Jumat, 20 November 2020

Solid Gold | Target Penghimpunan Dana Pasar Modal Capai Rp 100 T Tahun Ini

Solid gold Makassar - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan dana yang dihimpun dari pasar modal akan mencapai Rp 100 triliun hingga akhir tahun. Angka ini di bawah yang ditargetkan semula mencapai Rp 160 triliun. "Masalah fund rising memang target kita sebelumnya tahun lalu kita Rp 160 triliunan dengan adanya pandemi ini kita kan melihat ada kemungkinan masih bisa mencapai di atas Rp 100 triliun, tapi Rp 100 triliun di atas sedikit," kata Kepala Eksekutif Pasar Modal OJK Hoesen dalam koferensi pers, Senin (2/11/2020). "Memang kondisi pandemi ini harus kita lakukan penyesuaian target tehadap beberapa target yang dicanangkan sebelumnya," tambahnya. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, hingga 26 Oktober terdapat 141 penawaran dengan total dana yang dihimpun Rp 94,4 triliun."Di pasar modal jumlah penawaran umum mencapai 141 penawaran dengan total penghimpunan dana Rp 94,4 triliun," katanya. Wimboh bilang, dari 141 penawaran tersebut, sebanyak 45 di antaranya merupakan penawaran baru. "Dari jumlah penawaran umum tersebut 45 di antaranya emiten baru sementara dalam rancangan terdapat 49 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi Rp 20,75 triliun," tambahnya.

Solid Gold | Target Penghimpunan Dana Pasar Modal Capai Rp 100 T Tahun Ini

Solid gold Makassar - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan dana yang dihimpun dari pasar modal akan mencapai Rp 100 triliun hingga akhir tahun. Angka ini di bawah yang ditargetkan semula mencapai Rp 160 triliun. "Masalah fund rising memang target kita sebelumnya tahun lalu kita Rp 160 triliunan dengan adanya pandemi ini kita kan melihat ada kemungkinan masih bisa mencapai di atas Rp 100 triliun, tapi Rp 100 triliun di atas sedikit," kata Kepala Eksekutif Pasar Modal OJK Hoesen dalam koferensi pers, Senin (2/11/2020). "Memang kondisi pandemi ini harus kita lakukan penyesuaian target tehadap beberapa target yang dicanangkan sebelumnya," tambahnya. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, hingga 26 Oktober terdapat 141 penawaran dengan total dana yang dihimpun Rp 94,4 triliun."Di pasar modal jumlah penawaran umum mencapai 141 penawaran dengan total penghimpunan dana Rp 94,4 triliun," katanya. Wimboh bilang, dari 141 penawaran tersebut, sebanyak 45 di antaranya merupakan penawaran baru. "Dari jumlah penawaran umum tersebut 45 di antaranya emiten baru sementara dalam rancangan terdapat 49 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi Rp 20,75 triliun," tambahnya.

