Selasa, 31 Maret 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Harga Emas Mulai Pulih, Analis Sarankan Akumulasi Bertahap di Tengah Volatilitas

 Solid Gold Berjangka Makassar - Setelah tertekan dalam sebulan terakhir, harga emas mulai menunjukkan pemulihan dan membuka peluang akumulasi bagi investor, terutama di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak.

Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (23/3/2026), harga emas sempat menyentuh level terendah di US$ 4.201 per ons troi. Namun, sejak titik tersebut, harga berangsur pulih.

Pada perdagangan Selasa (31/3) pukul 15.16 WIB, harga emas tercatat menguat 1,15% ke posisi US$ 4.567 per ons troi. Meski demikian, secara bulanan harga emas masih terkoreksi 14,24%.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai koreksi harga dalam sebulan terakhir justru membuka peluang akumulasi bagi investor.

Di tengah volatilitas pasar yang tinggi, ia menyarankan strategi pembelian bertahap atau Dollar Cost Averaging (DCA) dibandingkan pembelian sekaligus.

“Strategi yang paling elegan dalam kondisi volatilitas tinggi bukanlah melakukan spekulasi satu waktu (lump-sum), melainkan menerapkan metode Dollar Cost Averagingatau pembelian bertahap,” ujarnya, Selasa (31/3).

Menurut Sutopo, strategi DCA dapat membantu menurunkan rata-rata biaya perolehan sekaligus mengantisipasi potensi pembalikan arah dalam jangka panjang.

Ia menambahkan, ketidakpastian geopolitik, khususnya di Timur Tengah, berpotensi memicu lonjakan harga emas secara tiba-tiba kembali ke level tertinggi.

Pandangan serupa disampaikan Analis komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono. Ia menilai koreksi harga emas saat ini kerap menjadi momentum masuk bagi investor ritel.

Meski begitu, investor tetap perlu mencermati sejumlah sentimen utama yang memengaruhi pergerakan emas.

Faktor tersebut antara lain sikap wait and see bank sentral Amerika Serikat The Fed serta dinamika geopolitik global yang masih fluktuatif. Untuk jangka panjang, prospek emas dinilai masih menarik.

Sutopo menambahkan, bagi investor dengan tujuan lindung nilai jangka panjang lebih dari dua tahun, harga saat ini masih tergolong potensial, seiring peluang emas menguji level yang lebih tinggi pada kuartal II atau setidaknya semester kedua tahun ini.

Senin, 30 Maret 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Emas Tertekan di Tengah Ekspektasi Suku Bunga Tinggi dan Eskalasi Timur Tengah

 Solid Gold Berjangka Makassar - Harga emas turun ke kisaran US$4.512 per troy ons pada awal sesi perdagangan, meskipun eskalasi geopolitik di Timur Tengah masih berlanjut memasuki pekan kelima. Intensifikasi serangan oleh kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Israel selama akhir pekan meningkatkan risiko gangguan pada jalur perdagangan strategis di Laut Merah serta potensi ancaman terhadap infrastruktur energi utama di Arab Saudi. Di sisi lain, peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan memperkuat indikasi adanya kesiapan terhadap operasi darat jangka panjang. Namun demikian, ketidakpastian geopolitik tersebut belum mampu menopang harga emas secara signifikan dalam jangka pendek.

Secara fundamental, pelemahan didorong oleh meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi, khususnya minyak mentah yang berpotensi mempertahankan tekanan harga global. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral utama, terutama The Fed, akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka lebih lama guna menjaga stabilitas inflasi. Kenaikan yield obligasi dan penguatan dolar AS turut menjadi faktor yang menekan daya tarik emas sebagai aset non-yielding.

Memasuki kuartal II-2026, pelaku pasar cenderung wait and see menjelang rilis data inflasi utama AS, yakni Personal Consumption Expenditures (PCE) pada akhir pekan ini. Selain itu, rangkaian data penting seperti JOLTS dan Consumer Confidence pada Selasa (31/3), ADP Employment, Retail Sales, serta ISM Manufacturing PMI pada Rabu (1/4), hingga klaim pengangguran mingguan pada Kamis (2/4) akan menjadi indikator utama arah kebijakan moneter ke depan. Pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, pada Senin juga berpotensi memberikan sinyal tambahan terkait outlook suku bunga. 

Secara teknikal, level support terdekat untuk harga emas berada di kisaran $4.394 hingga $4.294, sedangkan resistance terdekat terletak di $4.574 hingga $4.654. Jika tekanan jual meningkat, support lebih dalam terlihat di $4.114, sementara resistance jangka menengah berada di area $4.834.

