Senin, 30 Juni 2025

Solid Gold Makassar | Wall Street Cetak Rekor, Investor Saham Kembali Didorong Antusiasme AI

 

Solid Gold Makassar - Bursa Saham Amerika Serikat (Wall Street) mencetak rekor tertinggi baru pada perdagangan Jumat (27/6). Hal tersebut didorong oleh antusiasme investor terhadap kecerdasan buatan (AI) dan meningkatnya ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari Reuters, Senin (30/6), berikut ini adalah catatan pergerakan sejumlah indeks utama dari Bursa Saham Amerika Serikat (AS):

S&P 500 (SPX): Menguat 0,59% ke 6.178,80,
Nasdaq Composite (IXIC): Naik 0,59% ke 20.299,72.
Dow Jones Industrial Average (DJIA): Melesat 1,00% ke 43.819,27.
Pasar menguat sepanjang pekan ini, terutama setelah proyeksi optimistis dari produsen chip mendorong kembali kepercayaan investor terhadap potensi dari AI. Nvidia kembali merebut posisi sebagai perusahaan paling bernilai di dunia, memperkuat euforia seputar teknologi itu.

Sentimen risiko juga mendapat dorongan dari gencatan senjata antara Israel dan Iran. Ia sebelumnya sempat menyebabkan lonjakan harga minyak dan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Sikap Federal Reserve turut membantu memperbaiki sentimen pasar. Ditambah lagi, data ekonomi yang cenderung lemah serta ekspektasi bahwa pemerintah terkait akan mengganti Ketua The Fed Jerome Powell.

“Dua pilar utama pasar ini — yaitu konsumen dan ketahanan korporasi — menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Ini memberi pasar kepercayaan untuk kembali mencetak rekor,” kata Kepala Divisi Ekuitas Aptus Capital Advisors, David Wagner.

Jika Nasdaq menutup perdagangan di atas rekor sebelumnya pada 20.173,89 yang dicapai pada 16 Desember, maka menurut definisi umum, bear market akan resmi berakhir dan digantikan oleh bull market baru. Bear market biasanya didefinisikan sebagai penurunan 20% dari level tertinggi sebelumnya secara penutupan harian.

Kamis, 26 Juni 2025

PT Solid Gold | Harga Emas Stabil Jelang Rilis Data Ekonomi AS

 

PT Solid Gold - Harga emas dunia bergerak stabil pada Rabu (25/6). Hal ini terjadi seiring sikap hati-hati pelaku pasar menjelang rilis data ekonomi utama dari Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari Reuters, Kamis (26/6), berikut ini adalah catatan pergerakan harga dari sejumlah komoditas utama logam mulia global:

Spot gold: Naik tipis 0,1% menjadi US$3.327,91.

Emas berjangka AS: Turun 0,3% ke US$3.343,10.

Perak spot: Naik 0,8% menjadi US$36,20.

Palladium: Turun 0,5% ke US$1.061,01.

Platinum: Melonjak 2,8% ke US$1.352,96.

Analis Pasar Senior RJO Futures, Daniel Pavilonis, menilai peluang emas untuk mencetak rekor harga baru semakin menyempit. Bukan hanya karena faktor data ekonomi namun juga permintaan terhadap aset safe haven yang ikut tertekan oleh meredanya ketegangan geopolitik setelah kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Israel.

“Dengan semua momentum dan potensi di pasar, faktor pendorong utama emas tidak berhasil membawanya ke level tertinggi baru. Maka, jalurnya kini lebih ke arah penurunan—mungkin ke US$2.900 jika situasi di Timur Tengah tidak memburuk,” katanya.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyambut berakhirnya konflik bersenjata dengan harapan hubungan diplomatik yang lebih baik akan mencegah Iran membangun kembali program nuklirnya.

Adapun Ketua Federal Reserve Jerome Powell kembali menekankan bahwa bank sentral tidak terburu-buru untuk memangkas suku bunga, meskipun ketidakpastian atas dampak tarif dagang masih menyelimuti.

Trump sebelumnya telah menunda tarif perdagangan besar-besaran hingga 9 Juli guna membuka ruang negosiasi dengan sejumlah negara mitra dagang.

