan kondisi pasar tenaga kerja yang semakin longgar. Pasar kini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga yang pasti pada pertemuan bank sentral di September 2025.

“Emas mencetak rekor baru; pelaku bullish melihat tren pelemahan pekerjaan yang jelas akan berujung pada banyak pemangkasan suku bunga,” kata Trader Logam Independen, Tai Wong.

Sejumlah analis juga menyoroti isu independensi bank sentral sebagai faktor kunci arah emas, terutama setelah tekanan politik dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Sebagai aset tanpa imbal hasil, emas cenderung bersinar di tengah suku bunga rendah dan ketidakpastian tinggi, sehingga tetap menjadi pilihan utama investor untuk lindung nilai.

Kamis, 04 September 2025

Solid Gold Berjangka Makassar | Harga Emas Cetak Rekor Baru, Tembus US$3.576

 

Solid Gold Berjangka Makassar - Harga emas dunia memperpanjang reli rekornya pada perdagangan di Rabu (3/9). Hal ini didorong data tenaga kerjayang melemah dan semakin memperkuat keyakinan pasar bahwa akan ada pemangkasan suku bung dari Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari Reuters, Kamis (4/9), berikut ini adalah catatan pergerakan harga dari sejumlah komoditas utama logam mulia global:

Spot gold: Naik 1,2% menjadi US$3.576,59

Emas berjangka: Menguat 1,2% ke US$3.635,50

Perak spot: Naik 1,1% ke US$41,34

Platinum: Melesat 2,2% ke US$1.434,17

Palladium: Bertambah 1,8% ke US$1.155,05.

Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan jumlah lowongan pekerjaan turun lebih besar dari perkiraan pada Juli. Hal itu sejalan dengan tanda-tanda pendinginan pasar tenaga kerja.

Kondisi tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa bank sentral akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 16-17 September.

“Emas sudah diperdagangkan di wilayah rekor sebelum data dirilis, dan angka yang lebih lemah semakin mendorong harga. Target berikutnya ada di US$3.600,” kata Analis Pasar City Index, Fawad Razaqzada.

Investor kini menunggu data klaim pengangguran mingguan, laporan ketenagakerjaan, serta nonfarm payrolls untuk memperjelas arah kebijakan moneter.

Adapun Gubernur The Fed Christopher Waller menegaskan dukungannya untuk pemangkasan suku bunga bulan ini. Sementara Gubernur Lisa Cook kembali menolak upaya pemecatannya oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Rabu, 03 September 2025

Solid Gold Berjangka Makassar | Bursa Eropa Anjlok, Tertekan Kenaikan Imbal Hasil Obligasi

 

Solid Gold Berjangka Makassar - Bursa Eropa ditutup melemah ke posisi terendah dalam satu bulan pada perdagangan di Selasa (2/9). Penurunan ini disebabkan pasar saham tertekan aksi jual besar-besaran akibat kenaikan imbal hasil obligasi yang memicu kekhawatiran atas tekanan fiskal di berbagai negara di Eropa.


Dilansir dari Reuters, Rabu (3/9), Indeks Stoxx 600 turun 1,47% menjadi 543,35. Kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal dalam sejumlah negara euro dan global mendorong aksi jual obligasi dari Jerman dan Prancis.


Dari Jerman, imbal hasil obligasi tiga puluh tahun menyentuh level tertinggi sejak 2011. Sementara Prancis, obligasi negara tersebut mencapai posisi tertinggi sejak 2009. Kondisi politik turut menambah ketidakpastian setelah partai sayap kanan menyatakan siap menjatuhkan pemerintahan minoritas melalui mosi tidak percaya di 8 September.


“Bagian besar dari cerita di kuartal pertama adalah ekspektasi bahwa pemerintah akan mulai membelanjakan uang dan itu akan menghasilkan profitabilitas korporasi,” kata Kepala Riset Ekuitas State Street Markets, Marija Veitmane.


Eropa berencana menerbitkan obligasi senilai lebih dari €100 Miliar di September dan Oktober. Sementara itu, data menunjukkan inflasi zona euro naik 2,1% secara tahunan pada bulan lalu, tetap mendekati target 2% Bank Sentral Eropa (ECB).


Pejabat Bank Sentral Eropa, Isabel Schnabel menegaskan bahwa suku bunga sebaiknya ditahan pada level saat ini, mengingat ekonomi zona euro masih tangguh menghadapi tekanan tarif, sementara inflasi berpotensi lebih tinggi dari perkiraan.