Jumat, 27 Maret 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Harga Emas Melemah di Tengah Penguatan Dolar AS dan Risiko Inflasi

 Solid Gold Berjangka Makassar - Harga emas turun ke kisaran US$4.388 per troy ons pada awal sesi perdagangan, tertekan oleh penguatan dolar AS serta kenaikan harga energi yang kembali memicu kekhawatiran inflasi global. Indeks dolar AS melanjutkan penguatannya, mencerminkan peningkatan permintaan terhadap aset likuid di tengah ketidakpastian geopolitik. Kondisi ini membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor non-dolar, sehingga menekan permintaan. Di sisi lain, harga minyak yang kembali meningkat memperkuat ekspektasi inflasi dan mendorong pasar untuk mempertimbangkan kembali skenario suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Dari sisi geopolitik, pelaku pasar masih mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Sinyal yang beragam dari kedua pihak menciptakan ketidakpastian arah konflik, meskipun terdapat indikasi de-eskalasi terbatas, seperti keputusan Iran untuk mengizinkan kapal “non-hostile” melintas di Selat Hormuz. Selain itu, pernyataan Presiden AS terkait penundaan serangan selama 10 hari turut memberikan ruang bagi proses diplomasi. Namun, respons Iran yang masih menolak adanya negosiasi langsung menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi di pasar.

Dari sisi makroekonomi, data terbaru menunjukkan klaim pengangguran AS meningkat tipis, mengindikasikan pasar tenaga kerja yang masih relatif solid. Hal ini memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga di level tinggi sambil memantau risiko inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga energi. Ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi lanjutan dan perkembangan negosiasi geopolitik sebagai penentu arah harga emas selanjutnya.

Secara teknikal, level support terdekat untuk harga emas berada di kisaran $4.305 hingga $4.231, sedangkan resistance terdekat terletak di $4.498 hingga $4.617. Jika tekanan jual meningkat, support lebih dalam terlihat di $4.038, sementara resistance jangka menengah berada di area $4.810.

Jumat, 13 Maret 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Emas Mendekati Terendah Harian seiring Kekuatan USD Mengimbangi Ketegangan Timur Tengah Menjelang Data PCE AS

 Solid Gold Berjangka Makassar - Emas menyerahkan sebagian besar dari kenaikan moderat dalam perdagangan harian dan turun ke ujung bawah kisaran harian selama paruh pertama sesi Eropa pada hari Jumat. Pembelian Dolar AS (USD) tetap tak terputus di tengah meningkatnya keyakinan bahwa lonjakan harga energi yang dipicu oleh perang Iran akan membangkitkan tekanan inflasi dan memaksa Federal Reserve (The Fed) untuk menunda pemangkasan suku bunga. Ini terbukti menjadi faktor kunci yang bertindak sebagai penghalang bagi logam kuning yang tidak berimbal hasil.

Sementara itu, risiko geopolitik tetap ada di tengah eskalasi lebih lanjut konflik di Timur Tengah, yang dapat membantu membatasi penurunan bagi Emas safe-haven. Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, memperingatkan dalam pernyataan publik pertamanya bahwa semua pangkalan militer AS di wilayah tersebut harus segera ditutup atau akan diserang. Khamenei lebih lanjut menambahkan bahwa serangan terhadap pangkalan AS di wilayah tersebut akan terus berlanjut, meskipun Iran percaya pada niat baik dengan tetangganya.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa menghentikan kekaisaran jahat di Iran lebih penting baginya daripada harga minyak. Faktanya, harga minyak mentah telah meningkat sejak awal perang AS-Israel terhadap Iran. Selain itu, kekhawatiran tentang gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran tentang lonjakan inflasi, yang telah memaksa investor untuk dengan cepat mengurangi taruhan pada pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve AS (The Fed) pada tahun 2026. Ini tetap mendukung imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi, yang menguntungkan para pembeli USD dan mungkin terus membatasi harga Emas menjelang Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) AS.

Data inflasi yang penting akan memainkan peran kunci dalam mempengaruhi ekspektasi pasar tentang prospek kebijakan The Fed di tengah kekhawatiran yang semakin meningkat tentang lonjakan harga konsumen yang dipicu oleh perang. Hal ini, pada gilirannya, akan mendorong permintaan USD dan memberikan dorongan yang berarti bagi harga Emas. Namun, fokus tetap pada perkembangan geopolitik. Meskipun demikian,

tampaknya siap untuk mencatatkan pelemahan untuk minggu kedua berturut-turut. Selain itu, fundamental yang beragam tersebut memerlukan kehati-hatian sebelum menempatkan taruhan arah yang agresif dan memposisikan diri untuk setiap pergerakan apresiasi lebih lanjut.

Kamis, 12 Maret 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Pelemahan Dolar dan Volatilitas Energi Dorong Penguatan Emas

 Solid Gold Berjangka Makassar - Harga emas turun ke kisaran US$5.178 per troy ons pada awal sesi perdagangan tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Penguatan dolar tersebut membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih mahal bagi investor pemegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan terhadap logam mulia tersebut.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menunda pemangkasan suku bunga di tengah potensi tekanan inflasi yang dipicu lonjakan harga energi global. Ketegangan di Timur Tengah masih terus berlangsung setelah laporan serangan Iran terhadap kapal dagang serta target militer Israel di kawasan tersebut. Risiko gangguan pasokan energi ini mempertahankan volatilitas di pasar komoditas dan pada saat yang sama menjaga permintaan terhadap aset safe haven seperti emas, sehingga membatasi penurunan harga lebih lanjut.