Namun Powell menambahkan, jika tekanan inflasi tetap terkendali, kemungkinan besar bank sentral akan mulai menurunkan suku bunga lebih cepat daripada yang diperkirakan. Saat ini, pelaku pasar memperkirakan adanya peluang besar soal pemangkasan suku bunga pada September.

Investor kini menanti sejumlah data ekonomi penting dari AS. Hal itu termasuk produk domestik bruto (PDB) dan data ketenagakerjaan yang akan segera dirilis, serta data inflasi pada yang akan memberikan petunjuk lebih lanjut tentang arah kebijakan The Fed.

Rabu, 25 Juni 2025

PT Solid Berjangka Makassar | Efek Gencatan Senjata Israel-Iran, Harga Emas Anjlok Hingga Level Terendah Dua Pekan

 

PT Solid Berjangka Makassar - Harga emas dunia turun tajam pada Selasa (24/6). Ia mencapai level terendah dalam lebih dari dua pekan, setelah diumumkannya gencatan senjata antara Israel dan Iran.

Dilansir dari Reuters, Rabu (25/6), berikut ini adalah catatan pergerakan harga dari sejumlah komoditas utama logam mulia global:

Emas spot: Turun 1,4% menjadi US$3.319,96.
Emas berjangka: Turun 1,8% di US$3.333,90.
Perak spot: Turun 0,8% ke US$35,83.
Palladium: Melemah 1,5% ke US$1.061,90.
Platinum: Naik 1,6% ke US$1.314,91.
Saham global menguat dan dolar melemah setelah kabar gencatan senjata dari Israel-Iran. Namun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa kedua pihak masih melakukan pelanggaran atas kesepakatan.
“Deeskalasi Timur Tengah adalah faktor utama yang menekan harga emas. Permintaan terhadap aset lindung nilai menurun dan pasar cenderung beralih ke mode risk-on,” kata Wakil Presiden Zaner Metals, Peter Grant.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengaku telah memerintahkan serangan baru ke Teheran. Hal itu dilakukan sebagai tanggapan atas peluncuran misil yang dinilainya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata oleh Iran.

“Masih ada tanda tanya apakah gencatan senjata ini akan bertahan. Sampai benar-benar jelas, penurunan harga emas kemungkinan terbatas,” ungkap Grant.

Adapun Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengatakan bank sentral masih membutuhkan waktu untuk menilai dampak kenaikan tarif terhadap inflasi sebelum mempertimbangkan pemangkasan suku bunga.

Pasar global kini memperkirakan pemangkasan 50 basis poin hingga akhir tahun, dimulai dengan 25 basis poin pada Oktober.

Selasa, 24 Juni 2025

Solid Berjangka Makassar | Harga Emas Naik Imbas Ketegangan Iran-Israel, Investor Berburu Aset Safe Haven

 

Solid Berjangka Makassar - Harga emas dunia naik pada perdagangan Senin (23/6). Hal ini didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel.

Dilansir dari Reuters, Selasa (24/6), berikut ini adalah catatan pergerakan harga dari sejumlah komoditas utama logam mulia global:

Emas spot: Menguat 0,4% keUS$3.382,4.
Emas berjangka: Naik 0,3% ke US$3.395.
Perak: Naik 0,7% menjadi US$36,23.
Platinum: Melonjak 2% ke US$1.290,31.
Palladium: Menguat 3,1% menjadi US$1.076,50.
"Kenaikan harga terjadi sebagian karena ketidakpastian politik setelah adanya pengeboman Iran oleh Amerika Serikat (AS)," ujar Mitra Pengelola CPM Group, Jeffrey Christian.

Amerika Serikat pada akhir pekan meluncurkan serangkaian serangan rudal ke situs nuklir Iran. Hal ini disusul oleh pernyataan mereka yang mengisyaratkan kemungkinan pergantian rezim di Teheran.

Iran membalas dengan menembakkan rudal ke pangkalan militer di Qatar. Sementara Israel membombardir Penjara Evin di Teheran.

Dalam kondisi geopolitik yang tidak stabil, emas secara historis dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi sekaligus aset aman (safe haven).

"Kami memperkirakan harga emas dan perak akan tetap kuat dan cenderung naik selama masalah politik dan ekonomi belum terselesaikan. Kami melihat potensi harga emas mencapai US$3.500/oz dalam beberapa bulan mendatang," ungkap Christian.

