Selasa, 14 Juli 2020
Solid Berjangka | Semester II 2020 Diharapkan Jadi Titik Balik Ekonomi RI
Pandemi COVID-19 yang terjadi di berbagai negara turut menggangguperekonomian. Termasuk di Indonesia yang ekonominya merosot tajam akibat Corona.
Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya menjelaskan pembukaan kembali ekonomi secara gradual memberikan optimisme akan mulainya pemulihan ekonomi, meski masih dibayangi dengan kembali meningkatnya kasus COVID-19.
"Semester II-2020 diharapkan menjadi titik balik pemulihan ekonomi setelah mengalami penurunan yang dalam pada semester I, khususnya pada kuartal II-2020," kata Ivan dalam diskusi online, Selasa (14/7/2020).
Dia mengungkapkan saat ini investor masih memiliki appetite yang besar terhadap produk-produk reksa dana. Berdasarkan Data Statistik Pasar Modal Minggu ke-4 Mei 2020 yang dilansir OJK, dana kelolaan reksa dana di Indonesia tercatat sebesar Rp476,3 triliun, atau turun 12,2% dibandingkan dengan posisi per Desember 2019.
Namun perlu dicatat juga, lanjut Ivan, bahwa dari titik terendahnya di level 3.937 pada 24 Maret 2020, IHSG telah naik sebesar 30% ke level sekarang di 5.000-an dalam tiga bulan terakhir ini.
Ivan pun memperkirakan jumlah pembelian reksa dana bisa meningkat di kuartal III 2020. Meski demikian, minat investasi akan mulai kembali normal seperti sebelum pandemi dalam jangka waktu menengah ketika pengembangan vaksin COVID-19 sudah lebih jelas.
Selain itu, yang terpenting bagi investor di masa apapun adalah diversifikasi aset dan tetap menyesuaikan pilihan investasinya dengan tujuan Investasi, profil risiko dan jangka waktu Investasi.
Pada saat ini, lanjutnya, investor disarankan untuk menyesuaikan alokasi aset portofolionya. Untuk investor dengan profil risiko balanced direkomendasikan untuk sementara mengurangi porsi saham dan mengalihkan ke obligasi untuk menurunkan tingkat volatilitas portofolio, dengan proporsi 25% reksa dana saham, 40% reksa dana pendapatan tetap atau obligasi, 35% reksa dana pasar uang.
Sedangkan untuk investor dengan profil risiko agresif idealnya memiliki portofolio yang terdiri dari 60% reksa dana saham, 25% reksa dana pendapatan tetap atau obligasi dan 15% reksa dana pasar uang. Dan agar tetap aman, berinvestasi dari rumah saja melalui digital yaitu bisa dari internet atau mobile banking.
Senin, 13 Juli 2020
Solid Gold | IHSG Dibuka Menguat ke 5.057
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini dibuka positif. IHSG dibuka menguat 28 poin (0,56%) ke 5.057. Indeks LQ45 juga ikut menguat 6 poin ( 0,77%) ke 791.
Sementara nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah pagi ini ada di level Rp 14.360.
Sementara itu, bursa AS ditutup menguat. Dow Jones ditutup 26.075,30 (+1,44%), NASDAQ ditutup 10.617,44 (+0,56%), S&P 500 ditutup 3.185,04 (+1,05%). Bursa saham AS ditutup menguat meskipun angka pengangguran masih tinggi dan kasus COVID-19 masih terus meningkat.
Investor masih optimistis dari beberapa informasi bahwa vaksin COVID-19 terus dikembangkan dan menurunnya angka kematian dibandingkan bulan Maret dan April.
Saat ini investor menanti data laporan keuangan dari kuartal II-2020 dengan ekspektasi penurunan laba bersih sebesar 44% secara rata-rata. Bursa Asia dibuka menguat tanpa mempedulikan angka penularan COVID-19.