Dari sisi data ekonomi, indeks harga konsumen (CPI) AS tercatat meningkat 0,3% pada Februari, sejalan dengan ekspektasi pasar dan lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2% pada Januari. Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 2,4%, juga sesuai dengan perkiraan analis. Data tersebut memberikan dampak terbatas terhadap pasar emas, sementara perhatian investor kini beralih pada rilis Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dijadwalkan keluar pada Jumat sebagai indikator inflasi pilihan Federal Reserve. 

Secara teknikal, level support terdekat untuk harga emas berada di kisaran $5.142 hingga $5.109, sedangkan resistance terdekat terletak di $5.216 hingga $5.257. Jika tekanan jual meningkat, support lebih dalam terlihat di $5.035, sementara resistance jangka menengah berada di area $5.331.

Rabu, 11 Maret 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Produksi Emas Diproyeksi Meningkat, Simak Rekomendasi Saham BRMS

 Solid Gold Berjangka Makassar - PT Bumi Resources Minerals (Tbk) (BRMS) terus memacu produksi emas pada tahun 2026. Cadangan emas yang dimiliki perseroan menjadi katalis pertumbuhan kinerja jangka panjang.

Igor Putra, Analis UBS Sekuritas Indonesia menemukan bahwa BRMS berfokus pada pencapaian keunggulan operasional dengan meningkatkan produksinya untuk memenuhi target tahun 2025 – 2029. Hal itu terungkap saat UBS menjamu manajemen Bumi Resources Minerals (BRMS) dalam acara OneASEAN Summit di Singapura pada tanggal 4-5 Maret 2026.

“BRMS menyatakan aktivitas penambangan emas terus berlanjut hingga awal April 2026,” ujar Igor dalam risetnya pada 5 Maret 2026.

BRMS juga akan meningkatkan kapasitas pabrik pengolahan dari 500 ton bijih per hari menjadi 2.000 ton bijih per hari sesuai rencana dan akan selesai pada Oktober 2026. Serta kegiatan pengeboran yang sedang berlangsung di proyek tembaga Gorontalo Minerals (GM).

Penambangan emas bawah tanah dijadwalkan selesai pada pertengahan 2027. Ini memungkinkan peningkatan produksi pada semester kedua tahun 2027 mengingat kadar emas yang lebih tinggi hingga 4,9 gram per ton (g/t) dari saat ini hingga 1,5 g/t.

“BRMS juga menyatakan bahwa studi kelayakan, izin operasi, dan izin lingkungan telah diperoleh untuk aset-aset utamanya, kecuali izin produksi untuk aset Linge,” terang Igor.

Selain itu, pengumuman standar pertambangan Joint Ore Reserves Committee (JORC) akan dilakukan pada pertengahan tahun depan untuk proyek tembaga Gorontalo Minerals (GM). Indikasi dari kegiatan pengeboran saat ini menunjukkan cadangan tembaga GM mungkin memiliki ukuran yang serupa dengan Batu Hijau berukuran besar yang dimiliki oleh Amman Mineral International.

Igor menyampaikan bahwa penambangan emas bawah tanah menghadapi tantangan terbatas meskipun BRMS menyebutkan Palu (wilayah tempat penambangan bawah tanah berlangsung) memiliki salah satu tingkat curah hujan terendah di Indonesia. BRMS terbuka untuk ekspansi non-organik di pasar onshore (daratan) dan offshore (lepas pantai/laut).

“Kami yakin BRMS berada di jalur yang tepat untuk mencapai target peningkatan produksi dari 70.000 – 75.000 ons troi (koz) pada tahun 2025 menjadi 80 koz pada tahun 2026,” jelas Igor.

Devi Harjoto, Analis OCBC Sekuritas melihat pengembangan tambang Citra Palu Minerals (CPM) Underground dan Gorontalo Minerals (GM) siap menjadi mesin pertumbuhan BRMS. Diperkirakan pendapatan BRMS akan didorong terutama oleh tambang emas CPM, dengan laba bersih CPM diproyeksikan mencapai US$ 102,5 juta pada tahun 2026 (naik 94,8% year on year/yoy). Proyek tambang terbuka GM diharapkan dapat memperluas eksposur komoditas BRMS melalui komoditas tembaganya, selain sumber daya emasnya.

“Untuk memajukan optimasi bawah tanah CPM dan pengembangan GM, BRMS berencana mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar US$ 150 juta pada tahun 2026 – 2027, di atas US$ 100 juta untuk tahun 2025,” jelas Devi dalam risetnya pada 24 Desember 2025.

