Kamis, 31 Mei 2018

PT SOLID BERJANGKA | Melawan Peruncingan Ideologi

Melawan Peruncingan Ideologi
PT SOLID BERJANGKA MAKASSAR - "Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! …Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada "egoisme-agama" (Soekarno, 1 Juni 1945).

Kutipan tersebut merupakan pidato Bung Karno di depan Sidang BPUKI, 73 tahun lalu saat mengusulkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Sangat relevan dengan kondisi saat ini yang masih diwarnai gerakan radikal berlabel agama untuk mengganti Pancasila.

 
Radikalisme ideologi yang disebut Bung Karno sebagai peruncingan, bukan hal baru. Di masa lalu dilakukan melalui pemberontakan bersenjata, seperti Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Madiun Affairs, dan upaya kudeta lainnya. Saat ini dilakukan melalui aksi teror dengan label agama yang berbaiat pada organisasi teroris internasional. Kasus terbaru, kerusuhan di Mako Brimob Jakarta, teror bom di Surabaya, dan penyerangan Kantor Polda Riau membuktikan peruncingan ideologi tersebut masih ada.

Di luar aksi teror, ada juga organisasi-organisasi kemasyarakatan yang terus berupaya mengintegrasikan Indonesia menjadi bagian dari khilafah. Maka, merujuk kondisi itu, kutipan Pidato Bung Karno tersebut sangat relevan dalam refleksi Hari Lahir Pancasila sekarang. 

 
Meski beragam upaya mengganti Pancasila selalu gagal, namun bukan karena Pancasila memiliki kesaktian laksana jimat pusaka. Terminologi kesaktian Pancasila justru berpotensi mendorong mistifikasi ideologi, dan menempatkannya ke dalam ruang tak terjamah kritik dan perubahan. Ideologi ketika menjadi dogma beku maka tinggal menunggu waktu ditinggal zaman. Saat ini, di tengah perkembangan dunia yang semakin merelatifkan ideologi, eksistensi Pancasila menjadi pertaruhan.

Situasi tersebut sebenarnya bukan hal baru. Daniel Bell dalam The End of Ideology menegaskan bahwa modernitas telah merelatifkan ideologi kecuali kapitalisme yang terus berkembang dan menjadi ideologi pemenang. Selepas Bell, muncul Francis Fukuyama dengan The End of History. Fukuyama berbicara tentang globalisasi yang memprediksikan perkembangan demokrasi liberalistik dan sistem kapitalisme yang disebut sebagai bentuk final pemerintahan, dan akhir dari sejarah pertarungan ideologi. 
 
BACA JUGA :Solidgold Berjangka

Runtuhnya komunisme memberikan pemahaman bahwa ideologi tersebut mengandung kelemahan dari awal, dan beku terhadap perubahan. Antara lain; sistem ekonomi terencana, konsep partai tunggal dan diktatur proletariat sebagai bentuk pemerintahan transisi dari masyarakat sosialis ke komunis; keyakinan runtuhnya kapitalisme, dan bubarnya negara sebagai tahapan akhir sejarah.

Dalam pelaksanaannya, selain utopis juga menyeleweng dari tujuan besar komunisme mewujudan masyarakat tanpa kelas yang berbasis pada kepemilikan kolektif alat produksi. Keinginan untuk menerapkan komunisme secara absolut, seperti di Chekoslovakia dan Kamboja tidak hanya membuat terbunuhnya demokrasi, tapi juga pembunuhan massal rakyatnya. 
 
Hal yang sama terjadi pada ideologi kanan yang berbasis agama. Misalnya Al-Qaeda, Taliban, dan Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) merupakan kelompok puritan yang menginginkan terbentuknya khilafah berlabelkan agama. Peruncingan itu terwujud dalam sikap anti kemajuan, melawan perubahan zaman, dan ingin memutar kehidupan kembali ke masa silam. Agama di tangan mereka terlihat bengis, penuh kebencian, bahkan dijadikan legitimasi aksi teror, bukan wajah penuh kasih dan kedamaian.

Sejarah memberi pelajaran, ideologi dapat bertahan jika mampu menjawab tantangan zaman. Komunisme dapat bertahan di China bahkan membawa kemajuan di bidang ekonomi karena mampu beradaptasi. Misalnya, mengakomodasi sistem ekonomi pasar secara cerdas dengan cara menempatkannya sebagai sistem yang bekerja. Kebijakan itu mampu membawa ekonomi China melaju pesat. Center for Economic and Business (CEBR) memprediksikan, China akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar dunia mengalahkan Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman pada 2032. 