Berikut pergerakan bursa Asia:ndeks Nikkei 225 naik 364 poin ke 22.654
Indeks Hang Seng menguat 32 poin ke 25.760
Indeks Shanghai naik 6 poin ke 3.389
Indeks Strait Times melemah 6 poin ke 2.646
Harga Emas Antam Naik Tipis
harga emas Antam pis ke level Rp 938.000 per gram. Harga emas tersebut naik Rp 1.000 dari hari sebelumnya.
Demikian dikutip detikcom dari situs perdagangan Logam Mulia Antam, Senin (13/7/2020).
tersebut sudah termasuk PPh 22 sebesar 0,9%. Bila ingin mendapatkan potongan pajak lebih rendah, yaitu sebesar 0,45% maka bawa NPWP saat transaksi.
Berikut rincian harga emas Antam hari ini:
Emas batangan 1 gram Rp 938.000
Emas batangan 5 gram Rp 4.470.000
Emas batangan 10 gram Rp 8.875.000
Emas batangan 25 gram Rp 22.062.000
Emas batangan 50 gram Rp 44.045.000
Emas batangan 100 gram Rp 88.012.000
Emas batangan 250 gram Rp 219.765.000
Emas batangan 500 gram Rp 440.320.000
Jumat, 10 Juli 2020
Usai Brexit, Barang-barang di Inggris akan Jadi Lebih Mahal
Industri ritel Inggris pada hari Jumat mendesak negosiator Inggris dan Eropa untuk mencapai kesepakatan perdagangan pasca-Brexit, atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Sebab tanpa kesepakatan perdagangan bebas tarif, konsumen Inggris akan menghadapi lonjakan harga tahun depan.
Melansir Reuters, Jumat (10/7/2020), industri ritel Inggris juga telah mengumumkan adanya ribuan PHK di sektor ini karena pandemi Corona. Mereka tak mampu bertahan lantaran kehilangan para pembelinya.
Oleh karena itu, industri ritel Inggris berharap bebannya bisa berkurang dengan adanya kesepakatan dagang dengan Uni Eropa.
Ancaman Krisis Mengintai, Ini Prediksi Nasib Ekonomi RI
Proyeksi ekonomi dunia yang dirilis oleh beberapa lembaga internasional ternyata membuat khawatir Presiden Joko Widodo (Jokowi). Bahkan dirinya merasa ngeri jika krisis ekonomi benar-benar terjadi.
Salah satu proyeksi yang sering disebut Jokowi berasal dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Lembaga internasional itu memprediksi ekonomi global minus 6 hingga 7,6%. Bagaimana dengan ekonomi Indonesia?
Peneliti dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Fajar B. Hirawan berharap laju ekonomi triwulan III nanti bisa lebih baik, dan masuk zona positif.
Berulang Kali Rencana RI Ubah Rp 1.000 Jadi Rp 1 Terganjal
Wacana redenominasi mulai dicetuskan pada tahun 2010, di saat Darmin Nasution masih menjabat sebagai Gubernur BI. Menurut keterangan dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, wacana redenominasi kala itu batal karena Indonesia harus menghadapi persoalan genting sehingga tak ada urgensi tinggi untuk melakukan redenominasi.
Lalu, pada tahun 2016 di saat Agus Martowardojo yang menjabat sebagai Gubernur BI, wacana redenominasi kembali digulirkan. Tepatnya pada bulan 19 Desember 2016, BI menerbitkan 11 uang rupiah desain baru, terdiri dari 7 uang kertas dan 4 uang logam. Kala itu, banyak yang bertanya, mengapa penerbitan uang desain baru ini tidak sekalian dengan redenominasi?
Menjawab hal itu, Agus mengatakan RUU redenominasi belum disetujui oleh DPR, sehingga masih harus menunggu lagi. Sayangnya, hingga jabatannya sebagai Gubernur BI berakhir pada tahun 2018, Agus tak berhasil menyukseskan redenominasi rupiah.
Langganan:
Postingan (Atom)