Seiring dengan peningkatan kontribusi tambang bawah tanah, Devi memperkirakan produksi emas akan meningkat menjadi 161.000 ons per ton pada tahun 2028. Peningkatan output dan campuran bijih dengan kadar tinggi juga diharapkan dapat meningkatkan unit ekonomi, menurunkan biaya tunai, dan meningkatkan profitabilitas. Berdasarkan hal ini, Devi memperkirakan EBITDA dan laba bersih BRMS akan mencapai US$ 331,3 juta dan US$ 232,5 juta pada tahun 2028.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, prospek kinerja BRMS di awal 2026 tergolong menarik dan berpeluang melanjutkan tren positif. Katalis utamanya adalah rencana peningkatan volume produksi dari tambang Poboya yang dikelola oleh anak usahanya, PT Citra Palu Minerals (CPM).

"Peningkatan volume ini dapat meningkatkan kapasitas produksi BRMS menjadi lebih menguntungkan," ujar Azis kepada Kontan, Selasa (10/3/2026).

Azis menambahkan, belakangan ini terdapat sentimen terkait isu tata kelola yang menerpa anak usahanya, CPM. Hal ini cukup menguji persepsi risiko dari para investor terhadap stabilitas operasional perusahaan. BRMS juga harus fokus untuk menuntaskan proyeknya secara tepat waktu sembari konsisten menerapkan disiplin pengendalian biaya.

Secara makro, Azis melihat sentimen utama yang perlu dicermati adalah tren pergerakan harga emas global. Tingginya eskalasi tensi geopolitik serta berlanjutnya aksi akumulasi cadangan emas oleh berbagai bank sentral dunia menjadi katalis kuat yang terus menopang harga emas. Mengingat operasional BRMS saat ini sangat berfokus pada segmen emas, sentimen makro ini menjadi tailwind bagi perusahaan.

Azis menyebut penguatan harga emas akan berdampak sangat positif dan langsung bertranslasi pada peningkatan profitabilitas BRMS.

"Mengingat mayoritas postur pendapatan perusahaan bersumber dari penjualan emas, setiap kenaikan harga jual rata-rata komoditas ini secara otomatis akan memperlebar margin laba kotor maupun margin laba bersih perusahaan," jelas Azis.

Igor memproyeksi pendapatan dan laba bersih tahun 2026 masing – masing US$ 379 juta dan US$ 127 juta. Tahun 2025, pendapatan dan laba bersih diperkirakan mencapai US$ 238 juta dan US$ 51 juta. Adapun tahun 2024, BRMS mengantongi pendapatan US$ 162 juta dan laba bersih US$ 24 juta.

Igor merekomendasikan netral saham BRMS dengan target harga Rp 1.200 per saham. Devi merekomendasikan Buy saham BRMS dengan target harga Rp 1.300 per saham. Sementara Azis merekomendasikan trading buy saham BRMS dengan target Rp 965 per saham.

Selasa, 10 Maret 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Prakiraan Harga Perak: XAG/USD Menargetkan Kenaikan Lebih Lanjut di Atas $90,00; 100-SMA Memegang Kunci

 Solid Gold Berjangka Makassar - Perak menarik pembeli untuk 3 hari berturut-turut dan naik ke level tertinggi lebih dari satu minggu, di sekitar level psikologis 90,00, selama paruh pertama aksi perdagangan pada hari Selasa. Selain itu, pengaturan teknis yang mendukung memperkuat kasus untuk pergerakan naik lebih lanjut dalam jangka pendek.

Penembusan semalam melalui Exponential Moving Average (EMA) 100-jam dianggap sebagai pemicu utama bagi para pembeli

XAGUSD

dan menjaga tren naik jangka pendek tetap utuh meskipun ada pullback terbaru. Selain itu, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) melonggar tetapi tetap berada di wilayah positif, menunjukkan momentum naik yang memudar namun masih positif setelah langkah impulsif lebih tinggi sebelumnya.

Selain itu, Relative Strength Index (RSI) mendingin dari pembacaan jenuh beli di atas 70 dan stabil di pertengahan 60-an, menunjukkan bahwa tekanan bullish tetap ada meskipun traksi naik segera moderat. Pergerakan yang berkelanjutan dan penerimaan di atas level psikologis $90,00 akan menegaskan prospek konstruktif dan membuka peluang untuk kenaikan lebih lanjut menuju pengujian ulang swing high bulanan, di sekitar area $96,60-$96,65.

Di sisi bawah, support awal terletak di $88,10, dengan penembusan lebih rendah mengekspos area penembusan sebelumnya di $87,50, diikuti oleh support yang lebih kuat di sekitar zona $86,50 di mana konsolidasi terbaru dimulai. Penurunan yang lebih dalam akan membawa EMA 100-jam di dekat $85,15 ke fokus sebagai pertahanan utama untuk struktur bullish yang lebih luas.

Senin, 09 Maret 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Emas Berjuang di Bawah $5.100 Saat USD Bullish Menghadapi Meningkatnya Ketegangan Timur Tengah

 Solid Gold Berjangka Makassar - Emas tergelincir di bawah level $5.100 selama awal sesi Eropa, meskipun berhasil bertahan di atas terendah empat hari yang disentuh sebelumnya pada hari Senin ini. Para investor tetap khawatir tentang dampak konflik Timur Tengah yang berkepanjangan terhadap harga Minyak Mentah dan ekonomi global, yang membantu logam mulia safe haven ini menarik beberapa aksi beli intraday menjelang level psikologis $5.000.