 
Begitu pula Pancasila, akan dapat terus bertahan jika mampu menjawab tantangan zaman. Karena itu, harus diamalkan bukan sebagai panduan moral individu namun dasar negara. Artinya, pengamalan Pancasila sebagai dasar negara harus terwujud dalam pembuatan regulasi negara seperti undang-undang dan peraturan lainnya. Manifestasi lainnya tergambarkan dalam praktik dan kebiasaan bertindak para penyelenggara kekuasaan negara.

Dua hal itulah yang seharusnya menjadi aspek penilaian pengamalan Pancasila. Sebagai dasar negara, Pancasila harus menjadi sinar terang bagi "budi pekertinya negara" yang terefleksikan dalam penyelenggaraan kekuasaan negara. Selamat Hari Lahir Pancasila!

Rabu, 30 Mei 2018

SOLID GOLD BERJANGKA | Kapolri Ajak Mahasiswa Lawan Penyebaran Ideologi Terorisme

Kapolri Ajak Mahasiswa Lawan Penyebaran Ideologi Terorisme
SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR -  Kapolri Jenderal Tito Karnavian meminta kepada mahasiswa untuk turut berperan dalam memerangi penyebaran ideologi terorisme. Tito berharap mahasiswa menerima informasi dengan selektif dan tak ikut-ikutan menyebarkan berita yang tak jelas.

BACA JUGA : PT Solidgold Berjangka Glosarium

Tito menjelaskan, dari sisinya, Polri telah memerangi terorisme dengan melakukan penangkapan-penangkapan terhadap terduga teroris. Namun upaya tersebut tidak menyelesaikan masalah.

"Saat ini penyebaran ideologi terorisme ini terus berkembang. Hal ini merupakan akar permasalahan terorisme. Tetapi kami (Polri) sudah melakukan langkah-langkah untuk mengantisipasi terorisme ini. Kami sudah melakukan penangkapan," kata Tito kepada mahasiswa dalam rilisnya


"Tetapi hal ini tidak akan menyelesaikan masalah, sebelum akar masalah diselesaikan. Untuk saat ini kita harus bisa membangun ketahanan, terutama di kalangan muda ini agar lebih selektif, karena sasaran utama mereka (kelompok teroris) adalah kalangan muda," sambung Tito.

Tito mengadakan buka puasa bersama Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jabodetabek di Wisma Bhayangkari, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tadi sore. Sekitar 200 perwakilan BEM menghadiri acara itu.


 "Oleh karena itu saya harap mahasiswa jangan pernah ikut menyebarkan berita-berita yang tidak jelas. Agar selektif dalam menyebarkan berita. Jika mendapatkan berita, agar kita menyaring dan tidak menyebarkan berita tidak baik itu," ujar Tito.

 Tito berkata mahasiswa dapat memfilter informasi-informasi lewat intelektualitasnya. Tito mengajak mahasiswa dapat menyebarkan pemikiran-pemikiran positifnya.

 
"Agar memanfaatkan kecerdasan keilmuan sebagai inteliktual pemuda dalam memfilter media sosial. Mari kita bersama memberikan pencerahan kepada mahasiswa yang lain," tutur Tito.

Tito kemudian juga membahas tentang suhu politik menjelang pesta demokrasi, yang dimaksud pemilihan calon kepala daerah (pilkada), pemilihan calon presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg). Menurutnya suhu politik mulai mendingin.

"Di negara ini banyak perubahan terjadi karena peran mahasiswa, oleh karena itu mahasiswa ini menjadi hal penting karena tidak terlibat partai politik dan masih memiliki ideologi. Gerakan mahasiswa memiliki peran penting. Oleh karena itu Polri merasa bahwa mahasiswa menjadi mitra yang penting dalam membantu Polri dalam menjaga situasi kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat)," ucap Tito.

 
"Kita saat ini menghadapi situasi yang wajib kita dukung, seperti saat pilkada. Ini merupakan potensi konflik yang perlu kita kelola karena ada perbedaan pendapat dalam memilih pemimpin. Kita sudah berfikir mulai dari awal proses pilkada, kita dapat menjaganya dengan aman," imbuh Tito.

Soal situasi politik cenderung sejuk, Tito menerangkan itu karena masyarakat saat ini sibuk dalam momen Idul Fitri dan setelahnya Piala Dunia 2018.