Jumat, 13 November 2020

PT SOLID GOLD BERJANGKA | Saham-saham yang Diramal Cuan Sampai Tahun Depan

PT SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR – Indeks Harga Saham Gabungan hari ini dibuka negatif turun 15 poin (0,29%) ke posisi 5.442. Namun IHSG diproyeksi menguat ke depan seiring dengan adanya pemulihan ekonomi karena pandemi virus Corona (COVID-19). Ada beberapa rekomendasi saham yang dinilai akan menguntungkan ke depan, salah satunya yakni sektor properti karena adanya kehadiran Undang-undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja. “Untuk sektor yang positif kita melihat properti adalah salah satu sektor yang positif karena ada dampak dari Omnibus Law yang memperbolehkan orang untuk memiliki apartemen dan kita melihat bahwa walaupun PSBB masih berlanjut, tapi penjualan tren marketing sales dari properti di company itu trennya recover,” kata Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Hariyanto Wijaya dalam media gathering yang dilakukan secara virtual, Jumat (13/11/2020). Kemudian di sektor makanan seperti Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga diprediksi akan bagus ke depannya. Pasalnya, salah satu produksinya mie instan mengalami peningkatan penjualan selama pandemi COVID-19. “Mengenai ICBP sama INDF mungkin gaji tahun depan consumer kurang bagus, tapi kita lihat ICBP bisnisnya adalah instant noodles. satu hal yg menarik untuk instant noodles itu trennya yang saya lihat pada saat ekonomi susah bukannya turun volumenya, tapi volume instant noodles cenderung naik. INDF itu ada juga dampak positif dari ICBP dan INDF sangat positif juga karena di bawah INDF ada CPO itu akan membantu push untuk ICBP dan INDF,” ucapnya. Kemudian untuk tahun depan, saham-saham di sektor komoditas dinilai punya prospek yang cukup cerah. Hal itu seiring dengan mulai pulihnya ekonomi China dan proyeksi melemahnya dolar Amerika Serikat (AS). “Sektor komoditas itu adalah yang menarik tahun depan karena ekonomi China sudah recover. Kebetulan China adalah negara konsumen komoditas terbesar di dunia dan digabungkan dengan pelemahan USD dimana biasanya ada hubungan terbalik antara harga komoditas dengan mata uang USD, itu harusnya membuat harga komoditas cenderung bagus,” imbuhnya. IHSG Diprediksi Strong Sampai Akhir Tahun Bursa saham Indonesia dinilai akan tetap strong atau menguat sampai akhir tahun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan positif mengikuti tren pemulihan ekonomi yang masuk jurang resesi karena terdampak pandemi virus Corona (COVID-19). “Kita confident bahwa pola IHSG adalah trennya recover. At least sampai dengan akhir tahun ini karena kita melihat bahwa pola tren ekonomi kita adalah recover,” kata Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Hariyanto Wijaya dalam media gathering yang dilakukan secara virtual, Jumat (13/11/2020). Hasil pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS) dan perkembangan vaksin membuat pandangan pelaku pasar keuangan terhadap prospek ekonomi berbalik menjadi positif dari sebelumnya. “Tahun depan kita lihat pemerintah cukup agresif untuk mengadakan vaksin agar tersedia di Indonesia. Jadi vaksin ini adalah salah satu kunci agar ekonomi kita bisa kembali pulih ke kapasitas pra-COVID-19. Makanya itu, vaksin adalah salah satu yang harus kita keep monitoring untuk yakin bahwa tahun depan ekonomi full recover,” ucapnya. Tren penguatan itu diprediksi akan terus berlanjut sampai 2021. Terlebih jika vaksin sudah bisa disuntikkan ke masyarakat, IHSG diprediksi terus menguat dan ekonomi bisa pulih secara keseluruhan. “Kalau vaksinnya sudah ada dan terdistribusi dengan baik di Indonesia, semua sudah di vaksinasi, ekonomi akan recover dan ini akan pengaruh juga positif ke economy growth sama positif ke sentimen di Indonesia,” imbuhnya. Namun, ada risiko di depan mata yaitu konsumsi yang diprediksi masih lemah tahun depan. Penyebab turunnya daya beli masyarakat tersebut adalah tidak dinaikkannya Upah Minimum Provinsi (UMP) di mayoritas provinsi di Indonesia, mengingat adanya faktor COVID-19 yang masih melanda terutama dari sisi pengusaha.