Kampanye bersama AS-Israel melawan Iran memasuki hari kesepuluh pada hari Senin, tanpa tanda-tanda akhir permusuhan. Selain itu, Iran menunjuk putra Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru, menandakan bahwa para garis keras tetap berkuasa. Hal ini meningkatkan risiko eskalasi ketegangan lebih lanjut karena langkah ini tidak mungkin disambut baik oleh Presiden AS Donald Trump, yang telah menyatakan putra tersebut "tidak dapat diterima".

Sementara itu, penutupan Selat Hormuz – jalur pengiriman vital untuk minyak dan gas – memicu kekhawatiran tentang guncangan energi, yang dapat mengganggu aktivitas ekonomi global. Hal ini semakin mengurangi selera para investor terhadap aset-aset yang lebih berisiko, yang terlihat dari lautan merah di pasar ekuitas global, dan memberikan dukungan tambahan bagi Emas.

Sementara itu, lonjakan intraday lebih dari 25% dalam harga Minyak Mentah memicu kekhawatiran inflasi dan semakin meredupkan prospek untuk penurunan suku bunga jangka pendek oleh Federal Reserve AS (The Fed), mengimbangi laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS yang mengecewakan pada hari Jumat. Hal ini, pada gilirannya, mengangkat Dolar AS (USD) ke level tertinggi baru sejak November 2025 dan membatasi pemulihan lebih lanjut untuk Emas yang tidak memberikan imbal hasil, menyarankan kehati-hatian bagi para pedagang bullish.

Para penjual Emas menunggu penerimaan di bawah support kunci 200-EMA pada H4 sebelum memasang taruhan baru

Bias jangka pendek adalah netral dengan sedikit kecenderungan ke bawah, saat harga Emas berosilasi di atas Exponential Moving Average (EMA) 200 periode yang miring ke atas pada grafik 4 jam, menunjukkan bahwa tren naik yang lebih luas tetap utuh tetapi momentum telah mendingin. Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) sedikit meluncur di bawah garis sinyalnya di sekitar level nol dan histogram telah berbalik sedikit negatif, mengindkasikan tekanan bullish memudar daripada rezim bearish yang nyata. Relative Strength Index di 43 melayang di bawah garis tengah 50, sejalan dengan sentimen konsolidasi setelah pullback baru-baru ini dari puncak bulan ini.

Support terdekat muncul di wilayah $5.060, menjaga area yang lebih penting di $5.000 di mana EMA 200 periode berkonvergensi dengan terendah reaksi terbaru, dan penembusan di bawah zona ini akan membuka jalan menuju $4.960. Di sisi atas, resistance awal terletak di sekitar $5.140, swing high terbaru sebelum pergeseran saat ini ke bawah, diikuti oleh $5.180 sebagai penghalang berikutnya untuk mengembalikan profil bullish yang lebih meyakinkan. Pergerakan berkelanjutan di atas $5.180 akan menetralkan bias sisi bawah saat ini dan mengekspos area $5.230, sementara kegagalan untuk bertahan di atas $5.000 akan mengalihkan fokus menuju fase korektif yang lebih dalam.

(Analisis teknis dalam berita ini ditulis dengan bantuan alat AI.)

Pertanyaan Umum Seputar The Fed

Apa yang Dilakukan Federal Reserve, Bagaimana Dampaknya terhadap Dolar AS?

Kebijakan moneter di AS dibentuk oleh Federal Reserve (The Fed). The Fed memiliki dua mandat: mencapai stabilitas harga dan mendorong lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menyesuaikan suku bunga. Ketika harga naik terlalu cepat dan inflasi berada di atas target The Fed sebesar 2%, Bank sentral ini menaikkan suku bunga, meningkatkan biaya pinjaman di seluruh perekonomian. Hal ini menghasilkan Dolar AS (USD) yang lebih kuat karena menjadikan AS tempat yang lebih menarik bagi para investor internasional untuk menyimpan uang mereka. Ketika inflasi turun di bawah 2% atau Tingkat Pengangguran terlalu tinggi, The Fed dapat menurunkan suku bunga untuk mendorong pinjaman, yang membebani Greenback.

Seberapa Sering The Fed Mengadakan Pertemuan Kebijakan Moneter?

Federal Reserve (The Fed) mengadakan delapan pertemuan kebijakan setahun, di mana Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) menilai kondisi ekonomi dan membuat keputusan kebijakan moneter. FOMC dihadiri oleh dua belas pejabat The Fed – tujuh anggota Dewan Gubernur, presiden Federal Reserve Bank of New York, dan empat dari sebelas presiden Reserve Bank regional yang tersisa, yang menjabat selama satu tahun secara bergilir.

Apa itu Quantitative Easing (QE) dan Bagaimana Pengaruhnya terhadap USD?