 
"Langkah kami menjelang 27 Juni, kami telah melihat potensi pilkada ini mendingin karena beberapa hal, yaitu karena momen lebaran, di mana publik akan mulai sibuk mengurus Lebaran mulai. Kita dapat mengelola potensi konflik ini dengan momen lebaran dan momen Piala Dunia tersebut," jelas Tito.

"Kita dapat menjadi kawan dalam persamaan kepentingan. Kita akan menghadapi proses pemilu dan Asian Games. Kita perlu bersama mengelola ini, agar situasi dalam menghadapi event-event kedepan tetap sukses dan kondusif," kata Tito. 

Senin, 28 Mei 2018

SOLID GOLD | IHSG Makin Dekat ke 6.000, Dolar AS Melemah

Foto: Selfie Miftahul/detikFinance
SOLID GOLD MAKASSAR – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan laju positif membuka perdagangan awal pekan ini. IHSG kian dekat level 6.000.

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) juga melemah terhadap rupiah. Dolar AS turun ke leve; 14.070. Akhir pekan kemarin berada di Rp 14.202.


Pada perdagangan preopening, IHSG bertambah ti[is 3,878 poin (0,06%) ke level 5.979,620. Indeks LQ45 naik 0,979 poin (0,10%).

Membuka perdagangan, Senin (28/5/2018), IHSG bergerak naik 7,022 poin (0,12%) ke level 5.982,764. Indeks LQ45 naik 0,663 poin (0,07%) ke level 959,047.

Pada pukul 09.05 waktu JATS, IHSG masih berada di zona positif dengan 22,841 (0,38%) ke 5.998,093. Indeks LQ45 naik 3,725 poin (0,41%) ke 962,249.


Sementara itu, indeks utama bursa AS ditutup mixed dengan mayoritas ditutup menguat pada perdagangan semalam. Indeks Dow Jones turun 0.24% ke level 24,753.09, S&P melemah 0.24% ke level 2,721.33, sedangkan Nasdaq berhasil menguat tipis 0.13% ke level 7,433.85.


 
Penurunan pada mayoritas indeks AS salah satunya dikarenakan pelemahan pada sektor energy sebesar 2.6% seiring harga minyak mentah yang tertekan.

Bursa regional dibuka variatif. Berikut pergerakan Bursa Asia pagi ini:
  • Indeks saham Nikkei berkurang 23,988 poin (0,11%) ke 22.426,801.
  • Indeks komposit Shanghai melemah 15,220 poin ((,48%) ke 3.126,080
  • Indeks Strait Times menanjak 5,130 poin (0,15%) ke 3.518,360
  • Indeks Hang Seng bertamnah 24,500 poin (0,08%) ke 30.612,539.
Nilai tukar dolar AS sempat menyentuh level Rp 14.115 dan berangsur turun ke Rp 14.070 dan saat ini berada di level Rp 14.030.


Untuk meredam gejolak nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate bisa dipercepat sebelum jadwal Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan.

Dalam siaran pers, Bank Indonesia memutuskan untuk mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan tambahan pada Rabu, 30 Mei 2018. RDG tambahan ini tidak menggantikan RDG bulanan reguler yang tetap akan diselenggarakan sesuai jadwal. RDG Bulanan tambahan ini akan membahas kondisi ekonomi dan moneter terkini serta prospek ke depan.

 
Pada 17 Mei 2018 BI telah menggelar RDG dan menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,5% dari sebelumnya 4,25%. Sementara itu, untuk suku bunga deposit facility juga naik menjadi 3,75% dan suku bunga lending facility naik menjadi 5,25% – SOLID GOLD

Jumat, 25 Mei 2018

PT SOLID GOLD BERJANGKA | Jeritan Bocah AS: Saya Benci HP Ibu dan Berharap Tak Pernah Ada

Jeritan Bocah AS: Saya Benci HP Ibu dan Berharap Tak Pernah Ada
PT SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR - Telepon genggam merupakan hal yang tidak baik bagi kita. Kita tahu karena begitu banyak berita mengenai hal itu, atau paling tidak kita bisa merasakannya.

Namun tetap saja tidak ada seorang pun yang mempensiunkan telepon genggam setelah menyimak laporan-laporan itu, kan?
 
Bagaimana apabila anak-anak Anda mengatakan apa yang mereka rasakan mengenai kesibukan Anda dengan Whatsapp, Instagram, email, dan baca berita?

 
"Saya membenci telepon genggam ibu dan berharap dia tidak pernah memilikinya," tulis seorang anak sekolah dasar di sebuah tugas di sekolahnya.