Investor juga menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS. Ini merupakan indikator inflasi pilihan utama dari Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga: Antam Siapkan Investasi Rp 7 T Garap Ekosistem EV Battery hingga Bangun Fasilitas Logam Mulia

The Fed diketahui mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%-4,50%, dengan indikasi kemungkinan pemangkasan suku bunga di paruh kedua tahun ini. Dalam situasi suku bunga rendah, emas sebagai aset tanpa imbal hasil cenderung lebih menarik bagi investor.

Senin, 23 Juni 2025

Solid Gold Makassar | Mata Uang Asia Melemah, Dolar Menguat Setelah AS Menyerang Situs Nuklir Iran

 

Solid Gold Makassar - Sebagian besar mata uang Asia melemah pada hari Senin, sementara dolar menguat setelah AS pada akhir pekan menyerang tiga fasilitas nuklir utama di Iran, membuat pasar gelisah atas tanggapan Teheran.

Greenback diuntungkan terutama oleh meningkatnya permintaan safe haven, dengan aset-aset lain seperti emas dan yen Jepang melemah.

Mata uang Asia juga mengalami kerugian dari minggu lalu, menyusul sinyal hawkish dari Federal Reserve. Sejumlah pejabat Fed akan berbicara dalam beberapa hari mendatang, yang berpotensi memberikan lebih banyak isyarat mengenai arah suku bunga.

Ketua Fed Jerome Powell akan memberikan kesaksian di depan Kongres pada hari Selasa dan Rabu.

Mata uang regional juga sebagian besar melemah setelah laporan ekonomi yang kuat dari Australia dan Jepang.

Dolar menguat, mata uang Asia melemah setelah serangan AS-Iran
dollar index dan dollar index futures masing-masing naik 0,3% di perdagangan Asia, memperpanjang kenaikan ringan dari minggu sebelumnya.

Greenback didukung terutama oleh permintaan safe haven, karena para pedagang menunggu untuk melihat bagaimana Teheran akan menanggapi serangan tersebut. Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa serangan tersebut telah menghancurkan fasilitas nuklir Iran, yang pada dasarnya membatalkan ambisi nuklir negara tersebut.

Trump telah mengklaim bahwa Iran sedang membangun senjata nuklir, sementara Teheran telah berulang kali menegaskan bahwa ini bukan masalahnya.

Laporan-laporan media Iran mengatakan bahwa negara ini sekarang berencana untuk memblokir Selat Hormuz sebagai pembalasan atas serangan-serangan tersebut. Langkah seperti itu akan sangat mengganggu pasokan minyak ke sebagian besar Asia dan Eropa, yang pada gilirannya dapat memicu gangguan ekonomi.

Harga minyak melonjak setelah serangan tersebut, memicu kekhawatiran bahwa harga energi yang tinggi dapat memicu inflasi yang lebih tinggi.

Hal ini memicu perdagangan yang menghindari risiko di Asia. Pasangan USDCNY yuan China naik 0,1%, sementara pasangan USDSGD dolar Singapura naik 0,2%. China "mengutuk keras" serangan AS dan meminta Israel untuk mencapai gencatan senjata.

Pasangan USDKRW won Korea Selatan melonjak 0,7%, sementara pasangan USDINR rupee India naik 0,2%.

Dolar Australia dan yen Jepang jatuh setelah PMI optimis
Pasangan AUDUSD dolar Australia turun 0,7%, bahkan ketika data PMI menunjukkan pertumbuhan yang berkelanjutan dalam aktivitas manufaktur dan layanan di bulan Juni.

Cetakan PMI mencerminkan beberapa ketahanan dalam ekonomi Australia, terutama di tengah pemulihan konsumsi swasta di negara tersebut.

Pasangan USDJPY yen Jepang naik 0,5%, dengan mata uang tersebut melihat sedikit permintaan safe haven.

Data PMI menunjukkan sektor manufaktur Jepang tumbuh untuk pertama kalinya dalam 11 bulan di bulan Juni, sementara pertumbuhan sektor layanan meningkat karena peningkatan belanja konsumen di negara tersebut.