Dalam situasi ekstrem, Federal Reserve dapat menggunakan kebijakan yang disebut Pelonggaran Kuantitatif (QE). QE adalah proses yang dilakukan The Fed untuk meningkatkan aliran kredit secara substansial dalam sistem keuangan yang macet. Ini adalah langkah kebijakan non-standar yang digunakan selama krisis atau ketika inflasi sangat rendah. Ini adalah senjata pilihan The Fed selama Krisis Keuangan Besar pada tahun 2008. Hal ini melibatkan The Fed yang mencetak lebih banyak Dolar dan menggunakannya untuk membeli obligasi berperingkat tinggi dari lembaga keuangan. QE biasanya melemahkan Dolar AS.

Apa itu Pengetatan Kuantitatif (QT) dan Bagaimana Dampaknya terhadap Dolar AS?

Pengetatan kuantitatif (QT) adalah proses kebalikan dari QE, di mana Federal Reserve berhenti membeli obligasi dari lembaga keuangan dan tidak menginvestasikan kembali pokok dari obligasi yang dimilikinya yang jatuh tempo, untuk membeli obligasi baru. Hal ini biasanya berdampak positif terhadap nilai Dolar AS.

Jumat, 06 Maret 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Emas Tetap Menguat saat Dolar AS Pertahankan Pelemahan Meskipun Nada Hati-Hati The Fed

 Solid Gold Berjangka Makassar - Harga Emas memulihkan pelemahan terbarunya dari sesi sebelumnya pada hari Jumat. Logam kuning ini menguat seiring dengan rebound pasar logam mulia yang lebih luas karena permintaan safe-haven. Namun, logam kuning ini berada di jalur menuju penurunan mingguan pertamanya dalam lima minggu karena ketegangan yang meningkat di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi, memicu kekhawatiran inflasi dan mengurangi spekulasi penurunan suku bunga Federal Reserve.

Emas dalam denominasi Dolar mempertahankan kenaikan saat Dolar AS (USD) tetap tertekan setelah mencatat kenaikan kecil di sesi sebelumnya. Namun, Greenback mungkin mendapatkan kembali kekuatannya saat pejabat Federal Reserve (Fed) terus mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut jika inflasi tetap di atas target. Perlu dicatat bahwa Dolar AS yang lebih lemah membuat logam mulia menjadi lebih murah bagi pembeli dengan mata uang asing, meningkatkan permintaan.

Konflik AS-Israel dengan Iran memasuki hari ketujuh, dengan Iran meluncurkan rudal dan drone di seluruh Teluk pada hari Kamis, menyerang sebuah kilang minyak di Bahrain, sementara Israel melanjutkan serangan udara di Teheran, dan AS menangguhkan operasi di kedutaannya di Kuwait.

Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa para pejabat Iran menghubunginya dalam upaya untuk mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang, tetapi ia bersikeras bahwa sudah terlambat dan bahwa AS berusaha untuk menghancurkan Iran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan Teheran tidak mencari gencatan senjata dan tidak berniat untuk bernegosiasi, sementara Korps Pengawal Revolusi Islam Iran memperingatkan bahwa serangan balasan akan meningkat dalam beberapa hari mendatang.

Para pedagang menunggu data tenaga kerja AS, termasuk Nonfarm Payrolls (NFP) AS, di mana ekspektasi konsensus sekitar 59 ribu untuk bulan Februari, setelah angka di atas tren pada bulan Januari sebesar 130 ribu. Selain itu, Penjualan Ritel diprakirakan turun 0,3% bulan-ke-bulan di bulan Januari, setelah datar di bulan sebelumnya.

AS juga akan memperkenalkan tarif global temporer sebesar 15% minggu ini, menggantikan tarif 10% yang diberlakukan setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan sebagian besar tarif yang diberlakukan oleh Donald Trump sebelumnya. Scott Bessent mengatakan tarif tersebut bisa kembali ke level-level sebelumnya dalam waktu lima bulan saat penyelidikan perdagangan baru berjalan.

Emas Mempertahankan Kenaikan Di Atas $5.100 Di Tengah Bias Bullish

Harga emas diperdagangkan di sekitar $5.110 pada saat berita ini ditulis. Analisis teknis grafik harian menunjukkan bias bullish yang sedang berlangsung karena harga logam tetap berada dalam pola ascending channel.

Bias jangka pendek sedikit bullish karena harga bertahan di atas Exponential Moving Average (EMA) 50 hari yang miring ke atas dan terus menghormati kumpulan tertinggi terbaru daripada melanjutkan koreksi sebelumnya. EMA sembilan hari mendatar tepat di atas harga spot, mengindikasikan momentum jangka pendek moderat tetapi masih bearish. Selain itu, Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 53 tetap di atas garis tengahnya, menunjukkan tekanan beli yang mendasari tetap utuh.

sedang menguji penghalang segera di EMA sembilan hari di $5.134. Penembusan di atas rata-rata jangka pendek dan mendukung pasangan aset ini untuk mendekati batas atas saluran ascending di $5.480, diikuti oleh tertinggi sepanjang masa di $5.598, yang dicapai pada 29 Januari. Di sisi bawah, support awal terletak di batas bawah saluran di $5.080. Penembusan di bawah saluran akan mengekspos EMA 50-hari di $4.883.