Jen Adams Beason yang merupakan seorang guru di Amerika, mengunggah tulisan anak itu di laman Facebook, dan mengungkapkan bahwa empat dari 21 muridnya mengatakan mereka berharap bahwa teknologi ponsel tidak pernah ditemukan.

Beason, yang tinggal di Louisiana, juga mengunggah sebuah gambar yang merupakan tugas seorang murid kelas dua (umur tujuh sampai delapan) setelah sebelumnya ia meminta para muridnya untuk menggambarkan sesuatu yang mereka harap tidak pernah diciptakan di masa lalu.

 
"Menurut saya, ponsel: saya tidak menyukai ponsel," tulis salah satu anak itu.
"Saya tidak menyukai ponsel karena orang tua saya selalu terpaku pada ponsel mereka setiap harinya. Ponsel kadang merupakan kebiasaan yang sangat buruk."

Murid tersebut melengkapi tugasnya dengan gambar ponsel dengan tanda silang besar di atasnya dan gambar muka sedih berukuran yang besar dengan tulisan "saya membencinya".

Gambar tersebut diunggah Jumat lalu dan telah dibagikan hampir 170.000 kali, termasuk oleh para orang tua yang terkejut yang tidak pernah berfikir ulang tentang kebiasaan mereka menggunakan teknologi.

 
"Wow. Muncul dari mulut para bocah! Kita semua bersalah!" ungkap salah satu pengguna, Tracy Jenkins.
"Ucapan yang kuat dari seorang anak kelas dua! Para orang tua, simaklah," tambah Sylvia Burton.

Seorang pengguna lain menulis, "Sangat menyedihkan dan mungkin sangat benar dan saya merasa bersalah. Pengingat yang baik bagi kita para orang tua untuk untuk meletakkan ponsel kita sejenak dan lebih banyak bermain dengan anak-anak kita."

Sejumlah guru lain ikut bergabung dalam diskusi itu, dan menambahkan pengalaman mereka tentang reaksi anak-anak terhadap orang tuanya ihwal penggunaan internet.


"Dalam diskusi di kelas tentang Facebook ,setiap murid mengatakan bahwa orangtuanya meluangkan waktu lebih banyak untuk menggunakan Facebook daripada berbicara dengan anak-anaknya. Ini sangat menggugah buat saya," kata Abbey Fauntleroy.

Beberapa orang tua membagikan pengalaman pribadi mereka untuk mencoba mengatasi masalah tersebut.
Beau Stermer menulis bahwa dia melihat puteranya yang masih berusia dua tahun bereaksi negatif saat ia menggunakan ponsel.

"Saya sadar ketika dia dan saya sedang bermain dan ponsel saya tiba-tiba berdering terkait keperluan di tempat kerja, dia kemudian tidak ingin bermain lagi setelah saya menelepon.

"Ini membuat saya terpukul. Saya berjanji kepada diri saya sendiri bahwa apabila saya sedang bermain dengan dia maka segala hal lainnya dinomorduakan," katanya.

 
Di sisi lain, seorang ibu menyoroti fakta bahwa para remaja pun sama buruknya: mereka sering kali lebih mementingkan ponselnya dibandingkan waktu bersama keluarga.

Sebuah survei di AS pada tahun 2017 melaporkan bahwa sebagian dari orang tua yang disurvei menyimpulkan bahwa penggunaan teknologi mengganggu interaksi mereka dengan anak, hingga tiga kali atau lebih dalam sehari.

Dan fenomena ini dinamakan "technoference."




Kamis, 24 Mei 2018

PT SOLID BERJANGKA | Indonesia Lampu Kuning Krisis Ekonomi


PT SOLID BERJANGKA MAKASSAR - Apa yang terjadi dengan ekonomi Indonesia saat ini? Setelah didera perlambatan konsumsi masyarakat, ekonomi RI kembali dihantam liarnya pergerakan dolar AS, ditambah lagi defisit neraca perdagangan RI semakin melebar.

Beberapa pihak termasuk para ekonom memandang ada yang salah dengan ekonomi dan patut diperhatikan. Namun pemerintah selalu mengatakan bahwa kondisi fundamental ekonomi RI masih baik.

Padahal rupiah sudah anjlok cukup dalam. Bayangkan dari awal tahun ini dolar AS masih tenang di level sekitar Rp 13.500, tiba-tiba menguat tiada henti hingga kemarin dolar AS tembus Rp 14.200.