PT SOLID GOLD BERJANGKA | Saham-saham yang Diramal Cuan Sampai Tahun Depan

PT SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR – Indeks Harga Saham Gabungan hari ini dibuka negatif turun 15 poin (0,29%) ke posisi 5.442. Namun IHSG diproyeksi menguat ke depan seiring dengan adanya pemulihan ekonomi karena pandemi virus Corona (COVID-19). Ada beberapa rekomendasi saham yang dinilai akan menguntungkan ke depan, salah satunya yakni sektor properti karena adanya kehadiran Undang-undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja. “Untuk sektor yang positif kita melihat properti adalah salah satu sektor yang positif karena ada dampak dari Omnibus Law yang memperbolehkan orang untuk memiliki apartemen dan kita melihat bahwa walaupun PSBB masih berlanjut, tapi penjualan tren marketing sales dari properti di company itu trennya recover,” kata Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Hariyanto Wijaya dalam media gathering yang dilakukan secara virtual, Jumat (13/11/2020). Kemudian di sektor makanan seperti Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga diprediksi akan bagus ke depannya. Pasalnya, salah satu produksinya mie instan mengalami peningkatan penjualan selama pandemi COVID-19. “Mengenai ICBP sama INDF mungkin gaji tahun depan consumer kurang bagus, tapi kita lihat ICBP bisnisnya adalah instant noodles. satu hal yg menarik untuk instant noodles itu trennya yang saya lihat pada saat ekonomi susah bukannya turun volumenya, tapi volume instant noodles cenderung naik. INDF itu ada juga dampak positif dari ICBP dan INDF sangat positif juga karena di bawah INDF ada CPO itu akan membantu push untuk ICBP dan INDF,” ucapnya. Kemudian untuk tahun depan, saham-saham di sektor komoditas dinilai punya prospek yang cukup cerah. Hal itu seiring dengan mulai pulihnya ekonomi China dan proyeksi melemahnya dolar Amerika Serikat (AS). “Sektor komoditas itu adalah yang menarik tahun depan karena ekonomi China sudah recover. Kebetulan China adalah negara konsumen komoditas terbesar di dunia dan digabungkan dengan pelemahan USD dimana biasanya ada hubungan terbalik antara harga komoditas dengan mata uang USD, itu harusnya membuat harga komoditas cenderung bagus,” imbuhnya. IHSG Diprediksi Strong Sampai Akhir Tahun Bursa saham Indonesia dinilai akan tetap strong atau menguat sampai akhir tahun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan positif mengikuti tren pemulihan ekonomi yang masuk jurang resesi karena terdampak pandemi virus Corona (COVID-19). “Kita confident bahwa pola IHSG adalah trennya recover. At least sampai dengan akhir tahun ini karena kita melihat bahwa pola tren ekonomi kita adalah recover,” kata Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Hariyanto Wijaya dalam media gathering yang dilakukan secara virtual, Jumat (13/11/2020). Hasil pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS) dan perkembangan vaksin membuat pandangan pelaku pasar keuangan terhadap prospek ekonomi berbalik menjadi positif dari sebelumnya. “Tahun depan kita lihat pemerintah cukup agresif untuk mengadakan vaksin agar tersedia di Indonesia. Jadi vaksin ini adalah salah satu kunci agar ekonomi kita bisa kembali pulih ke kapasitas pra-COVID-19. Makanya itu, vaksin adalah salah satu yang harus kita keep monitoring untuk yakin bahwa tahun depan ekonomi full recover,” ucapnya. Tren penguatan itu diprediksi akan terus berlanjut sampai 2021. Terlebih jika vaksin sudah bisa disuntikkan ke masyarakat, IHSG diprediksi terus menguat dan ekonomi bisa pulih secara keseluruhan. “Kalau vaksinnya sudah ada dan terdistribusi dengan baik di Indonesia, semua sudah di vaksinasi, ekonomi akan recover dan ini akan pengaruh juga positif ke economy growth sama positif ke sentimen di Indonesia,” imbuhnya. Namun, ada risiko di depan mata yaitu konsumsi yang diprediksi masih lemah tahun depan. Penyebab turunnya daya beli masyarakat tersebut adalah tidak dinaikkannya Upah Minimum Provinsi (UMP) di mayoritas provinsi di Indonesia, mengingat adanya faktor COVID-19 yang masih melanda terutama dari sisi pengusaha.