Kamis, 05 Maret 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Harga Emas Terus Menguat, Perang Timur Tengah Dorong Perburuan Safe Haven

 Solid Gold Berjangka Makassar - Harga emas kembali melanjutkan tren kenaikan di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.

Perang udara yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran meluasnya konflik menjadi perang regional berkepanjangan, sehingga mendorong investor memburu aset aman.

Mengutip laporan Reuters, Selasa (3/3/2026), harga emas spot naik 1% ke level US$ 5.377,21 per ons pada pukul 01.22 Waktu setempat.

Kenaikan ini menandai penguatan untuk sesi kelima berturut-turut. Pada sesi sebelumnya, harga emas batangan sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari empat minggu setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir pekan.

Sejalan dengan itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April naik 1,5% ke US$5.391,90 per ons.

Kepala analis pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai ketidakpastian konflik menjadi faktor utama lonjakan permintaan emas. “Lingkup dan durasi konflik tetap sangat tidak pasti, dan dengan ketidakpastian tersebut, emas merebut sebagian besar permintaan aset aman,” ujarnya.

Situasi semakin memanas setelah media Iran melaporkan pernyataan pejabat senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Senin yang menyebut Selat Hormuz telah ditutup.

Iran juga memperingatkan akan menembak kapal mana pun yang mencoba melintas di jalur strategis tersebut.

Peringatan ini disebut sebagai yang paling eksplisit sejak Iran menyampaikan penutupan jalur ekspor pada Sabtu. Langkah tersebut berpotensi menghambat sekitar seperlima aliran minyak global dan telah mendorong lonjakan tajam harga minyak mentah.

Di sisi lain, dolar AS bertahan di dekat level tertinggi lebih dari lima minggu yang dicapai pada Senin, didukung permintaan kuat dan sikap pasar yang cenderung berhati-hati.

Meski penguatan dolar biasanya menekan emas karena membuatnya lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, kondisi krisis mengubah pola tersebut.

Dalam situasi ketidakpastian tinggi, investor kerap memborong dolar AS dan emas sekaligus sebagai aset lindung nilai. Waterer menambahkan, harga emas berpotensi bergerak lebih tinggi jika tidak tertahan oleh penguatan dolar.

"Kekhawatiran inflasi kini menjadi fokus utama, mengingat arah harga minyak dan berkurangnya volume pengiriman melalui Selat Hormuz," katanya.

Sementara itu, Donald Trump menyatakan akan melanjutkan konflik selama diperlukan dan memperingatkan akan adanya gelombang besar serangan lanjutan dalam waktu dekat, meski tanpa rincian spesifik.

Serangan terhadap Iran telah menyeret kawasan Teluk ke dalam perang, menewaskan puluhan warga sipil di Iran, Israel, dan Lebanon. Konflik ini juga memicu kekacauan transportasi udara global serta menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz.

Selain emas, harga logam mulia lain turut menguat. Harga perak spot naik 1,4% menjadi US$90,67 per ons setelah sebelumnya mencapai level tertinggi lebih dari empat minggu.

Harga platinum spot naik 0,6% ke US$2.316,50 per ons, sementara paladium melonjak 1,6% menjadi US$1.795,08 per ons.

Rabu, 04 Maret 2026

Isyarat Pemangkasan Tajam Produksi Irak Turut Angkat Harga Minyak

 Solid Gold Berjangka Makassar - Harga minyak pagi ini terpantau bergerak bullish mencapai level tertinggi sejak akhir Januari 2025, yang pemicunya masih datang dari eskalasi konflik AS dengan Iran yang telah berdampak pada gangguan pasokan energi secara global. Meski demikian, aktivitas pabrik di China yang melesu, dan laporan stok API menjadi katalis yang membatasi kenaikan harga lebih lanjut.

Produsen terbesar kedua OPEC, Irak, pada hari Selasa mengatakan akan terpaksa melakukan pemangkasan produksi minyak lebih dari tiga juta barel dalam beberapa hari jika gangguan ekspor minyak melalui Selat Hormuz masih terus berlanjut. Sumber pejabat mengatakan Irak saat ini telah memangkas produksi hampir 1,5 juta bph, sekitar setengah dari produksinya, karena keterbatasan penyimpanan dan kurangnya jalur ekspor.

Sinyal eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang terus meningkat, berpotensi mengancam pasokan lebih lanjut, terutama yang melalui jalur Selat Hormuz. Presiden Donald Trump pada hari Selasa mengumumkan akan menawarkan asuransi kepada kapal-kapal tanker yang akan melalui Selat Hormuz, bahkan jika diperlukan akan dikawal oleh militer AS.

Duta Besar Iran untuk PBB di Jenewa pada hari Selasa menolak kemungkinan bernegosiasi dengan AS untuk saat ini, tiga hari setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap negaranya. Pernyataan tersebut meredupkan harapan akan potensi gencatan senjata antara AS dan Israel dengan Iran dalam waktu dekat.