Ekonom menyebut kondisi perekonomian saat ini sudah pada tahap "lampu kuning". Layaknya rambu lalu lintas itu artinya harus berhati-hati.

Lalu seperti apa kondisi sebenarnya? Seberapa parahnya ekonomi RI dan apa bedanya dengan krisis-krisis sebelumnya?


Jika ditanya bagaimana kondisi ekonomi RI saat ini, Ekonom sekaligus Direktur Center of Reform on Economics (Core) Muhammad Faisal mengatakan sudah lampu kuning. Masih jauh memang jika samakan dengan kondisi ekonomi RI saat krisis moneter (krismon) pada 1998.

"Kalau bicara secara makro sebetulnya kalau dikatakan sebagai krisis ini belum. (Tapi) sudah lampu kuning," tuturnya

Gejolak ekonomi RI mulai terasa di tahun lalu, masyarakat terasa mengerem konsumsinya. Buktinya banyak perusahaan ritel yang mengurangi jumlah gerainya bahkan ada yang guling tikar.

Bukti pun kembali diperkuat ketika Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data bahwa tingkat konsumsi rumah tangga Indonesia pada 2017 di level 4,95%. Angka itu melambat jika dibandingkan dengan tahun 2016 yang tumbuh 5,01%.

Namun sayangnya kontribusi konsumsi rumah tangga RI sangat besar terhadap pertumbuhan ekono, sekitar lebih dari 50%. Sehingga ketika konsumsi rumah tangga melambat dampaknya sangat terasa terhadap kelancaran aktifitas ekonomi hingga ke hulu.

BACA JUGA : Solidberjangka

Belum selesai permasalahan masyarakat yang lebih irit, ekonomi RI kembali dihantam dari sisi nilai tukar. Dolar AS tiba-tiba mengamuk. Bayangkan saja dari awal tahun dolar masih tenang di sekitar Rp 13.500, tiba-tiba menguat hingga posisi Rp 14.200.

Penyebabnya sistemik, sumbunya dari negeri adidaya Paman Sam. Bank Sentral AS The Fed akan menaikan suku bunga. Alhasil banyak dana asing yang keluar dari negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Faisal mengatakan, dampak dari pelemahan rupiah yang akan terasa cukup besar. Pertama bisa kembali menghantam konsumsi rumah tangga, sebab akan banyak produk-produk impor ataupun berbasis bahan baku impor yang akan naik harganya.

"Konsumsi dalam negeri kita banyak bergantung dari luar. Kita banyak impor pangan hingga minyak. Jadi dampaknya juga ke harga BBM dan tarif listrik. Ini yang menyebabkan mempengaruhi daya beli rumah tangga," terangnya.

Sementara pengaruhnya ke industri akan menurunkan daya saing. Sebab banyak dari insutri dalam negeri meski yang berorientasi ekspor bahan bakunya masih bergantung impor. Sehingga biaya prodksi akan meningkat. Imbasnya daya saing industri nasional di tingkat nasional maupun internasional menurun.


 Hantaman yang ketika adalah melebarnya defisit neraca perdagangan. BPS juga mencatat neraca perdagangan RI pada April 2018 mengalami defisit US$ 1,63 miliar. Ekspor tercatat US$ 14,47 miliar, sementara impornya US$ 16,09 miliar.

Bank Indonesia (BI) bahkan memprediksi tahun ini defisit transaksi berjalan diperkirakan berada di US$ 23 miliar atau melebar menjadi 2,3% dari produk domestik bruto (PDB).

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, dolar AS berada di kisaran Rp 2.000-2.500 karena Indonesia belum menganut rezim kurs mengambang. Orde Baru kala itu tidak mau tahu, dolar AS harus bertahan di level itu.
Namun karena kebijakan itu cadangan devisa RI terus tergerus untun menjaga kurs. Akhirnya pemerintah membuka rupiah menjadi kurs mengambang. Akhirnya dolar AS mulai merangkak naik ke Rp 4.000 di akhir 1997, lanjut ke Rp 6.000 di awal 1998.

Pelemahan rupiah diperparah ketika kondisi keamanan dan politik Indonesia bergejolak. Pada Mei 1998, kerusuhan terjadi dimana-mana menuntut tunbangnya pemerintahan Orde Baru.

BACA JUGA : PT Solidberjangka

Sampai akhirnya rupiah jatuh tak berdaya saat dolar AS mencapai level Rp 16.650. Disitulah titik puncak krisis moneter. Banyak pihak swasta yang tak mampu membayar utang luar negerinya.