Sementara itu, aktivitas pabrik di China mengalami kontraksi untuk bulan kedua berturut-turut pada Februari, menurut survei resmi yang dirilis pada hari Rabu. PMI bulan Februari turun menjadi 49,0 dari 49,3 pada bulan Januari, yang sekaligus merupakan level terendah dalam 4 bulan. Hasil survei tersebut mengindikasikan perlunya stimulus kebijakan karena ekonomi yang melesu di negara importir minyak terbesar pertama dunia itu.

Dari sisi pasokan, persediaan minyak mentah AS mengalami peningkatan sebesar 5,6 juta barel pada pekan yang berakhir 20 Februari, ungkap laporan stok terbaru versi grup industri API, yang sekaligus mengindikasikan permintaan yang lesu di pasar minyak AS. Meski demikian, pelaku masih menantikan laporan stok resmi versi pemerintah yang akan dirilis Rabu malam oleh EIA.

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $78 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $73 per barel.

Senin, 02 Maret 2026

Solid Gold Berjangka Makassar | Rally Minyak, Emas, dan USD saat AS dan Israel Menyerang Iran

 Solid Gold Berjangka Makassar - Arus safe-haven mendominasi aksi di pasar keuangan untuk memulai minggu setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melakukan serangan terkoordinasi terhadap Iran selama akhir pekan. Kalender ekonomi AS akan menampilkan data Indeks Manajer Pembelian (IMP) Manufaktur dari Institute for Supply Management (ISM) untuk bulan Februari nanti hari ini, tetapi para investor akan tetap fokus pada berita yang datang dari Timur Tengah.

Iran telah membalas dan menargetkan aset-aset AS di seluruh Teluk setelah serangan bersama AS dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan hingga 40 pejabat tinggi Iran. Hezbollah juga mengumumkan bahwa mereka meluncurkan serangan terhadap situs pertahanan rudal Israel sebagai respons terhadap pembunuhan Pemimpin Tertinggi. Menurut NBC News, tiga anggota layanan AS telah tewas dalam aksi. Sementara itu, BBC News melaporkan bahwa serangan Iran di sekitar wilayah tersebut terus berlanjut pada awal hari Senin, dengan ledakan dilaporkan di Bahrain dan Dubai, serta asap terlihat dekat kedutaan AS di Kuwait. "Pada hari Minggu, serangan rudal Iran menewaskan sembilan orang di kota Israel Beit Shemesh," catat outlet tersebut.

Berita terkait

Imbal Hasil Obligasi AS Menguat di Tengah Meningkatnya Kekhawatiran Terhadap Kenaikan Harga Minyak, Inflasi

Kontrak Berjangka S&P 500 Jatuh Lebih dari 1% Menyusul Serangan AS-Israel ke Iran

Presiden AS Trump Soal Iran: Operasi Militer akan Terus Berlanjut Hingga Semua Tujuan Tercapai

Harga minyak mentah naik tajam pada awal hari Senin setelah Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz. Barelnya West Texas Intermediate (WTI) dibuka dengan gap bullish yang besar dan mencapai level tertinggi sejak bulan Juni di atas $75 sebelum mengoreksi lebih rendah. Pada saat berita ini ditulis, WTI diperdagangkan sedikit di atas $72,00, naik lebih dari 7% secara harian.

Emas memanfaatkan arus safe-haven dan naik lebih dari 2% pada hari ini, diperdagangkan di level tertinggi bulanan baru di atas $5.400.

Dolar AS (USD) diuntungkan dari penghindaran risiko pada awal hari Senin dan mengumpulkan kekuatan terhadap rival-rivalnya. Indeks USD terakhir terlihat berfluktuasi di sekitar 98,35, naik sekitar 0,75% pada hari ini. Sementara itu, kontrak berjangka indeks saham AS turun antara 1,3% dan 1,8% di sesi Eropa awal.

Meski ada kekuatan USD yang luas, USDCAD tetap relatif tenang di dekat 1,3650 karena harga minyak mentah yang meningkat mendukung Dolar Kanada.

EURUSD tetap berada di bawah tekanan bearish dan diperdagangkan di level terendahnya dalam hampir lima minggu di sekitar 1,1720, kehilangan 0,8% secara harian.

GBPUSD terus menekan lebih rendah setelah dibuka dengan gap bearish dan kehilangan hampir 1% pada hari ini di sekitar 1,3360.

USDJPY mendapatkan traksi untuk memulai minggu dan maju menuju 157,00, naik lebih dari 0,5% pada hari ini.

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Apa Arti Istilah "Risk-on" dan "Risk-off" saat Merujuk pada Sentimen di Pasar Keuangan?

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Aset-Aset Utama Apa yang Harus Dilacak untuk Memahami Dinamika Sentimen Risiko?

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Mata Uang Mana yang Menguat Saat Sentimen "berisiko"?

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Mata Uang Mana yang Menguat Saat Sentimen "Risk-Off"?

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.