Perekonomian pun kacau balau. Ekonomi Indonesia tidak tumbuh bahkan -13,1%, harga-harga pangan melambung tinggi, inflasi pun meroket hingga 82,4%. Depresiasi rupiah mencapai 197%.

Kerusuhan terjadi dimana-mana yang meminya Suharto lengser. Kepercayaan masyarakat, investor dan dunia usaha pada pemerintah dan ekonomi RI luntur. Banyak terjadi penarikan dana besar-besaran yang membuat perbankan collapse.

Bank Indonesia (BI) pun terpaksa memberikan bantuan likuiditas Rp 147,7 triliun kepada 48 bank. Meskipun ujung-ujungnya banyak dana yang diselewengkan. Rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan saat itu juga mencapai 30%.

Total utang luar negeri pemerintah dan swasta saat itu mencapai US$ 150,8 miliar. Rasio utang pemerintah terhadap PDB pun mencapai 100%.

Lanjut kesiklus berikutnya di 2008. Krisis saat itu berbeda yakni krisis finansial global yang terjadi dibanyak negara. Indonesia pun terkena imbasnya.

Krisis saat itu diawali pada 2007, saat itu persediaan rumah di AS untuk masyarakat menengah ke bawah membeludak. Namun banyak dari nasabah perumahan kelas bawah yang tak mampu membayar utangnya.

Alhasil institusi keuangan di AS banyak yang tumbang. Pengaruhnya kebanyak negara. Indonesia terkena imbasnya. Rupiah jatuh ke level Rp 8.000 hingga ke level Rp 12.650. Depresiasi rupiah mencapai 34,86%.

 
Meski begitu ekonomi Indonesia masih tumbuh meski turun ke level 4,12%. Namun inflasi melonjak hingga 12,14%, total utang pemerintah dan swasta mencapai US$ 155,8 miliar, rasio utang pemerintah terhadap PDB 27,4%.

Sementara cadangan devisa mencapai US$ 80,2 miliar. Rasio utang luar negeri terhadap cadangan devisa mencapi 3,1 kali.

Sementara tahun ini rupiah sudah melemah 4,64% dari awal tahun (year to date). Tercatat dolar AS menguat dari posisi awal tahun sekitar Rp 13.500 hingga menembus Rp 14.200.

Lalu menurut Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) menyebutkan jumlah utang luar negeri (ULN) secara total saat ini tercatat US$ 358,7 miliar atau setara dengan Rp 5.021 triliun (kurs Rp 14.000).

Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2018 mencapai 5,06%. Sedangkan cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2018 tercatat US$ 124,9 miliar. Angka itu turun sekitar US$ 1,1 miliar dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2018 sebesar US$ 126,0 miliar.

Sementara inflasi per April 2018 sebesar 0,10%, tnflasi tahun kalender sebesar 1,09% dan inflasi tahun ke tahun sebesar Rp 3,41%.

Perekonomian Republik Indonesia (RI) disebut sudah lampu kuning. Meski masih jauh dari kondisi krisis, kondisi ini patut diwaspadai.

Ekonom sekaligus Direktur Center of Reform on Economics (Core) Muhammad Faisal menjelaskan, kondisi krisis moneter bisa terjadi jika ekonomi tidak tumbuh bahkan minus seperti yang terjadi saat 1998. Ekononi Indonesia saat itu -13,1%.

"Krisis ekonomi terjadi jika ekonomi tumbuh minus selama 3 kuartal berturut-turut," tuturnya.

Meski begitu, ekonomi RI patut diperhatikan. Faisal berpendapat bahwa bahwa jika saja ada pemantik bukan tidak mungkin ekonomi RI seketika akan terjadi krisis. Ada 2 pemantik yang dikhawatirkannya, yakni adanya bank sistemik yang collapse dan ketidakstabilan politik dan keamanan.

"Jika ada bank sistemik collapse dampaknya seperti kasus Bank Century menjalar kemana-mana. Kalau pantauan saya yang sistemik belum ada yang seperti Bank Century," imbuhnya.

Nah yang paling besar dikhawatirkan adanya konflik sosial politik. Apalagi sudah mendekati tahun politik 2019. Dia juga khawatir kasus teror bom kembali terjadi dan meluas.

Jika itu terjadi maka kepercayaan masyarakat dan dunia usaha terhadap ekonomi bisa luntur. Penarikan dana besar-besaran (rush money) dari perbankan bisa terulang seperti saat krisis ekonomi 1998.

"Kalau banyak yang tarik dana bisa collapse masal," tegasnya.